Kejanggalan Dugaan Penyelundupan Senjata Versi Mantan Anak Buah Mayjen Soenarko Kolega dan kuasa hukum eks Danjen Kopassus Mayjen TNI (Purn) Soenarko dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (Antaranews/Rangga)

MerahPutih.com - Kolonel Infantri (Purn) Sri Radjasa Chandra membantah tudingan Menko Polhukam Wiranto, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko dan Kapolri Tito Karnavian soal penyelundupan senjata yang diduga dilakukan oleh eks Danjen Kopassus Mayor Jenderal TNI (Purn) Soenarko.

"Ada yang janggal dari tuduhan yang dialami Pak Narko, saya marah karena saya tahu fakta-fakta yang menyangkut senjata tersebut," kata Sri Radjasa dalam jumpa pers di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (31/5).

Sri Radjasa yang merupakan anak buah Soenarko atau Mantan Perwira Pembantu Madya (Pabandya) bidang Pengamanan Komando Daerah Militer Iskandar Muda itu menjelaskan seluk beluk senjata saat ia dan Soenarko bertugas.

BACA JUGA: Advokat Senopati 08 Bantah Eks Danjen Kopassus Selundupkan Senjata

Menurut Sri Radjasa pada era awal kesepakatan damai di Aceh, masyarakat diimbau untuk penertiban senjata. Kala itu ada sekitar 900 pucuk senjata yang beredar di masyarakat.

"Bahkan melibatkan masyarakat termasuk mantan kombatan, termasuk Mantan Panglima GAM Muzakir Manaf terlibat membantu untuk menertibkan senjata," ujar dia.

Kegiatan itu, kata Sri Radjasa, mampu membangun kesadaran masyarakat untuk menyerahkan senjata secara sukarela.

"Pada tahun 2009, Sintel Kodam IM menerima penyerahan tiga pucuk senjata laras panjang secara sukarela dari masyarakat di aceh utara dan kebetulan tiga pucul diserahkan kepada saya di antaranya dua pucuk AK47 dan satu pucuk senjata M-16 A1 laras pendek," ungkapnya.

Dari masyarakat Aceh Utara, Radjasa mengatakan pihaknya menerima tiga pucuk senjata, dua pucuk berjenis AKA 47 dan satu pucuk M16 A1 yang kemudian diduga pihak kepolisian diselundupkan oleh Soenarko.

Temuan tersebut dikatakan Radjasa dilaporkan ke Pangdam Iskandar Muda yang ketika itu dijabat oleh Soenarko.

ilustrai. (pixabay)

Ketika itu, Rajasa mengatakan mendapat arahan dari Soenarko bahwa dua pucuk dimasukan ke gudang, satu pucuk yakni M16 disimpan di kantor Sintel untuk di serahkan ke Museum Kopassus.

"(Dari arahan) ini jelas bahwa Pak Narko tidak menginginkan senjata itu seperti yang dikatakan oleh Pak Wiranto, Moeldoko, dan Tito yang kemudian senjata di modifikasi dibagian popor dan penutup laras serta teropong bidik," kata Radjasa.

Dari modifikasi yang dipertontonkan Kapolri Tito Karnavian saat gelar barang bukti, Radjasa mengatakan bahwa senjata tersebut hanya bisa digunakan untuk jarak dekat.

Sri Radjasa melanjutkan ceritanya, pada 2018 di akhir masa tugasnya di Aceh, ia diminta Soenarko mengirim satu pucuk senjata itu ke Jakarta. Hanya saja, Sri Radjasa tidak sempat melaksanakan perintah itu karena sudah pindah ke Jakarta terlebih dahulu.

"Kemudian tahun 2018 ketika saya berakhir masa penugasan di sana Pak Narko sempat memerintahkan kepada saya agar mengirim senjata tersebut ke Jakarta. Kebetulan saya sudah pindah ke jakarta tidak sempat perintah itu saya kerjakan," jelasnya.

Lebih lanjut, dikatakan Sri Radjasa bahwa perintah mengirim senjata itu disampaikan kepada Heriansyah (orang kepercayaan Soenarko). Namun, sebelum mengirim senjata itu dilaporkan terlebih dahulu ke Kepala Staf Kodam (Kasdam) Iskandar Muda, Brigjen Daniel agar diberikan surat pengantar.

BACA JUGA: Wiranto Benarkan Mantan Danjen Kopassus Jadi Tersangka Kepemilikan Senjata Ilegal

"Perintah untuk mengirim senjata ke jakarta juga disampaikan kepada saudara Heri dari Sipil, yang sehari-hari membantu pak Narko di sana. Dengan catatan pak Narko mengatakan bahwa ketika mengirim senjata ke Jakarta tolong dilaporkan ke Kasdam IM Brigjen Daniel agar mendapat surat pengantar," ujarnya.

"Kemudian yang jadi aneh pada tanggal 15 Mei 2019 senjata M 16 dikirim ke jakarta. Pengirimannya dengan menggunakan prosedur standar melalui Garuda dari Aceh jam 16.30 WIB dengan dilengkapi surat pengantar dari Brigjen purnawirawan Sunari, beliau ini penugasan di Aceh dari BIN. Namun setiba di Bandara Soekarno-Hatta, muncul persoalan, karena surat pengantar tersebut diakui oleh Pak Sunari palsu. Kemudian pengirim yang membawa senjata itu dari Kodam menyatakan tidak pernah membawa senjata tersebut," pungkasnya. (Pon)


Tags Artikel Ini

Angga Yudha Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH