Kejadian Unik Penyelenggaran Festival Film Indonesia Masa Silam Sejumlah kontroversi terjadi seputar FFI di masa lalu. (Foto: Festival Film Indonesia)

SELAMA lebih dari enam dekade, Festival Film Indonesia (FFI) telah mengalami pasang surut. Di balik gemerlapnya penyelenggaraan FFI di Hari Pahlawan, tersimpan sejumlah kenangan tersisa sebagai sejarah.

Baca juga:

Usaha Usmar Ismail Menangkap Kekikukan Kehidupan Bekas Pejuang Setelah Kemerdekaan

Dalam gelaran ke-41, Reza Rahadian selaku Ketua Komite Festival Film Indonesia 2021-2023 mengumumkan tema berkait sejarah film dan Media Baru "Beralih Masa, Bertukar Rasa Film Indonesia".

"Sejarah film Indonesia merupakan perjalanan karya perlu diingat," jelasnya pada konferensi pers virtual FFI. Penonton tak sabar menantikan pengumuman para pemenang. Namun, sebelum menantikan pemenang, berikut beberapa kejadian kontrovesial FFI sepanjang sejarah.

1. Dua juara dalam satu kategori (1955)

FFI 2021
Ada dua film yang menang dalam kategori Film Terbaik. (Foto: Instagram@festivalfilmid)

Setelah gagal bersaing di festival luar negeri, Usmar Ismail dan kawannya, Djamaluddin Malik memutuskan membuat festival film di dalam negeri.

Festival Film Indonesia digelar pada 30 Maret sampai 5 April 1955, diadakan di Rumah Dinas Wali Kota Jakarta Raya. Uniknya, kalau biasanya pemenang setiap kategori hanya satu, tidak demikian dengan pergelaran kali perdana tersebut.

Pro dan kontra terjadi ketika pengumuman pemenang dibacakan. Berdasarkan informasi dari Instagram resmi FFI, piala Film Terbaik saat itu dimenangkan Lewat Djam Malam garapan Usmar Ismail dan Tarmina milik Lilik Sudjio. Begitu pula dengan kategori Pemeran Utama Pria Terbaik dan Pemeran Utama Wanita Terbaik. Semuanya ada dua dari dua film sama.

Dominasi kemenangan tersebut berbuntut pada spekulasi penonton terhadap penggagasnya. Tudingan kemenangan tersebut semata-mata demi menyenangkan hati Djamaludin Malik sebagai penggagas dan pemberi dana sempat menyeruak.

2. Tidak ada film terbaik (1967 & 1977)

FFI 2021
FFI sempat tak punya juara Film Terbaik pada 1967. (Foto: IMDb)

Kalau di awal ada dua pemenang untuk kategori Film Terbaik, justru kasus berbeda terjadi di malam puncak FFI 1967. Peserta dan penonton dibuat kaget ketika dewan juri mengumumkan tidak ada nama untuk piala Film Terbaik.

Baca juga:

Cerita di Balik Kelahiran Festival Film Indonesia

Hal sama kembali berulang pada pergelaran 1977. Keputusan itu tentunya mengecewakan banyak pihak karena sebenarnya ada film dianggap pantas mendapatkannya. Misalnya saja Si Doel Anak Modern garapan Sjuman Djaya.

3. Beberapa kali rehat (1956-1959. 1961-1966, 1993-2203)

FFI 2021
FFI sempat berkali-kali rehat karena industri perfilman Indonesia mengalami mati suri. (Foto: Instagram@festivalfilmid)

Meski sudah berjalan selama 66 tahun, tak selamanya Festival Film Indonesia bisa berjalan saban tahun. Buktinya, penyelenggaran tahun ini baru menginjak kali ke-41. Alasannya karena FFI pernah vakum. Perhelatan ini memang sangat bergantung dengan kondisi produksi film nasional juga situasi politik tanah air.

Kala itu, industri film Indonesia mendapat saingan film impor. Baik dari Hollywood, Malaysia, India, maupun Tiongkok. Penggiat sempat meminta pemerintah membatasi serbuan film impor, namun masalah berlarut-larut membuat FFI absen selama empat tahun dan digelar kembali pada 1960. Kemudian sempat hilang lagi dan muncul pada 1967.

Setelahnya sejak 1973-1992 Festival Film Indonesia diadakan tiap tahun. Namun, harus berhenti lagi karena industri film Indonesia mengalami mati suri. Produksi film tanah air makin menurun, sementara gempuran film impor meningkat tajam. Minat masyarakat untuk menonton film Indonesia juga menurun dratis karena selama beberapa tahun, genre film Indonesia berisi dengan laga, mistis, atau erotis sehingga membuat penonton jengah.

Dilansir dari Tesis Eka Nada Shofa Alkhajar berjudul "Masa-Masa Suram Dunia Perfilman Indonesia (Studi Periode 1957-1968 dan 1992-2000", film Indonesia semakin melayu akibat kehadiran teknologi VCD dan DVD. Belum lagi ditambah dengan menjamurnya sinetron dari TV swasta sehingga membuat masyarakat oleng. Hasilnya, tak ada pemberian piala dari tahun 1993 hingga 2004. (Sam)

Baca juga:

Mengenal Empat Tokoh Disematkan di Penghargaan Baru Festival Film Indonesia 2021

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Pandemi Bukan Halangan untuk Lakukan Tradisi Imlek
Tradisi
Pandemi Bukan Halangan untuk Lakukan Tradisi Imlek

Terasa sulit, tapi diajak untuk beradaptasi.

Kemenparekraf Gandeng ‘Ride Hailing’ untuk Pulihkan Wisata Bali
Travel
Kemenparekraf Gandeng ‘Ride Hailing’ untuk Pulihkan Wisata Bali

Ride hailing diharapkan dapat membantu UMKM dari wisata Bali.

Aroma Kayu Manis yang Menambah Selera
Kuliner
Aroma Kayu Manis yang Menambah Selera

Dengan tambahan kayu manis, seluruh ruangan akan berbau seperti roti dan kue.

Pedes euy! Kuliner Pedas Khas Bandung
Kuliner
Pedes euy! Kuliner Pedas Khas Bandung

Kalau enggak pedas memang kurang nikmat.

Orang Indonesia Ajarkan Warga Inggris Buat Lemper di Rice and Spice Festival
Kuliner
Orang Indonesia Ajarkan Warga Inggris Buat Lemper di Rice and Spice Festival

Lemper mencuri perhatian di Rice and Spice Festival.

Kerokan, Solusi Mujarab 'Masuk Angin' Orang Indonesia Sehabis Pelesiran
Tradisi
Kerokan, Solusi Mujarab 'Masuk Angin' Orang Indonesia Sehabis Pelesiran

Paling nikmati jika dipadukan dengan teh manis hangat.

Cascara Hasil Fermentasi Kopi
Kuliner
Cascara Hasil Fermentasi Kopi

Dari aromanya, persis wine.

5 Desa Adat nan Cantik Destinasi Pelesir Negeri Aing
Travel
5 Desa Adat nan Cantik Destinasi Pelesir Negeri Aing

Keunikannya membuat desa-desa wisata ini tujuan seru untuk pelesiran.

Inovasi, Adaptasi, dan Kolaborasi Jadi Kunci Perkembangan Pariwisata
Travel
Inovasi, Adaptasi, dan Kolaborasi Jadi Kunci Perkembangan Pariwisata

Setiap aspek punya perannya sendiri dalam perkembangan pariwisata.

Kota Solo, Kota Terpadat di Jawa Tengah, Kalahkan Semarang
Travel
Kota Solo, Kota Terpadat di Jawa Tengah, Kalahkan Semarang

kepadatan penduduk Solo sebesar 11.353 jiwa/km persegi.