Kehidupan Kawula Muda pada Masa Sumpah Pemuda 1928 Tak selamanya pemuda masa itu aktif berorganisasi dan tenggelam dalam heroisme perjuangan. (Foto: geheugen.delpher.nl)

IKRAR Pemuda, atau yang kemudian disebut Sumpah Pemuda, menjadi tonggak penting sejarah bangsa Indonesia. Melalui ikrar ini, para pemuda dari berbagai daerah mulai menegaskan identitasnya sebagai bangsa Indonesia dengan mengikatkan diri pada bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Gaung Ikrar Pemuda tak lantas merembet cepat ke berbagai daerah. Mengingat sarana informasi dan media ketika itu masih terbatas. Ikrar ini baru dimaknai nilai pentingnya bertahun-tahun setelah peristiwa tersebut. Banyak yang menilai para pemuda sebagai pionir persatuan sehingga memunculkan mitologisasi berlebihan pada kehidupan pemuda ketika itu.

Padahal kehidupan pemuda masa itu tak melulu diisi hal-hal serius dan berat-berat. Mereka layaknya kawula muda hari ini. Haus humor, rindu kasih sayang sesama, dan mudah meledak-ledak karena urusan sepele. Jadi, tak selamanya pemuda masa itu aktif berorganisasi dan tenggelam dalam heroisme perjuangan.

"Tetapi pemuda-pemuda yang selalu ada unsur 'humornya' dalam diri masing-masing. Muka-muka mereka bukanlah muka-muka yang seram, yang kelihatan selalu 'tegang'," kata S.K. Trimurti, seorang kawula muda Surakarta yang kelak jadi Menteri Perburuhan pertama Indonesia, dalam "Sikap Humor dalam 'Keseriusan' Pejuang-Pejuang Muda", termuat di 45 Tahun Sumpah Pemuda.

Baca juga:

Kenangan Indekos Pemuda Revolusioner di Lokasi Sumpah Pemuda

kehidupan kawula muda masa sumpah pemuda
Mereka layaknya kawula muda hari ini. (Foto: geheugen.delpher.nl)

Setelah Ikrar Pemuda, Trimurti mengenang aktivitas organisasi pergerakan nasional semakin berkurang. Sebab, Pemerintah Kolonial melarang pertemuan anggota partai, organisasi pemuda, dan organisasi perempuan yang memiliki cita-cita Indonesia merdeka.

Menyiasati situasi seperti ini, pemuda mesti putar otak, tetapi sekaligus lucu-lucuan. Mereka menggelar rapat kilat sambil berjalan di gang agar tak dicurigai oleh anggota Politiek Inlichten Dienst (PID) atau Dinas Intelijen Pemerintah Kolonial.

Cara lainnya, pemuda menyamar sebagai pasangan sejoli ketika menggelar rapat. Siasat ini berhasil mengelabui agen PID. Namun, di sisi lain, siasat ini mengkhawatirkan para orang tua pemuda yang mengira anaknya pacaran betulan.

Saat itu, pacaran masih belum dianggap lumrah oleh para orang tua. Pertemuan antar lawan jenis yang tak disertai oleh orang lain dinilai sebagai pengaruh Barat dan tak cocok dengan masyarakat Hindia. Maka sejumlah pemuda ketika itu memulai pacaran backstreet alias sembunyi-sembunyi.

Baca juga:

Menapak Tilas Indekos para Revolusioner di Lokasi Sumpah Pemuda

kehidupan pemuda masa sumpah pemuda
Saat itu, pacaran masih belum dianggap lumrah oleh para orang tua. (Foto: geheugen.delpher.nl)

Kehidupan para pemuda pada masa sekitar Ikrar Pemuda juga diuraikan oleh Machfoeld, seorang peserta Kongres Pemuda II (27-28 Oktober 1928) yang melahirkan Ikrar Pemuda Oktober 1928. Dia pernah tinggal di Kutoarjo, yang sekarang masuk wilayah Jawa Tengah, dan menyaksikan kehidupan pemuda di sana.

Menurut Machfoeld, pemuda di Kutoarjo beragam. Ada dari Pasundan (Sunda), Ambon, Minahasa, dan Jawa. Mereka membentuk geng berdasarkan asal daerah. Tak jarang geng-geng ini ribut satu sama lainnya. Sebabnya sepele, cuma karena senggolan.

"Perkara demikian itu, biasanya belum cukup diselesaikan di tempat itu. Kadangkala disambung dengan perbuatan kenakalan-kenakalan pada lain-lain hari terhadap dia atau mereka yang dianggapnya bersalah," kenang Machfoeld dalam "Sumpah Pemuda: Sebelum, Semasa, Sesudah Lahirnya".

Setelah Ikrar Pemuda, pertikaian karena urusan sepele berangsur mereda. Para pemuda di Kutoarjo ternyata turut hanyut dalam arus persatuan bangsa yang diikrarkan oleh pemuda di Jakarta. (dru)

Baca juga:

3 Tokoh Perempuan Penting di Balik Sumpah Pemuda

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Telisik Sejarah Angklung yang Jadi Tema Google Doodle Hari Ini
Tradisi
Telisik Sejarah Angklung yang Jadi Tema Google Doodle Hari Ini

Angklung Indonesia dan musiknya menjadi salah satu pembentuk identitas budaya masyarakat di Jawa Barat dan Banten.

Probolinggo Menangi WLC 2022
Travel
Probolinggo Menangi WLC 2022

Probolinggo berhasil mengalahkan 63 kota dari 27 negara di dunia peserta WLC.

Wajib Beli nih, 4 Kacang Oleh-Oleh Khas Bali
Travel
Wajib Beli nih, 4 Kacang Oleh-Oleh Khas Bali

Mulai dari kacang tanah hingga kacang koro.

Kalau ke Bandung Mampir ke Rumah Seni Ropih Jalan Braga
Travel
Kalau ke Bandung Mampir ke Rumah Seni Ropih Jalan Braga

Jalan Braga dipilih sebagai tempat berjualan lukisan karena memiliki nilai sejarah bagi seniman di Kota Bandung.

Ragam Menu Rijsttafel, Sajian Lengkap Tiga Budaya
Tradisi
Ragam Menu Rijsttafel, Sajian Lengkap Tiga Budaya

Dari rijsttafel inilah orang Indonesia mengenal berbagai jenis makanan baru seperti semur, sup, zwartzuur, sampai perkedel.

Sebelum Nonton MotoGP, Kunjungi Destinasi Wisata di Seputaran Mandalika
Travel
Sebelum Nonton MotoGP, Kunjungi Destinasi Wisata di Seputaran Mandalika

Mandalika memiliki destinasi wisata yang penuh pesona.

Naik Pesawat Ke Cepu, Nikmati Potensi Wisatanya
Travel
Naik Pesawat Ke Cepu, Nikmati Potensi Wisatanya

Cepu punya potensi pengembangan daerah wisata dan telah menjadi penggerak ekonomi wilayah sekitarnya.

Pandemi Membuat Wisata Domestik Kian Dilirik
Travel
Pandemi Membuat Wisata Domestik Kian Dilirik

Terbatasnya perjalanan lantaran pandemi COVID-19, membuat para pelancong akhirnya berpaling ke destinasi wisata di dalam negeri.

WTD 2022 untuk Bangkitkan Pariwisata Pascapandemi
Travel
Tarian Pererat Hubungan Jabar-Yogyakarta
Tradisi
Tarian Pererat Hubungan Jabar-Yogyakarta

Pertunjukkan ini sekaligus momen bersejarah.