Surat Terakhir Mallaby Kepada Sang Istri Brigjen Mallaby bersama Residen Soedirman di depan mobil sebelum berangkat menuju gedung Internatio. (Roeslan Abdulgani, Seratus Hari di Surabaya Yang Menggemparkan Indonesia)

Tak lama setelah pamflet berisi ancamaan tersebar, hari itu juga, Mallaby berkirim surat kepada istrinya. Dalam suratnya, ia bercerita bahwa Surabaya sebenarnya sudah dalam keadaan kondusif. Namun keadaan itu berubah menjadi kewaspadaan karena sikap pemimpinnya di Jakarta.

"Panglima merusak segalanya dengan menyebarkan pamflet berisi ultimatum dari pesawat yang tinggal landas dari batavia tanpa memberitahukan isinya terlebih dahulu kepadaku," tulisnya. Ia pun melanjutkan,"Pamflet ini adalah tamparan amat memalukan bagiku sebagai perwira tinggi".

Selama karier sebagai staf militer, Mallaby memang dikenal cakap dalam segala bentuk penugasan. Berkat prestasinya, dia berhak mendapat promosi kenaikan pangkat menjadi jendral bintang satu pada usia kurang dari 42 tahun.

Saat Perang Dunia II berkecamuk, Mallaby menjadi orang kepercayaan Laksamana Mountbatten, panglima tertinggi Southeast Asia Command (SEAC). Berbekal kepercayaan ini, Mallaby pun mendapat tugas untuk menjinakkan Surabaya. Pasukan Inggris saat itu berpendapat Mallaby mendapatkan penugasan bersifat high profile guna mengamankan kota pelabuhan besar sekaligus basis angkatan laut paling penting di wilayah Asia Tenggara.

"Surabaya hanya akan dipertahankan oleh rakyat awam yang sama sekali belum bisa memegang senjata api secara benar. Kecuali itu, mereka yang menamakan diri pemerintah Republik Indonesia sama sekali belum memiliki pasukan militer," tulis Des Alwi mengutip laporan intelejen yang diterima markas besar SEAC di Singapura pada buku Pertempuran Surabaya November 1945.

Mallaby tiba di Surabaya dengan armada besar Pasukan India Brigade ke-49. Sempat salah paham dan hampir kontak senjata, pendaratan pasukannya kemudian berjalan lancar dengan suatu perjanjian dengan Menteri Pertahanan dr Moestopo, pada 26 Oktober 1945.

Sehari berselang, pamflet-pamflet berisi ancaman peluncutan senjata pasukan republikan berhamburan di langit Surabaya. Keadaan langsung berubah tegang. Arek-arek Suroboyo menolak tunduk dengan isi pamflet.

Suasan memanas. Jalanan kembali penuh dengan barikade. Moestopo sendiri langsung mengatur anak buahnya. Gubernur Suryo juga melaporkan kondisi terakhir kota Surabaya setelah penyebaran pamflet.

Sore harinya, mulai bermunculan insiden-insiden kecil. Seperti di daerah Kedungdoro, pasukan India memprovokasi pasukan republik dengan menembakkan senjatanya. Tembakan itu pun dibalas, sehingga terjadi tembak-menembak. Insiden serupa juga terjadi di daerah Keputran.

Saat insiden-insiden kecil meletus, utusan Mallaby, kolonel Pugh datang ke markas Tentara Keamanan Rakyat di jalan Embong Sawo. Ia menyampaiakan pesan Mallaby agar republiken bersedia menjaga situasi.

Pesan tersebut direspon oleh komandan TKR karesidenan Surabaya, Jonosewoyo, dan residen Soedirman. Mereka menggelar rapat terbatas. hasilnya, mereka memutuskan sejak saat itu TKR akan menjawab ultimatum Inggris secara militer: menolak ultimatum dan akan mempertahankan Surabaya hingga darah penghabisan.

Mallaby tewas di dekat Jembatan Merah seberang gedung Internatio. Kematiannya membuat Sekutu murka. (*) Vishal Rand



Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH