Kecerdasan Buatan Melibas Manusia AI memancing berbagai kecemasan. (Foto: The Next Web)

KECERDASAN Buatan (Artificial Intellegence/AI) merupakan hasil rekayasa manusia yang mampu membuat bentuk lain yang membantu berbagai kebutuhan manusia. Seperti kehadrian robot di pabrik-pabrik, AI yang dapat mendiagnosis kanker di tubuh manusia atau mobil tanpa pengemudi.

Namun ada kecemasan di balik pembuatan kecerdasan buatan yang semakin sempurna. Konon akan membuat manusia terlibas.

Bila pernah menonton film film I, Robot yang dibintangi oleh Will Smith menggambarkan karakter Del Spooner, polisi yang sangat memusuhi robot. Robot-robot itu memiliki kecerdasan buatan yang fungsinya memang membantu segala kebutuhan manusia. Dalam film itu dikisahkan terjadi konspirasi kecerdasan buatan yang hendak mengambil peradaban dan memusnahkan manusia.

Kecemasan yang digambarkan oleh film itu agaknya dirasakan pula oleh beberapa pemikir kelas dunia, seperti Stephen Hawking dan Bill Gates, juga Elon Musk.

Hawking mengatakan bahwa pembuatan AI memang baik, namun untuk membuatnya menjadi lebih lagi harus dihentikan sebelum menemukan kejelasan tujuan pembuatannya. Apakah memberikan manfaat bagi kemanusiaan dan peradaban ini.

"AI bisa jadi temuan terbesar dalam sejarah atau malah menjadi hal paling buruk yang ada dalam peradaban manusia. Kita belum tahu itu," kata Hawking dalam Pertemuan Web di Portugal 2017.

Elon Musk pemilik Tesla dan SpaceX tak kalah menyeramkan mengungkapkan pendapatnya. Ia berpendapat bahwa AI lebih menakutkan daripada serangan nuklirnya Korea Utara.

Dalam laman theweek, Musk di depan panel politkus Amerika mengatakan bahwa kita tidak pernah tahu akibat yang timbuh, sampai terjadi peritiwa kecerdasan buatan ini membunuh manusia.

Masih dari laman yang sama, Hawking malam mendorong negara-negara di Eropa membuat regulasi bagi teknologi baru. Tentunya yang berhubungan dengan AI dan robotik.

Bill Gates, bossnya Microsfot pun mengutarakan kekhawatirannya pada AI ini. Gates menyadari bahwa dirinya dikelilingi oleh lingkungan yang sangat peduli dengan kecerdasan super. Gates mengerti betul perjalanan kecerdasan buatan yang berada dalam kehidupannya. Yang kemudian terus menerus mengalami perbaikan menuju ke arah yang lebih baik.

Namun ia setuju dengan Musk, Hawking dan beberapa orang lainnya mengenai kecemasan pada AI. "Yang saya tidak mengerti bahwa kebanyakan orang tidak mempedulikan hal ini," kata Gates.

Tahun lalu YouGov melakukan survei dengan 2 ribu respon yang memberikan hasil berbeda-beda bergantung pada aplikasi yang ada. Sebanyak 70% responden menyebutkan suka dengan mesin pintar yang dapat mengerjakan pekerjaan kasar atau berat. Namun hanya 49% responden yang menyukai AI mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Kemudian 23% menyukai bila robot bisa melakukan operasi medis. Lantas 17% menyukai ide robot seks.


Menurut Human Right Watch, Amerika, Tiongkok, Israel, Korea Selatan, Rusia dan Inggris tengah membangun sistem persenjataan yang meminimalkan campur tangan manusia. Manusia tidak akan terlibat dalam situasi dan kondisi gawat untuk mencari dan menembak sasaran.

Bahkan Guradian menyebutkan bahwa tahun-tahun ke depan bisa jadi peperangan akan berlangsung hanya mengandalkan senjata dan kendaraan tanpa manusia. Mungkin baik berperang tanpa membunuh manusia. Tapi apa jadinya jika kemudian senjata-senjata yang memiliki kecerdasan buatan itu mengarahkan moncongnya ke manusia? (psr)


Tags Artikel Ini

Paksi Suryo Raharjo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH