Kecamatan Payangan Gianyar Gelar Festival Seni Budaya Seniman menampilkan Tari Dwipa Jaya di Taman Budaya, Denpasar (ANTARA FOTO/Wira Suryantala)

KECAMATAN Payangan, Kabupaten Gianyar, Bali menggelar Festival Seni dan Budaya yang melibatkan ratusan masyarakat di sembilan desa di daerah "gudang seni" yang dibuka Bupati setempat Anak Agung Gde Agung Bharata, Senin.

Festival Seni dan Budaya tersebut mengusung tema "Urip Bhuana" berlangsung selama enam hari, hingga 12 Agustus diisi dengan berbagai penampilan seni dan budaya melibatkan seniman setempat.

Parade pembukaan ditandai dengan pemukulan kulkul oleh Bupati Gianyar Anak Agung Gde Agung Bharata yang disusul dengan penampilan atraksi seni oleh masyarakat Desa Melinggih, Melinggih Kelod, Kelusa, Bresela, Bukian, Puhu, Kerta, Buahan Kaja, dan Buahan Kelod.

Ketua Panitia Festival Payangan Nyoman Dharma mengatakan, kegiatan tersebut bertujuan mengenang kembali sejarah desa Payangan yang dulu saat zaman kerajaan sempat berjaya.

Namun kondisi tersebut akibat suatu hal sempat mengalami penurunan semangat persatuan dan kesatuan, sehingga menyebabkan Payangan sempat tenggelam dalam berbagai aspek, khususnya menyangkut seni dan budaya.

"Dua aspek yang menjadi sasaran yaitu segi material dan spiritual. Di mana kami ingin warga Payangan menggalang kembali semangat persatuan dan keseharian masyarakat sangat kental dengan vibrasi spiritual. Salah satunya dengan cara menghidupkan kembali seni-seni tradisional, beserta budaya lokal yang bergairah," ujar Nyoman Dharma yang juga sekretaris camat Payangan itu.

Ia menjelaskan, aktivitas kesenian di Kecamatan Payangan mulai menggeliat untuk bersaing dengan kecamatan lainnya di Kabupaten Gianyar.

Hal itu terlihat dalam setiap kegiatan seni di Kabupaten Gianyar, kecamatan Payangan selalu mampu meraih juara. Terakhir, saat parade baleganjur dalam HUT Kota Gianyar, wakil Payangan meraih juara II menyusul Kecamatan Kecamatan Tegalalang di peringkat pertama.

Kegiatan berlangsung selama seminggu mulai sore hingga malam itu menyuguhkan pementasan drama tari, baleganjur, dalang cilik, demo melukis, cak kolosal yang melibatkan sekitar 300 orang putra dan berbagai jenis kesenian lainnya. (*)

Sumber: Antara

Selain artikel ini Anda juga bisa baca Koteka, Simbol Keterbelakangan Sekaligus Perlawanan


Tags Artikel Ini

Muchammad Yani

YOU MAY ALSO LIKE