Kebo-keboan, Tradisi Unik Khas Banyuwangi Agar Panen Sukses Tradisi Kebo-Keboan suku Osing jadi daya tarik wisata. (foto: Instagram @ujungtimurjawa)

Suku Osing yang merupakan orang asli Bumi Blambangan punya tradisi unik setiap bulan Muharram atau Suro: Tradisi Kebo-keboan. Tradisi ini awalnya diadakan untuk memohon hujan saat kemarau panjang.

Selain itu, tradisi ini ditujukan untuk penolak bala. Sebagai permohonan kepada Tuhan agar sawah milik masyarakat setempat tetap subur dan panen berlangsung sukses dan berlimpah.

Uniknya, ritual ini ditandai dengan adanya sejumlah petani yang kerasukan roh gaib dan bertingkah layaknya kebo (kerbau).

Keunikan tradisi ini mengundang banyak wisatawan datang untuk menyaksikan.

Kebo-kebo ini dimulai dengan kenduri desa yang digelar sehari sebelum acara. Mereka juga membuat gapura dari janur yang digantungi hasil bumi di sepanjang jalan desa sebagai perlambang kesuburan dan kesejahteraan.

Esok paginya, warga menggelar selamatan di empat penjuru desa, yang dilanjutkan dengan "ider bumi" atau keliling desa. Para petani yang didandani kerbau lalu berkeliling desa mengikuti empat penjuru mata angin.

Saat berkeliling desa itulah, para petani yang kesurukan dan bertingkah layaknya kerbau itu melakukan ritual layaknya siklus bercocok tanam, mulai dari membajak sawah, mengairi, hingga menabur benih padi.

Selain seperti membajak sawah, mereka juga berkubang, bergumul di lumpur, dan bergulung-gulung di sepanjang jalan yang dilewati. Saat berjalan di pundak mereka terpasang peralatan membajak, seperti kerbau.

Mengapa seperti kerbau? Binatang ternak tersebut menjadi perlambang kekuatan dan tumpuan masyarakat Osing yang bermata pencaharian sebagai petani.

Kebo-keboan dilaksanakan hampir di semua desa suku Osing di Kecamatan Singojuruh, seperti Desa Alasmalang dan Aliyan.

Di Desa Aliyan, penentuan siapa yang menjadi manusia Kerbau tidak ditentukan pemuka adat desa setempat, tapi oleh arwah leluhur. Sementara itu, di Desa Alasmalang, masyarakat desa yang menjadi pemeran manusia kerbau dipilih oleh pemuka adat Desa Alasmalang.

Tradisi Kebo-keboan sejak 2014 telah masuk dalam agenda Banyuwangi Festival yang merupakan agenda pariwisata daerah yang berisi beragam acara wisata. (*)


Tags Artikel Ini

Widi Hatmoko

LAINNYA DARI MERAH PUTIH