Kebiasaan Makan Mi Instan, Benarkah Berujung pada Kanker? Mi instan yang harus dibatasi konsumsinya. (Foto: Pexels/Pixabay)

MI instan banyak disukai orang. Selain rasanya lezat, penyajian yang mudah menjadi daya tariknya. Mi instan juga mudah ditemukan baik di warung-warung maupun di swalayan.

Susie Yasin (70 tahun) adalah seorang penyintas kanker. Dirinya tak menyangka bahwa kebiasaan makan mi instan ternyata berujung pada kanker.

"Saya ini bolak-balik sakit maag sejak duduk di bangku SMA pada tahun 1967. Saya biasanya muntah-muntah. Tapi, maag saya semakin parah di tahun 2016. Setelah didiagnosis oleh dokter, ternyata saya terkena kanker stadium 2 yang mendekati 3.2 B," ungkap Susie saat ditemui dalam acara Cancer Information and Support Center (CISC) di Jakarta, seperti dikutip Antara.

1. Kebiasaan makan mi instan sejak 1973

Mi instan. (Foto: Pixabya/RitaE)
Mi instan yang tersaji dengan cepat. (Foto: Pixabya/RitaE)

Ketika itu tahun 1973, sedang tren mi instan. Susie mengaku bahwa intesitas mengonsumsi mi instan meningkat sejak dirinya menikah pada tahun 1975.

"Saya makan mi instan itu bisa empat kali dalam sebulan. Dan saya ini juga suka pedas. Jadi, makan mi instan ditambahkan potongan cabe," ujar Susie.

2. Harus kemo 6 kali

kemoterapi
Untuk menurunkan penanda kanker dibutuhkan kemoterapi. (Foto: Pixabay/klbz)

Dua tahun lalu, tepatnya Juli tahun 2016, Susie menjalankan terapi. Begitu ditemukan kelainan dalam usus, langsung dioperasi oleh dokter. Susi melakukan kemo yang dimulai dari Agustus tahun 2016 hingga Januari tahun 2017.

Total proses penyembuhan itu dengan enam kali kemoterapi. Dan ca (cancer) marker atau penanda kanker Susie yang tadinya 2 lebih sekarang menjadi 1,3 lebih.

3. Penanda kanker semakin rendah, semakin baik

Penada kanker semakin rendah semakin baik. (Foto: Pixabay/PDPics)
Penada kanker semakin rendah semakin baik. (Foto: Pixabay/PDPics)

Ca marker atau penanda kanker jika semakin rendah itu semakin baik. Jika angkanya mendekati nol berarti kankernya sudah tidak terdeteksi lagi. Maka, pengobatan yang dilakukan itu efektif. Saat ini, Susie hidup seperti biasanya dan menikmati hidup.

"Saat ini saya lebih banyak mengonsumsi protein hewani dari ikan karena saya penyuka ikan. Selain itu, saya juga makan tahu dan tempe. Saya juga banyak mengonsumsi makanan yang dengan kandungan antioksidan tinggi," ujarnya. (*)

Baca juga berita lainnya dalam artikel: Jaga Makanan dari Kontaminasi Bakteri, Begini Caranya

Kredit : zulfikar

Tags Artikel Ini

Zulfikar Sy

LAINNYA DARI MERAH PUTIH