Kata Petani Soal Pemberlakuan HET Beras Terbaru Petani Tabanan I Gede Made Suparta. (MP/Raiza Andini)

MerahPutih.com - Salah seorang petani di Jatiluwih, Tabanan, I Gede Made Suparta mengaku telah mendapatkan informasi bahwa per tanggal 1 September 2017 pemerintah mengeluarkan edaran ihwal harga eceran tertinggi (HET) untuk beras setelah sebelumnya diberlakukan untuk daging beku dan minyak goreng.

Suparta mengatakan HET yang ditetapkan oleh pemerintah sama sekali tidak mempengaruhi para petani di Jatiluwih seperti dirinya. Suparta menilai harga Rp 9 ribu untuk beras biasa merupakan harga normal.

"Sedeng-sedeng saja itu, tidak terpengaruh," ungkapnya di Jatiluwih, Tabanan, Senin (4/9).

Dia mengatakan harga tersebut normal dan sebagai petani di Jatiluwih mengaku harga tersebut tidak terlalu mahal dan tidak terlalu murah. "Ya standar lah," katanya.

Suparta telah mendapatkan sosialisasi dengan pemerintah setempat terkait harga eceran tertinggi beras beberapa waktu lalu. Namun, Suparta tidak mempermasalahkan hal itu dan saat ini dia fokus dengan beras merah.

"Sudah tahu ada itu, tapi itu kan untuk padi putih, pemerintah belum menetapkan untuk beras merah, di sini kebanyakan pakai beras merah walaupun ada beras putih tapi itu bagus harganya ada standar dari pemerintah," tandasnya.

Provinsi Bali merupakan penghasil beras putih dan beras merah terbaik di Indonesia. Kualitas beras di Pulau Dewata khususnya Tabanan telah mendapatkan pujian dari masyarakat internasional. (*)

Berita ini merupakan laporan dari Raiza Andini, kontributor merahputih.com untuk wilayah Bali. Baca juga berita lainnya dalam artikel: Tanpa Dokumen Kesehatan, Puluhan Ribu Butir Telur Boiler Diamankan


Tags Artikel Ini

Zulfikar Sy

LAINNYA DARI MERAH PUTIH