Kasus Pemerasan AKBP Andi Sinjaya Tak Terbukti, IPW Dituntut Minta Maaf Edi Hasibuan -- ANTARA FOTO/Rosa Panggabean

Merahputih.com - Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane, diminta untuk minta maaf terkait tuduhan pemerasan Rp1 miliar terhadap mantan Kasat Reskrim Polres Jaksel, AKBP Andi Sinjaya Ghalib.

Dalam kasus ini, berdasarkan pemeriksaan Propam Polda Metro Jaya, tuduhan terhadap AKBP Andi Sinjaya tidak terbukti. Bahkan pelapor yakni Budianto Tahapary sudah membantah dan meminta maaf atas isu yang beredar.

Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis Kepolisian (Lemkapi), Edi Hasibuan mengatakan, kasus ini menjadi pelajaran buat untuk berhati-hati dalam memberikan pernyataan.

Baca Juga

Soal Kasus Pemerasan Oknum Polisi, Informasi IPW Diduga Hoaks

"Sebagai orang bijak seharusnya begitu ya (minta maaf). Saya tahu Neta itu orang baik dan dia sahabat saya," kata Edi kepada wartawam yang dikutip di Jakarta, Sabtu (18/1).

Menurut mantan anggota Kompolnas ini, peristiwa tersebut tentu bisa terjadi trial by the press terhadap yang bersangkutan karena tersebarnya informasi yang tidak diklarifikasi sebelumnya sehingga menjadi bola liar. Hal ini sekaligus menurunkan harkat dan martabat AKBP Andi Sinjaya Ghalib, yang bukan hanya dialaminya, tapi juga keluarganya.

"Kami melihat AKBP Andi dipindahkan ke lembaga pendidikan karena tenaganya dibutuhkan di sana," tuturnya.

Budianto Tahapary memperlihatkan foto profile oknum pengacara yang mengatasnamakan Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan meminta uang Rp1 miliar untuk menyelesaikan perkaranya, Selasa (14/1/2020).(ANTARA/Laily Rahmawaty)
Budianto Tahapary memperlihatkan foto profile oknum pengacara yang mengatasnamakan Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan meminta uang Rp1 miliar untuk menyelesaikan perkaranya, Selasa (14/1/2020).(ANTARA/Laily Rahmawaty)

Menurutnya, kasus dugaan kewenangan tersebut sudah selesai. Edi melihat ada yang salah dalam memberikan informasi kepada publik. "Semoga hal ini tidak terulang dan dikelarkan kedua belah pihak sehingga tidak ada yang dirugikan," ucapnya.

Ia pun meminta tidak ada lagi yang melakukan penyebaran informasi dan fitnah yang menyesatkan terhadap AKBP Andi Sinjaya Ghalib.

Menurutnya, pemberitaan tentang tuduhan AKPB Andi Sinjaya memeras pelapor merupakan bentuk berita tidak terklarifikasi, sehingga menyebabkan turunnya harkat dan martabat Andi sebagai anggota kepolisian.

"Kita minta tidak ada lagi yang melakukan penyebaran informasi menyesatkan terhadap AKBP Andi Sinjaya Ghalib," kata Edi.

Baca Juga

Polri Dikritik Karena Sejumlah Orang 'Dekat' Jokowi yang Dapat Jabatan Prestisius

AKBP Andi Sinjaya dimutasi dan digantikan oleh Muhammad Irwan Susanto pada 8 Januari 2020 setelah kasus pemerasan tersebut mencuat. Mutasi itu tertuang dalam Surat Telegram Kapolda Metro Jaya dengan Nomor ST/13/I/KEP/2020.

Sementara Budianto, telah menarik ucapannya terkait pemerasan Rp1 miliar tersebut. Dia mengaku masalah ini muncul karena ada makelar kasus dari oknum pengacara berinisial Al meminta Rp1 miliar mengatasnamakan AKBP Andi Sinjaya.

Budianto mengaku salah karena tidak memberikan bukti lengkap kepada IPW mengenai siapa oknum yang memerasnya hingga nama Andi Sinjaya dikaitkan. (Knu)


Tags Artikel Ini

Angga Yudha Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH