Kasus Novel Masih Gelap, Wadah Pegawai: Bukankah Presiden Janji Perkuat KPK? Penyidik KPK Novel Baswedan berbicara dalam acara peringatan dua tahun kasus teror yang menimpanya di Gedung KPK, Jakarta (MP/Ponco Sulaksono)

MerahPutih.com - Ketua Wadah Pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (WP KPK) Yudi Purnomo Harahap menilai Presiden Joko Widodo (Jokowi) belum melunasi janjinya memperkuat lembaga antirasuah. Pasalnya, kata Yudi, kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK Novel Baswedan hingga kini masih gelap.

"Menurut kami salah satu bukti konkret janji tersebut adalah tertangkapnya pelaku teror kepada KPK yang menghambat upaya pemberantasan korupsi, sekaligus bukti adanya penegakan hukum dan perlindungan hukum bagi penegak hukum," kata Yudi melalui rilis yang diterima MerahPutih.com, Minggu (14/4).

Presiden Jokowi sebelumnya meminta agar penyelidikan kasus Novel Baswedan tidak lagi ditanyakan kepada dirinya. Menurut Presiden hasil penyelidikan kasus Novel Baswedan sudah menjadi tanggung jawab tim gabungan tersebut.

"Sudah ada tim gabungan di Polri, yang terdiri dari Polisi, Ombudsman dan KPK sendiri. Tanyakan kepada mereka, hasilnya seperti apa. Kejar mereka, hasilnya seperti apa, jangan dikembalikan ke saya lagi," kata Jokowi di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Jumat, (12/4).

Diketahui, Kepolisian membentuk tim gabungan untuk menuntaskan kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan. Jajaran Polri, KPK dan sejumlah pakar atau akademisi masuk dalam tim tersebut. Dalam surat bernomor Sgas/3/I/HUK6.6/2019 yang ditandatangani Tito pada 8 Januari 2019, satgas ini terdiri dari 65 anggota, dengan unsur kepolisian, KPK dan pakar.

Penyidik Senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan. (Foto: merahputih.com/Ponco Sulaksono)

Menanggapi hal itu, Yudi mengungkapkan pihaknya pada Maret 2019 sudah bertemu dan menanyai perkembangan kasus tersebut pada Kabareskrim Polri selaku Tim Pencari Fakta Kasus Novel. Namun, kata Yudi, dijawab belum ditangkap pelakunya.

"Sehingga apa yang diminta oleh Presiden sudah kami lakukan terlebih dahulu sebelum diminta oleh Presiden," ujar Yudi.

Belum ditangkapnya pelaku penyiram air keras ke Novel ini memperkuat argumentasi WP KPK soal Tim Gabungan Pencari Fakta, yang berada di bawah kepala pemerintahan merupakan sebuah keniscayaan. "Dengan belum tertangkapnya para pelaku, ini semakin memperkuat argumentasi kami sejak awal, bahwa kasus penyiraman, bahwa TGPF Independen di bawah Presiden yang notabene sebagai kepala negara sekaligus kepala pemerintahan merupakan keniscayaan," ungkap Yudi.

Peringatan dua tahun kasus Novel Baswedan di Gedung KPK
Peringatan dua tahun kasus teror Novel Baswedan di Gedung KPK, Jakarta (MP/Ponco Sulaksono)

Yudi mengingatkan, masih gelapnya kasus Novel selama dua tahun menjadi perhatian KPK. Menurut Yudi, bukan kesalahan bila meminta kasus Novel diungkap karena Jokowi sebagai Presiden menjanjikannya. "Apakah suatu kesalahan meminta kepada Presiden perkara tersebut segera diungkap setelah dua tahun masih gelap? Bukankah Bapak Presiden berjanji akan memperkuat KPK?" ujar Yudi.

Novel Baswedan hampir buta mata kirinya karena diteror dengan disiram air keras oleh orang tak dikenal pada 11 April 2017. Novel sempat menjalani perawatan di Singapura selama setahun. Namun, sampai hari ini Polri belum berhasil menangkap para pelakunya. (Pon)


Tags Artikel Ini

Angga Yudha Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH