Kasus Novel Belum Terungkap, KPK Kecewa dengan Hasil Kerja Tim Bentukan Kapolri Juru Bicara KPK Febri Diansyah. (MP/Ponco Sulaksono)

MerahPutih.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kecewa dengan tim gabungan bentukan Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang tak bisa mengungkap pelaku penyiraman air keras terhadap penyidik senior lembaga antirasuah Novel Baswedan.

"Kalau kita dengar dari konferensi pers kemarin ternyata tidak ditemukan maka wajar KPK kecewa dengan hasil yang disampaikan kemari," kata juru bicara KPK Febri Diansyah di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta, Kamis (18/7) malam.

Baca Juga: Jokowi Minta Kapolri Tuntaskan Kasus Novel Baswedan dalam 3 Bulan

Febri Diansyah. (MP/Ponco Sulaksono)
Febri Diansyah. (MP/Ponco Sulaksono)

Lembaga yang dipimpin Agus Rahardjo cs ini belum menerima informasi detail hasil pengusutan kerja tim tersebut. Bahkan, kata Febri, pihaknya juga tak menerima informasi jika tim itu bakal melaporkan hasil kerjanya ke KPK atau tidak.

"Sampai saat ini belum diterima dan dari yang disampaikan ke publik itu memang kami pandang belum ada titik terang sehingga wajar kami kecewa," ujar dia.

Tak hanya itu, kata Febri, KPK semakin kecewa dengan pernyataan Polri yang menyebut penyiraman air keras terjadi karena ada perbuatan penyalahgunaan wewenang berlebih dari Novel atau exesive use of power. Terlebih, Polri tak menjelaskan dalil dugaan itu ke publik.

"Nah pertanyaannya dari mana tim pencari fakta tahu persepsi dari pelaku apakah TPF sudah memeriksa terhadap pelaku sehingga mengambil kesimpulan itu atau itu hanya diambil sebagai kesimpulan yang dasarnya kita tidak tahu. Ini tidak terjelaskan kepada publik," kata dia.

Baca Juga: Sudutkan Novel, Tim Bentukan Kapolri Picu Ketidakpercayaan Publik

Febri menegaskan semua perkara yang ditangani KPK berdasarkan bukti cukup dan sesuai Undang-Undang yang berlaku. KPK dipastikannya tidak pernah melakukan perbuatan di luar kewenangan.

"Semuanya sudah berkekuatan hukum tetap, tidak ada istilah exesive use of power yang dilakukan dalam proses itu, jadi kami pastikan semuanya berjalan sesuai hukum acara," tandasnya.

Sebelumnya tim gabungan bentukan Kapolri mengungkapkan balas dendam sebagai motif penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan. Menurut tim, balas dendam itu dipicu penggunaan kewenangan secara berlebihan.

Penyidik KPK Novel Baswedan
Penyidik KPK Novel Baswedan berbicara dalam acara peringatan dua tahun kasus teror yang menimpanya di Gedung KPK, Jakarta (MP/Ponco Sulaksono)

Anggota tim Nur Kholis, mengatakan penggunaan wewenang yang berlebihan membuat Novel menjadi musuh sejumlah pihak yang berperkara di KPK. Tim meyakini motif balas dendam ini terkait dengan kasus korupsi yang tengah ditangani oleh penyidik senior KPK itu.

Baca Juga: Dikonfirmasi Pernyataan Tim Bentukan Kapolri, Novel Terus Bilang 'Ngawur'

"TPF menemukan fakta terdapat probabilitas terhadap kasus yang ditangani korban yang menimbulkan serangan balik atau balas dendam, akibat adanya dugaan penggunaan kewenangan secara berlebihan," kata Nur Kholis di Mabea Polri, Jakarta Selatan, Rabu (17/7). (Pon)

Kredit : ponco


Andika Pratama