Kasus COVID-19 di Sekolah Akibat Minimnya Persiapan Protokol Kesehatan Suasana Sekolah Dasar Negeri 1 Barongan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, pascameninggalnya salah satu guru akibat terpapr COVID-19. (ANTARA/Akhmad Nazaruddin Lathif)

MerahPutih.com - Juru bicara Satgas Penanganan COVID-19, Wiku Adisasmito menyebut klaster di sekolah bukan merupakan klaster baru. Pernyataan tersebut menanggapi sejumlah kabar soal terjadinya penularan di sekolah beberapa wilayah.

"Sebenarnya bukan klaster baru, tapi pemerintah mampu mencatat data dan mendeteksi lebih baik," kata Wiku dalam konferensi pers secara virtual di Jakarta, Kamis (13/8).

Baca Juga

Pasien COVID-19 Klaster Secapa AD Tinggal 9 Orang

Dia mengatakan, saat ini data klaster sudah dicatat dengan lebih baik sehingga ada klasifikasi klaster yakni di pasar, tempat ibadah, perkantoran dan sekolah.

Wiku menjelaskan sekolah yang sudah diizinkan tatap muka adalah sekolah dari zonasi hijau tanpa kasus, dan zona kuning melalui prakondisi dan menentukan waktu yang tepat.

Namun, ia tak menjelaskan seberapa besar klaster sekolah yang diketahui. Namun ia menduga penyebaran ini terjadi karena kurangnya persiapan protokol kesehatan. Seharusnya, ia mengatakan sebelum pembukaan sekolah, dilakukan sejumlah langkah.

Pertama adalah prakondisi, kedua adalah timing yang tepat, dan yang ketiga adalah prioritas menentukan mana yang harus dibuka dahulu dan mana yang belum. Selain itu, sekolah juga harus berkonsultasi dan koordinasi dengan Satgas Daerah dan Satgas Pusat. Langkah terakhir adalah monitoring evaluasi.

"Apabila terjadi klaster atau kasus baru di dalam sekolah, itu tentunya terkait dengan proses pembukaan yang mungkin belum sempurna dalam melakukan simulasinya," kata Wiku.

juru bicara Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito dalam konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta, Jumat (7/8/2020) (ANTARA/Prisca Triferna)
juru bicara Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito dalam konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta, Jumat (7/8/2020) (ANTARA/Prisca Triferna)

Ia mengatakan selain persetujuan dari orang tua murid, diperlukan persiapan dari sekolahnya itu sendiri. Mulai dari memastikan bahwa transportasi menuju ke sekolah aman, hingga ketersediaan fasilitas yang memadai sehingga potensi penularannya kecil.

"Begitu juga dari komunitas-komunitas nya juga harus dijaga dengan baik agar tidak ada penyakit yang dibawa dari rumah ke sekolah, tidak ada penyakit atau covid yang dibawa dalam menuju ke sekolah, begitu juga tidak ada penyakit yang tersebar di fasilitas sekolah," kata Wiku.

Wiku menegaskan, pemerintah mengizinkan pembukaan sekolah tatap muka dengan sejumlah syarat yang ketat. Jika masih terjadi penularan, maka Wiku menilai syarat-syarat tersebut belum dijalankan dengan baik.

"Apabila terjadi klaster atau kasus baru di dalam sekolah, itu tentunya terkait dengan proses pembukaan yang mungkin belum sempurna dalam melakukan simulasinya," kata Wiku.

Wiku mengingatkan lagi bahwa proses pembukaan sekolah tatap muka oleh Pemda harus dilakukan secara bertahap melalui sejumlah proses mulai dari prakondisi hingga menentukan waktu yang tepat kapan sekolah sebaiknya dibuka.

Kemudian prioritas menentukan mana sekolah yang harus dibuka dahulu dan mana yang belum boleh dibuka. Lalu, harus ada konsultasi dan koordinasi antara satgas daerah dan satgas pusat. Terakhir, monitoring dan evaluasi juga harus terus dilakukan selama proses pembelajaran tatap muka.

Baca Juga

Uang Insentif Penggali Kubur dan Sopir Ambulans Segera Cair

Lalu, tiap sekolah juga perlu melakukan persiapan untuk memastikan protokol kesehatan terus dijalankan baik oleh guru dan siswa. Ini juga termasuk sarana transportasi siswa saat menuju sekolah.

"Kalau itu semua dilakukan dengan baik seharusnya tidak terjadi klaster-klaster di sekolah atau mana pun juga," ujar Wiku. (Knu)


Tags Artikel Ini

Andika Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH