Karya Seni 'Faith in Speculations' Bercerita Sejarah Kelam Indonesia Para seniman menggabungkan kreativitas mereka dengan perkembangan teknologi. (merahputih.com/Marcella)

SEJARAH Indonesia mempertontonkan berbagai kejadian dan peritiwa yang melambari kehidupan berbangsa. Kilas balik sejarah terkadang dibutuhkan sebagai pengingat momentum yang terkadang berisikan kekelaman. Ini yang kemudian diusung dalam karya seni bertajuk Faith in Speculations (FIS).

Karya seni kontemporer ini hadir dalam pameran seni Manifesto VIII: Transposisi. Pameran seni rupa ini diadakan dua tahun sekali dan tahun ini dengan mengusung konsep karya seni kontemporer. Para seniman menggabungkan kreativitas mereka dengan perkembangan teknologi. Menurut kurator pameran senin ini, Rizki A. Zaelani, penggunaan teknologi akan memberikan hasil yang berbeda antara seni serta seniman yang satu dengan lainnya.

Baca Juga:

Mengenal Dua Raksasa Sastra lewat "Pameran Gunung Api Jassin, Lahar Panas Chairil"

fis
Pameran karya seni Faith in Speculations dapat disaksikan secara daring maupun luring di Galeri Nasional Indonesia. ([email protected])

“Karya-karya dalam pameran ini akan menunjukkan kemajuan dan perkembangan tersebut dalam berbagai bentuk pendekatan dan cara pengungkapan yang berbeda-beda,” ungkap Rizki.

FIS merupakan karya seni yang berisikan narasi singkat tentang kisah kelam yang terjadi di Indonesia pada tahun 1965. Bedanya, seluruh kisah di sini diceritakan langsung oleh mereka yang mengalaminya, Napsiyah Suwarno dan Ibu Marni. Selain mereka, ada sederet orang yang turut menceritakan kisahnya terkait dengan tragedi 1965. Diceritakan menggunakan bahasa awam membuat seluruh kisah ini terasa lebih dekat dan nyata.

Karya ini bisa dikunjungi langsung di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat atau secara daring melalui situs fis.1965.or.id. Seniman di balik karya seni ini adalah Rangga Purbaya, Sirin Farid Stevy, Debby Gea, dan Kurniawan Pujianto.

Meskipun memiliki tema utama kekelaman di tahun 1965, tetapi FIS turut menyajikan kisah-kisah lampau di tahun lainnya guna mendukung rasa sebab dan akibat dari peristiwa utama. Terdiri atas zaman penjajahan, kemerdekaan, pascakemerdekaan, dan masa kini. Rentangnya dimulai dari tahun 1918 hingga 2020.

“Tujuannya sebenarnya untuk bisa memberikan dampak dari peristiwa ini dalam skala ruang dan waktu,” jelas Rangga dalam press tour di Galeri Nasional, Selasa (26/7).

Baca Juga:

Pameran Seni Rupa "Manifesto VIII : Transposisi" Digelar

fis
Situs web karya seni Faith in Speculations hanya bisa diakses melalui desktop saat ini. (Fis.1965.or.id)

Seluruh kisah dalam karya seni FIS diceritakan dengan bahasa yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Seperti nama karya seni ini, penikmat dan kontributor cerita sama-sama berspekulasi tentang apa yang terjadi saat itu menurut pandangan masing-masing.

Membaca kisah mereka ini membuat kita merasa turut ada di sana, merasakan perjuangan, dan kesakitan dari orang-orang yang mengalami insiden tersebut. Perpaduan warna hitam dalam peta dan merah sebagai penanda lokasi kejadian membuat karya seni ini terasa lebih mencekam

Pameran karya FIS secara luring juga tak kalah apiknya. Untaian panjang kain putih digantung mengelilingi gawai yang menampilkan peta lokasi tragedi 1965, seakan mengisyaratkan pusat dari karya ini. Kain-kain polos itu bersimbah cat berwarna hitam dan merah, di atasnya tertuang kisah-kisah tentang mereka yang jarang terdengar. Ada tujuh kain yang tergantung dan enam di antaranya berisi cerita singkat. Kisah ini dipilih dan diseleksi sebagai inti dari seluruh narasi yang ada dalam FIS dan mewakili beberapa generasi.

“Misalnya ini adalah generasi pertama, generasi penyintas langsung yang beliau survivor. Nah, kemudian ada generasi kedua yang orang tuanya adalah tahanan politik. Kemudian ada generasi pertama juga yang jadi tahanan politik dan ditahan di Pulau Buru. Kemudian, ini ada generasi keempat yang dia mendapatkan ceritanya dari kakeknya,” tutur Rangga sambil menunjuk setiap kisah dalam banner. (mcl)

Baca Juga:

Film Indonesia 'Autobiography' Berkompetisi di Venice Film Festival 2022

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Netflix Batal Lanjutkan Serial 'Space Force' Season 3
ShowBiz
Netflix Batal Lanjutkan Serial 'Space Force' Season 3

Rating yang buruk membuat kesepakatan musim ketiga dibatalkan.

Tadashi Shoji: E-Commerce Selamatkan Rumah Modenya Selama Pandemi
Fashion
Tadashi Shoji: E-Commerce Selamatkan Rumah Modenya Selama Pandemi

Dengan biaya minim, video tersebut difilmkan di kafetaria perusahaan dengan pencahayaan dan pengeditan yang kreatif.

Penjualan Album K-Pop Meningkat Tajam
ShowBiz
Penjualan Album K-Pop Meningkat Tajam

Penjualan album soundtrack hanya mendapatkan 39,5 juta won atau setara Rp473 juta di tahun 2019.

Menelusur Dalang di Balik Peretasan Channel YouTube Justin Bieber
ShowBiz
Menelusur Dalang di Balik Peretasan Channel YouTube Justin Bieber

Channel YouTube miliki sejumlah musisi terkenal diretas oleh penjahat siber.

iPhone 14 Dirumorkan Meluncur Awal September
Fun
iPhone 14 Dirumorkan Meluncur Awal September

Apple Event akan membawa sejumlah produk baru.

Sering Diremehkan, Ini Pentingnya Asuransi untuk UKM
ShowBiz
Sering Diremehkan, Ini Pentingnya Asuransi untuk UKM

Asuransi usaha dapat melindungi UKM dari kemungkinan terburuk.

Robeta, Mobil Listrik Mini Pemadam Kebakaran
Fun
Robeta, Mobil Listrik Mini Pemadam Kebakaran

Mobil Pemadam kebakaran Robeta dijual dengan harga yang sangat terjangkau.

 Pintu Incubator Dorong Jenama Lokal Jualain Menuju Pasar Global
Hiburan & Gaya Hidup
Pintu Incubator Dorong Jenama Lokal Jualain Menuju Pasar Global

PINTU Incubator dapat memberikan kontribusi terhadap industri fesyen Tanah Air

Menyelami Dunia Virtual di VRDays Europe Bersama Minikino
Fun
Literasi Media Sebagai Pendekatan Abad ke-21
Fun
Literasi Media Sebagai Pendekatan Abad ke-21

Pentingnya literasi media untuk memahami asal usul informasi.