Kartini Modern Angkat Seni Tradisional Ke Industri Mode Dunia Nonita Respati (kanan) dan muse andalannya, Julia Estelle (Sumber: Instagram/@puranaindonesia)

SENI telah menjadi bagian dalam kehidupan masyarakat Indonesia sejak dahulu. Tak hanya dianggap sebagai media mengekspresikan diri, seni juga menjadi sebuah produk keindahan yang dapat menggerakkan perasaan positif dalam diri manusia. Potensi sebuah karya seni sebagai produk keindahan ini ditangkap oleh desainer Indonesia, Nonita Repati.

Purana
Nonita Respati (tengah) dan muse andalannya (Foto: Instagram@puranaindonesia)

Sebagai Kartini Modern, Nonita mampu menggerakkan seni tradisional Indonesia menjadi sesuatu yang memiliki nilai komersil. Lewat tangan dinginnya, ia mampu membuat seni tradisional tak hanya disimpan di rumah tetapi masuk ke panggung catwalk. Seni tradisional yang mulanya selalu tampil dalam nuansa klasik disulapnya menjadi produk fesyen kontemporer.

Purana
Purana di Jogja Fashion Week (Foto: Instagram@puranaindonesia)

Sebagai seorang desainer dan pengusaha mode yang mumpuni Nonita percaya bahwa sebuah usaha bisa berjalan lebih lancar ketika bisa fokus di beberapa bidang yang dikuasai. "Saya fokus di tiga hal yaitu design development, tren dan selera pasar baik lokal atau global, dan mengembangkan potensi lokal," ucapnya saat diwawancarai oleh merahputih.com, Minggu (21/4).

Dirinya tertarik untuk mengajak para perempuan Indonesia untuk bekerja sama dalam lini fesyennya, Purana karena tertarik dengan motif yang ditawarkan di masing-masing daerah namun tak memiliki keahlian untuk mengolah kain-kain tenun tersebut.

"Saya tidak menguasai bidang pembuatan kain. Yang bisa saya berikan adalah ide desainnya sementara para pengrajin perempuan di daerah memiliki teknik yang tak perlu diragukan lagi," tuturnya. Kolaborasi dengan seniman setempat pun dipandang sebagai sesuatu yang efektif baik secara waktu, tenaga, ataupun biaya.

Purana
Purana Memberdayakan Karya Perajin Tenun Desa Langa dan Todo (Foto: Instagram@puranaindonesia)

Kartini Modern di bidang industri fesyen ini juga melihat bahwa masih banyak pengrajin lokal yang tidak mengelola bisnisnya secara profesional, Akibatnya, generasi berikutnya enggan untuk meneruskan bisnis keluarga tersebut dan akhirnya mati begitu saja. "Padahal bisnis ini punya jalan dimana bisa menempatkan nusantara dalam skala yang lebih kompleks," ujarnya.

Selain itu teknik luar biasa yang dimiliki oleh para pengrajin tak diimbangi dengan sensitivitas mereka terhadap pasar global. "Paparan terhadap tren global masih sangat kurang padahal industri mode di tiap daerah sudah sangat berkembang," jelasnya. Kehadiran ia dan para desainer terbaik Indonesia diharapkan mampu membangun sensitivitas pengrajin daerah terhadap selera pasar lokal ataupun global.

Purana
Purana Memberdayakan Tenun Ikat Kediri (Foto: Instagram@puranaindonesia)

Dalam bekerja sama dengan pengrajin daerah, tahapan awal yang ia lalui yakni mendesain motif yang diinginkannya lalu mendiskusikannya dengan para pengrajin lokal. Dirinya menuturkan bahwa desain tersebut sudah dipikirkan dan dipertimbangkan sesuai dengan selera pasar global.

Dari tangan dinginnya, ia mampu membawa karya pengrajin dari Jogja, Pekalongan, Semarang, Bali hingga ke mancanegara. Karya para desainer lokal tersebut bisa kita temui di Singapura, Jepang, Kuwait, Portugal hingga Los Angeles, Amerika.

Purana
Purana memberdayakan tenun ikat Humbang Shibori, Sumatera Utara (Foto: Instagram@puranaindonesia)

Produk yang ia masukkan ke pasar global biasanya disesuaikan dengan keadaan negara tersebut. Misalnya, kalau pakaian untuk musim gugur dan dingin biasanya menggunakan warna yang gelap dan bahan lebih tebal sementara untuk musim semi dan musim panas menggunakan warna yang cerah dan lebih tipis. Di Kuwait menyesuaikan dengan perempuan yang ingin pakaian modest-wear dengan penambahan lengan. "Yang terpenting adalah kita harus fleksibel dan adaptif terhadap permintaan pasar global.

Purana
Purana memberdayakan batik Semarang (Foto: Instagram@puranaindonesia)

Sebagai desainer yang peduli terhadap perkembangan seni kontemporer Indonesia, Nonita berharap di masa depan para pengrajin lokal mampu bergerak secara mandiri dan aktif serta mampu mengikuti perkembangan tren mode. (avia)

Kredit : iftinavia


Iftinavia Pradinantia

LAINNYA DARI MERAH PUTIH