Image
Author by : Perempuan pegunungan Kendeng dalam aksi semen kaki menolak pabrik semen di Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah, di kawasan Monas,Jakarta Pusat, Rabu (13/

Sembilan perempuan yang menamakan diri "Sembilan Kartini" dari Pegunungan Kendeng, Kabupaten Pati, Jawa Tengah melakukan aksi cor kaki dalam kotak berisi semen di depan Istana Negara, Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Selasa (12/4). Mereka adalah Karsupi, Sutini, Surani, Murtini, Giyem, Ngadinah, Rifambarwati, Deni Y. Pimpinan mereka adalah Sukinah.  

Aksi dilatari keluarnya izin Bupati Pati untuk pembangunan pabrik semen di wilayah tersebut. Pembangunan pabrik semen itu ditolak warga empat desa di Kabupaten Pati yang tergabung dalam Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK). 

Mereka mengajukan gugatan di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Kota Semarang terhadap Bupati Pati. Gugatan terhadap Bupati Pati itu dilayangkan terkait SK Bupati Pati Nomor 660.1/4767 tahun 2014 tertanggal 8 Desember 2014 tentang izin lingkungan pendirian pabrik semen serta penambangan di kawasan Karst Pegunungan Kendeng Utara kepada PT Sahabat Mulia Sakti, anak perusahaan PT Indocement Tunggal Prakarsa. 

Nilai investasi pembangunan pabrik semen PT SMS itu mencapai Rp7 triliun. Dalam putusannya, Selasa (17/11/2015) yang dibacakan selama 7 jam lebih, PTUN memenangkan gugatan para petani. Namun, keputusan sidang PTUN belum dilaksanakan pihak tergugat. Maka itu, warga mengadukan masalah ini kepada Presiden Joko Widodo. 

Image
Author by : Cut Darmayanti Sihombing, 31, (tengah) pendiri PAUD Pintar di Desa Bagan, Kabupaten Deli Serdang, Sumut berfoto dengan murid-murid. (Foto jurnalisper

Cut Darmayanti Sihombing merupakan salah satu sosok "Kartini" masa kini. Perempuan asal Sumatera Utara ini adalah mantan Tenaga Kerja Wanita (TKW). Yanti, yang berusia 31 tahun, mendirikan sekolah non formal untuk anak-anak nelayan di Desa Bagan, Dusun 18, Gang Persil, Jalan M Yusuf Jintan, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, sekira 20 kilometer dari Kota Medan, Sumatera Utara. 

Yanti mendirikan sekolah dengan menggunakan uang dari hasil jerih payahnya bekerja sebagai TKW di Malaysia. Ia mendirikan PAUD Pintar di atas sebuah lahan berukuran 20 kali 60 meter lima tahun lalu. Ia terpaksa berangkat ke Malaysia lagi menjadi TKW untuk membeli tanah yang dijadikan lokasi PAUD Pintar. Tak hanya menguras seluruh tabungannya selama bekerja di Malaysia, Yanti pula yang mengajar murid-muridnya di PAUD Pintar. 

Yanti mendirikan PAUD Pintar berawal dari keprihatinan dirinya menyaksikan anak-anak di desa nelayan tidak bisa baca dan menulis. Mereka tidak bersekolah karena mahalnya biaya pendidikan.

Setahun pertama PAUD Pintar, Yanti menggratiskan murid-muridnya. Sekarang, orang tua murid dipungut iuran pendidikan sebesar Rp1.000 per hari. Dari awalnya hanya 15 murid kini anak-anak yang belajar di PAUD Pintar jumlahnya sudah mencapai ratusan.  

Image
Author by : Dian Inggrawati (Foto Facebook Dian Inggrawati_Miss Deaf )

Sekilas Dian Inggrawati nampak biasa seperti kebanyakan gadis normal. Ditopang tubuhnya yang tinggi semampai, penampilan Dian layaknya seorang model.  

Tapi, siapa sangka gadis itu adalah penyandang tunarungu. Dian lahir dari pasangan Irwanto Hermawan (alm) dan Ida Ratih Prasidhawati di Jakarta pada 12 April 1984. 

Ia tunarungu sejak lahir karena ibunya saat mengandung Dian pernah terjatuh. Peristiwa itu ternyata mengubah hidup Dian.

Meski tunarungu, tidak menghalangi Dian untuk berprestasi. Terbukti Dian mampu meraih runner-up II kontes kecantikan Miss Deaf World 2011. Sebuah ajang ratu sejagat yang dikhususkan bagi para perempuan penyandang tunarungu itu dihelat di Praha, Republik Ceko.  

Dian, yang mengenakan busana karya desainer Anne Avantie, memukau para juri dengan tarian Lenggang Betawi. Sesaat sebelum turun dari panggung, Dian membuat 700 penonton yang memenuhi ruangan Congress Hall Top Hotel, Praha bertepuk tangan riuh ketika mengangkat kertas bertuliskan "Deaf? No Problem" (Tuli bukan masalah).  

Image
Author by : Walikota Surabaya Tri Rismaharini (Foto Screenshot Youtube)

Saya selama ini sudah berikan yang terbaik untuk warga Surabaya. Semua yang saya miliki sudah saya berikan. Saya sudah tak punya apa-apa lagi, semua sudah saya berikan, ilmu saya, pikiran saya, bahkan kadang anak saya pun tidak  saya urusi. Tapi, saya percaya, kalau saya urusi warga Surabaya, anak saya diurusi Tuhan. Saya sudah berikan semuanya, jadi saya mohon maaf,” ujar Walikota Surabaya Tri Risma Harini kepada host Najwa Shihab dalam acara Mata Najwa medio Februari 2014.

Sosok Risma adalah pemimpin yang dirindukan rakyatnya. Ia hadir di tengah-tengah kerinduan warga Surabaya akan sosok pemimpin yang mengayomi rakyatnya. Dalam sebuah tayangan, Risma "mengamuk" ketika taman kota yang dibangunnya dengan APBD Kota Surabaya hancur lebur terinjak-injak peserta acara yang diadakan sebuah perusahaan produsen es krim. 

Atau, ketika Risma memeriksa selokan-selokan pada malam hari di bawah guyuran hujan deras. Hal itu ia lakukan hanya untuk memastikan agar warganya bisa tidur lelap dan tidak kebanjiran.  

Risma adalah sosok Kartini masa kini. Perempuan tangguh ini dinobatkan sebagai Walikota Terbaik ketiga di dunia oleh World Mayor Prize.

Meski begitu, Risma mengatakan peran perempuan sebagai ibu bagi anak-anak dan istri dari seorang suami tak boleh dilupakan walaupun memiliki karier. 

"Perempuan boleh berkarier setinggi-tingginya seperti laki-laki, tetapi jika dia memiliki keluarga, dia harus tetap menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya," kata Risma dalam peringatan Hari Kartini, di Surabaya, Kamis (21/4).   

Menurutnya, perempuan mulai menunjukkan prestasi di berbagai bidang termasuk karier politik seperti yang dipilihnya. Ia berharap ke depan, perempuan bisa lebih baik dari sekarang. 

Image
Author by : Livi Zheng (Foto screenshot youtube)

Dara kelahiran Malang, 3 April 1989 ini sukses menembus perfilman Hollywood. Livi Zheng, yang memulai kariernya dari pemeran pengganti di usia 15 tahun kini meniti karier sebagai sutradara di Hollywood, yang menjadi kiblat perfilman dunia. 

Film besutannya Brush With Danger masuk nominasi Oscar untuk kategori Best Picture pada Academy Award 2015. Film Brush With Danger diputar di bioskop-bioskop di Amerika Serikat. 

Tapi sebelum meraih kesuksesan, Livi Zheng mengaku film Brush With Danger sempat ditolak 32 produser eksekutif. Kendati demikian, Livi Zheng dan adiknya, Ken Zheng tidak patah arang. Sarjana Ekonomi dari Universitas Washington ini yakin usaha sungguh-sungguh tidak akan berakhir sia-sia.   

 


Luhung Sapto

LAINNYA DARI MERAH PUTIH