Kapitra: Kami ke Istana untuk Bebaskan HRS Bukan untuk Berkhianat Kapitra Ampera, kuasa hukum Rizieq Shihab. (MP/Fadhli)

Kuasa Hukum Gerakan Nasional Pembela Fatwa MUI (GNPF MUI) Kapitra Ampera menegaskan pertemuan mereka dengan Presiden Jokowi di Istana semata-mata hanya membicarakan soal kasus kriminalisasi hukum yang dialami ulama.

Ia juga menyebut pertemuan itu bukan ujug-ujug ada tanpa proses yang panjang. Untuk itu, Kapitra membantah keras adanya kesepakatan terselubung di balik pertemuan.

"Mau ngapain? kita ke sana bukan mau minta makan, bukan bicara politik, kita ke sana untuk membebaskan Habib Rizieq Shihab, bukan untuk berkhianat," tegasnya kepada merahputih.com, Rabu (28/6).

Lagi pula, katanya, sejumlah aksi demonstrasi yang digelar di depan Istana bertujuan ingin bertemu Jokowi.

"Aksi 411 di depan Istana untuk ngapain mau ketemu presiden kan? Terakhir 313 itu juga ingin ketemu presiden kan? Sekarang kita ketemu presiden mau menyampaikan aspirasi juga, Jokowi membuka pintu untuk itu," terangnya.

Jadi, kalau ada tudingan miring soal pertemuan tersebut, itu tidak benar.

Disinggung soal minimnya koordinasi dengan pihak lain sesama ormas pembela ulama, Kapitra menjawab tidak ada kewajiban untuk itu.

"Gak ada kewajiban untuk kita kasih tahu, itu kan produk GNPF semua, mau ajak rundingan masalah apa, ini kan masalah hukum kok, kita ingin selesaikan masalah hukum ulama kok harus lapor. Gak ada itu, semua itu muncul setelah GNPF bikin gerakan," tandasnya.

Sebelumnya, Presidium Alumni 212 menyatakan tidak sepakat dengan pertemuan GNPF MUI yang digelar di Istana Negara.

Seperti GNPF MUI, Presidium Alumni 212 menginginkan adanya rekonsiliasi dengan pemerintah asalkan tidak digelar di Istana. Presidium Alumni 212 pun baru mengetahui pertemuan tersebut melalui siaran berita. (Fdi)

Baca juga berita lain terkait pertemuan GNPF MUI dengan Jokowi dalam artikel: Presidium Alumni 212 Tidak Sepakat GNPF MUI Temui Presiden Di Istana



Zulfikar Sy

LAINNYA DARI MERAH PUTIH