Kapal Selam Sukses, Indonesia-Korsel Duet Garap Jet Tempur Siluman Ilustrasi pesawat jet tempur. Foto:wikipedia

MerahPutih.com - Koleksi tiga kapal selam baru TNI AL bukan satu-satunya kerja sama pertahanan yang dilakukan Indonesia dengan Korea Selatan (Korsel). Kedua negara juga tengah mengembangkan proyek pesawat tempur canggih generasi 4.5 KFX/IFX.

Duta Besar Korsel untuk Indonesia Kim Chang-beom menjelaskan pesawat tempur KFX/IFX itu bisa mengakomodasi kemampuan siluman, alias tidak terdeteksi radar. Proyek KFX/IFX adalah kerja sama jangka panjang membangun kemandirian industri pertahanan Indonesia-Korsel di tengah keberadaan negara-negara besar dalam laju pengembangan alutsista dunia.

Proyek pembuatan pesawat tempur yang mempunyai rentang spesifikasi teknis di antara generasi 4 dan 5 ini pertama kali ditawarkan pemerintah Korsel ke Indonesia pada 2010. Indonesia dan Korea Selatan pada Januari 2016 menandatangani perjanjian senilai 1,3 miliar dolar AS untuk pengembangan jet tempur baru.

Berdasarkan atas perjanjian yang ditandatangani dengan Korea Aerospace Industries (KAI) itu, Kementerian Pertahanan Indonesia akan menanam sekitar 1,6 triliun won (Rp13 triliun) dalam program Korea-Indonesia Fighter Experimental (KFX/IFX). "Kami harap proyek ini dapat dilaksanakan tanpa hambatan," kata Dubes Kim, dilansir Antara, Kamis (26/4).

KRI Ardadedali-404 buatan Korea Selatan (@nafaltoday)

Menurut Kim, kerja sama bidang pertahanan antara Indonesia-Korsel ini tidak hanya pada aspek pengadaan, tetapi juga perakitan dan transfer teknologi pembuatan alutsista. Realisasinya melalui tiga tahap, Fase Pengembangan Teknologi, Fase Pengembangan Mesin dan Manufaktur, dan Fase Pengembangan Produksi. "Kerja sama pertahanan adalah salah satu pilar kemitraan strategis antara Indonesia dan Korea Selatan," tegas dia.

Komitmen Dua Presiden

jokowi presiden korsel
Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in (kiri). Foto: Antara

Indonesia dan Korsel telah menjadi mitra alami sejak menjalin hubungan diplomatik pada 1973. Kedua negara telah membuka babak baru hubungan bilateral setelah Presiden Joko Widodo dan Presiden Moon Jae-in sepakat meningkatkan level kerja sama menjadi kemitraan strategis khusus (special strategic partnership) pada November 2017, dengan penajaman akselerasi industrialisasi di Indonesia.

Kesepakatan yang dibuat pemimpin kedua negara saat kunjungan Presiden Moon ke Indonesia itu dimaknai sebagai komitmen kuat untuk terus meningkatkan hubungan bilateral. Apalagi, saat itu Moon yang baru saja dilantik memilih Indonesia sebagai negara pertama di kawasan Asia Tenggara setelah dirinya terpilih sebagai Presiden.

Presiden Moon mengakui kesamaan visi dengan Presiden Jokowi, yakni mengutamakan rakyat dan mengembangkan ekonomi yang toleran. Moon berharap kemitraan strategis khusus Indonesia-Korsel akan meningkatkan kerja sama dalam empat bidang, yaitu keamanan dan industri pertahanan, perdagangan dan infrastruktur, pertukaran masyarakat, serta kerja sama tingkat regional dan global.

Tak Hanya Pertahanan

LRT
Sejumlah kendaraan melintas di samping pembangunan proyek Light Rail Transit (LRT) tujuan Jakarta-Bogor-Depok-Bekasi, di kawasan Jalan MT Haryono, Jakarta, Rabu (22/11). Foto: ANTARA

Realisasi kesepakatan kedua Presiden itu tak hanya di bidang pertahanan. Korsel juga ingin lebih terlibat dalam proyek-proyek infrastruktur Indonesia. Perusahaan asal Korsel telah aktif mengembangkan proyek-proyek di empat area. yakni pembangkit listrik, fasilitas air bersih, kota pintar (smart city), dan transportasi.

Proyek transportasi yang sedang digarap Korsel di Tanah Air antara lain proyek LRT Jakarta, jalur kereta Makassar dan Pare-Pare, dan perluasan bandara internasional di Batam, Kepulauan Riau. BUMN Korsel, Korea Rail Network Authority (KRNA) juga sedang menjajaki proyek pengembangan kereta api yang ditawarkan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.

Dubes Kim menambahkan pelaku bisnis Korsel juga menunjukkan minat besar untuk perdagangan barang-barang konsumsi, produk gaya hidup, kesehatan, bioteknologi, farmasi, logistik, serta kosmetik dan produk kecantikan. "Indonesia dan Korsel selama ini tidak pernah terlibat dalam isu atau konflik, yang ada hanya mengembangkan ide-ide kerja sama yang lebih luas lagi," tandas dia. (*)



Wisnu Cipto

LAINNYA DARI MERAH PUTIH