Ngaku Pencinta Dunia Antariksa? Wajib Tahu Jenis Teleskop di Obsevatorium Bosscha Teleskop Bamberg. (Foto: bosscha.itb.ac.id)

JALAN-JALAN ke Kota Bandung enggak melulu urusan makan dan belanja baju di factory outlet. Ada juga lo destinasi sejarah dan edukasi di 'Kota Kembang'. Sayang banget deh kalau kamu melewatkannya.

Salah satu destinasi yang wajib kamu datangi ialah Observatorium Bosscha. Objek wisata ini berada di Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Buat kamu yang pelajar atau punya minat akan ilmu astronomi, Observatorium Bosscha jadi tempat wajib untuk dikunjungi. Di sini, kamu bisa berwisata sambil belajar mengenai keantariksaan.

Jalan-jalan ke Ovsebatorium Bosscha lebih afdal dengan mengenal alat-alat keantariksaan yang digunakan di sana. Masyarakat mungkin hanya akan mengetahui teropong besar yang ada di dalam kubah raksasa saja. Padahal masih ada 12 teleskop lagi dengan fungsi berbeda-beda.

Teleskop yang aktif digunakan untuk kebutuhan penelitian hanya enam teleskop, sementara sisanya digunakan untuk pendidikan. Berikut enam teleskop yang biasa digunakan untuk keperluan penelitian, seperti dikutip Antara.

1. Teleskop GAO Remote Telescope System

Teleskop GAO-ITB-RTS. (Foto: bosscha.itb.ac.id)
Teleskop GAO-ITB-RTS. (Foto: bosscha.itb.ac.id)

Teleskop ini berjenis Schmidt-Cassegrain bermerek Celestron dengan diameter cermin 8 inchi (sekitar 20 cm). Teleskop tersebut berada dalam ruangan dengan atap geser. Teleskop GAO dapat mengamati penampakan salib selatan yang tidak bisa diamati di belahan bumi lain seperti Jepang dan Amerika Serikat. Biasanya teleskop ini digunakan spektroskopi atau objek-objek yang membentang seperti planetari nebula, supernova, komet, dan benda-benda lain seperti bintang.

"Jadi untuk kebutuhan penelitian kami bekerja sama dengan Observatoriumnya Jepang. Kami silih berbagi data terutama penampakan langit. Jepang tidak bisa melihat penampakan langit selatan dan kita tidak bisa mengamati langit belahan utara," ujar salah satu staf Bosscha, Agus Triono, yang biasa mengamati penampakan melalui teleskop GAO.


2. Teleskop STEVia (Survey Telescope For Exoplanet and Variable Star)

Teleskop STEVia dari dekat. (Foto: bosscha.itb.ac.id)
Teleskop STEVia dari dekat. (Foto: bosscha.itb.ac.id)

STEVia merupakan tipe teleskop reflektor Schmidt-Cassegrain dengan diameter cermin utama 27,9 cm dan panjang fokus 1,76 meter. STEVia dilengkapi dengan teleskop guider yang berfungsi untuk menjaga kestabilan gerakan teleskop utama sehingga mampu mengikuti objek langit dalam waktu lama.

Teleskop ini menggunakan sistem kendali komputerisasi dan dapat dikendalikan secara jarak jauh dengan jaringan internet. Teleskop STEVia digunakan untuk penelitian mencari planet-planet baru yang ada di bintang-bintang.

Denny Mandey menjelaskan, teropong ini baru dimiliki lembaga tersebut pada tahun 2014 dengan fokus mencari planet di gugusan bintang. Fokus penelitian dilakukan secara terus-menerus selama langit cerah.

Denny mencontohkan adanya indikasi bintang dapat dilihat dari pendar cahaya. Apabila cahaya bintang redup secara tiba-tiba, kemungkinan ada planet yang melintas.


"Prinsipnya seperti melihat gerhana matahari cahaya redup kan? Kita liatin terus nanti kalau beruntung ada planet yang lewat di depannya cahayanya redup. Cara lain dengan melihat bintangnya itu diam atau goyang-goyang. Kalau dia menunjukan gejala seperti itu kemungkinan ada bintangnya," katanya.

STEVia juga digunakan dalam pengamatan objek dan peristiwa langit yang berlangsung singkat, seperti supernova dan okultasi bintang.


3. Teleskop Surya

Teleskop surya. (Foto: bosscha.itb.ac.id)
Teleskop surya. (Foto: bosscha.itb.ac.id)

Teleskop Surya ini terdiri dari tiga buah teleskop Coronado dengan 3 filter yang berbeda, serta sebuah teleskop proyeksi citra Matahari yang sepenuhnya dibuat sendiri. Teleskop Surya digunakan untuk mengamati aktivitas di permukaan matahari, terutama bintik matahari (Sunspot) dan lidah api (prominesa). Penelitian aktivitas matahari ini begitu penting karena berhubungan dengan cuaca antariksa yang berdampak pada iklim di bumi, operasional satelit, saluran komunikasi, dan keselamatan penerbangan.

Denny sempat menceritakan mengenai siklus hidup matahari dari mulai terbentuk hingga sekarang. Menurutnya, saat ini manusia sedang hidup sekitar 4,5 miliar tahun usia matahari.



Zulfikar Sy

LAINNYA DARI MERAH PUTIH