Kampung Mural Pulo Geulis yang Sudah Ada Sejak Kerajaan Pajajaran Pulo Geulis dihiasi banyak mural. (Foto: instagram@adjhadeni)

YANG dikatakan sebagai pulo atau pulau ada benarnya, namun bukan pulau dalam arti sebenarnya atau delta di sungai Ciliwung. Kampung Pulo Geulis ini berada di tengah-tengah aliran sungai Ciliwung yang terbelah dua. Konon kampung seluas 3,5 hektar ini sudah ada sejak Kerajaan Pajajaran berkuasa di tanah Sunda.

Penduduknya tercatat berjumlah 2500 jiwa dengan kebanyakan berasal dari suku Sunda dan Tionghoa. Dari zaman dahulu sampai sekarang perbedaan di dalam masyarakat bukanlah masalah. Bahkan di Pulo Geulis terdapat Wihara Mahabrahma (Pan Kho Bio) yang dianggap sebagai kelenteng pertama di Kota Bogor.

pulo geulis
Wihara Mahabrahma yang dianggap sebagai salh satu kelenteng tua di Indonesia. (Foto: instagram@yogasawara14)

Baca juga:

Wiskul Ke Bogor Harus Mampir ke Lokasi Kuliner Legendaris

Liburan Singkat ke Bogor, Wajib Eksis di Destinasi Instagrammable Ini

Lokasi Pulo Geulis ini tidak jauh dari wisata kuliner Suryakencana dan Tugu Kujang, bahkan dengan Kebun Raya Bogor. Pulo Geulis disadari dapat menjadi destinasi wisata di Kota Bogor yang kemudian mengarah pada pengembangannya oleh Pemda Kota Bogor yang bekerjasama dengan Politeknik Negeri Jakarta dan Panorama Group.

Untuk mencapai Pulo Geulis sangat mudah sekali. Kalau datang dari selatan tinggal masuk dari jalan Roda menuju jembatan penghubung. Sementara dari arah timur masuk dari jalan Riau yang tidak jauh dari terminal Baranangsiang.

Baca artikel lainnya:

Cungkring, Makanan Langka dari Jalan Suryakencana Bogor

pulo geulis
Suku Sunda dan Tionghoa yang paling lama bermukim disini. (Foto: instagram@elodwyk)

Pulo Geulis atau zaman dahulu dikenal dengan nama Pulau Parakan Baranangsiang, selain memiliki wihara sebagai destinasi wisata. Adapula batu-batu besar yang dipercaya sebagai petilasan Raden Mangun Jaya. Tokoh ini dianggap sebagai leluhur masyarakat Sunda. Menurut cerita Raden Mangun Jaya masih keturunan Raja Pajajaran. Disini juga ada petilasan dari Embah Sakee dan Eyang Jayaningrat yang diyakini sebagai tokoh penyebar agama Islam. Termasuk pula makam Embah Iman yang juga diyakini sebagai tokoh penyebar agama Islam di Bogor.

Konon pada masa silam Pulo Geulis dijadikan semacam lokasi peristirahatan keluarga kerajaan. Ketika Pajajaran mengalami kemunduran, tempat ini ditinggalkan masyarakat hingga ditemukan kembali oleh Abraham Van Ribeck yang melakukan ekspedisi Ciliwung di tahun 1703. Lokasinya yang baik berada di sungai Ciliwung membuat Pulo Geulis menjadi favorit orang kala itu. Tak mengherankan bila setelah Belanda membangun jembatan di tahun 1923, banyak orang yang mendatangi pulau ini. (psr)

Baca juga: Museum Tanah, Wisata Alternatif di Kota Bogor

Kredit : paksi

Tags Artikel Ini

Paksi Suryo Raharjo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH