Kalung Anti-Corona Picu Polemik, Nasib Mentan Syahrul Yasin di Ujung Tanduk Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo. ANTARA/Dokumentasi Kementerian Pertanian

MerahPutih.com - Kalung anti virus produksi Kementerian Pertanian menuai kontroversi. Pasalnya, beberapa pihak meragukan kualitas kalung yang diklaim bisa mencegah penyebaran COVID-19 itu.

Pengamat politik Universitas Al Azhar, Ujang Komarudin menilai, polemik kalung tersebut bisa berimbas ke nasib Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo.

Baca Juga

Vaksin COVID-19 Buatan Indonesia Diproduksi Massal 2021

Apalagi, Presiden Joko Widodo (Jokowi) sempat menyinggung soal reshuffle kabinet beberapa waktu lalu sehingga menteri yang dinilai picu kontroversi bisa saja masuk 'pemantauan' dari Presiden. Namun soal reshufle, lanjut Ujang, kembali kepada Presiden yang memiliki hak prerogatif.

"Tentu Presiden yang tahu apakah Mentan layak di-reshuffle atau tidak. Kebijakan tersebut (kalung Corona) kontroversial,” kata Ujang kepada wartawan di Jakarta, Rabu (8/7).

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dalam Rapat Kerja bersama Komisi IV DPR di Jakarta, Selasa. (Kementerian Pertanian)
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dalam Rapat Kerja bersama Komisi IV DPR di Jakarta, Selasa. (Kementerian Pertanian)

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) ini menambahkan, kebijakan Kementan tersebut tergolong aneh. Selain banyak peneliti dan lembaga yang meragukan produk tersebut, urusan penjualan kalung jelas bukan urusan lembaga sekelas Kementerian.

“Kebijakan aneh dan nyeleneh. Jika hanya mengeluarkan kalung corona, tak harus level kementerian yang keluarkan. Cukup pelaku UMKM,” kata Ujang

Ia menyebut, kebijakan kontroversial yang dikeluarkan Kementan itu tentu berpengaruh terhadap kinerja dan dampak elektoral pada Kementerian terkait. Ujang meminta kepada setiap pejabat untuk tak sembarangan dalam mengeluarkan kebijakan apalagi terobosan yang berhubungan langsung dengan masyarakat.

Syahrul yang merupakan mantan Gubernur Sulawesi Selatan ini mengaku tidak boleh bicara lagi soal 'Anti Virus Corona', berbentuk kalung, terbuat dari eucalyptus yang terdapat di minyak kayu putih, dipakai dengan cara dihirup, diperkenalkan sendiri olehnya pada Jumat (3/7) lalu.

"Saya enggak boleh ngomong. Dirjen saja. Sama dirjen, ya," kata SYL sembari berjalan cepat. Setelah itu dia tak memberikan pertanyaan apa pun saat ditanya wartawan usai apat kerja dengan Komisi IV DPR RI, Selasa (7/7).

Kalung dengan nama 'Anti Virus Corona Eucalyptus' dibuat oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian. SYL mengatakan kalung ini dapat mematikan Corona dengan kontak.

Diklaim, kontak 15 menit bisa membunuh 42 persen Corona, dan semakin lama maka lebih banyak yang tereliminasi. Ia mengatakan kalung 'anti virus' ini siap diproduksi massal Agustus mendatang.

"Kalau setengah jam, dia bisa 80 persen. Kami yakin bulan depan sudah dicetak, diperbanyak," terang dia.

Kalung ini diragukan banyak pihak manfaatnya. Paling banter, kata para ahli, kalung ini hanya bermanfaat untuk memperlancar pernapasan.

Baca Juga

DPR Sebut Kalung Anti-COVID-19 Kementan Mirip Balsem

Setelah isu bergulir dan mendapat kritik banyak pihak, Kementan akhirnya melakukan klarifikasi. Itu pun dilakukan oleh Kepala Balitbangtan Kementan Fadjry Djufry, bukan oleh SYL sendiri.

Ia mengatakan sebenarnya izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tidak menyebut antivirus, melainkan "hanya sebagai jamu."

"Ini bukan vaksin. Kalau memang ini tidak punya manfaat untuk antivirus, paling tidak bisa memperbaiki pernapasan. Minimal mengurangi gejala dari COVID-19," katanya. (Knu)



Andika Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH