Kalimat Positif Berikut Ternyata Berbahaya untuk Anak Bahasa cinta untuk si kecil harus disampaikan dengan tepat (Sumber: Let Grow)

KATA-kata memiliki efek yang luar biasa bagi psikologis seseorang. Ketika sebuah kalimat terjebak dalam memori seseorang, otak akan memvalidasi kalimat tersebut dan direfleksikan oleh tindakan. Namun, bentuk pujian semu juga tak selalu baik. Bentuk dukungan berupa kata-kata bisa menjebak dan berbahaya untuk tumbuh kembang anak. Sebuah maksud positif akan berubah menjadi negatif jika pemilihan diksi tidak tepat. Berikut kalimat yang dianggap positif padahal berbahaya untuk anak:

1. "Mama/Papa Bangga Padamu"

Bahasa Cinta
Tunjukkan kebanggaan dengan cara tepat (Sumber: Mum Central)

Ungkapan tersebut terdengar seperti sebuah pujian. Namun ternyata ada kesesatan pemilihan kata. Ketika orang tua memuji anak untuk setiap hal kecil seperti menyelesaikan makan, menggosok gigi atau meletakkan alat makan di cuci piring membuat pujian tidk lagi berarti. Sebaliknya, cobalah untuk memuji hal-hal spesifik yang berkaitan dengan prestasi anak. "Kamu mampu berenang dengan sangat cepat," merupakan contoh hal spesifik yang dilakukan anak. Atau bisa juga menggunakan konsep sebab akibat yang memancing daya pikir anak. "Piringmu bersih tidak ada makanan tersisa, kamu pasti akan lebih berenergi dan bersemangat untuk berpetualang nanti," itulah salah satu contoh konsep sebab akibat.

BACA JUGA: Fenomena di Era Digital : Anak Lebih Percaya Informasi di Internet Daripada Informasi Dari Orang Tua

2. "Bagaimana Harimu di Sekolah?"

Bahasa Cinta
Mendengar cerita anak (Sumber: Let Grow)

Kalimat di atas sebenarnya adalah pernyataan kosong. Biasanya, hanya mendapatkan satu respon dari anak "baik" atau "buruk". Jika kamu benar-benar ingin tahu seperti apa harinya di sekolah, ajukan pertanyaan spesifik seperti "Apa bagian terbaik dari harimu hari ini?" Kalimat tersebut akan mendorong jawaban lengkap dan rinci.

3. "Jangan Buat Papa/Mama Malu!"

Memarahi anak
Menjelaskan pada anak hal yang membuat kita kecewa secara spesifik (Sumber: Reader's Digest)

Anak mungkin terlalu kecil untuk memahami konsep dari rasa malu. Frasa ini tidak memberi gagasan mengapa hal yang mereka lakukan salah. Terlebih lagi, mempermalukan anak di muka umum dapat membuat beberapa anak lebih agresif. "Hal yang kamu lakukan cukup membuatku terganggu karena...." kalimat semacam itu memberi ide yang jelas pada anak mengapa tindakannya tidak baik untuk orang lain. Ia pun menjadi lebih bijaksana dalam menghindarinya di masa depan.

4. "Jangan Nangis Ya"

Jangan menangis
Menghibur anak (Sumber: Video Blocks)

Menangis adalah salah satu respon normal manusia walaupun hal yang membuat mereka menangis sepele bagimu. Dengan mengatakan "jangan menangis!" kamu sudah menekan emosi mereka dan membuat mereka merasa bahwa emosi mereka tidak penting. Kalimat seperti "Apa yang terjadi?" atau "Apa yang membuatmu begitu kecewa hingga menangis" menunjukkan bahwa kamu peduli padanya.

BACA JUGA: Salah Pola Asuh, Hancurkan Kepercayaan Diri Anak

5. "Ketika Aku Seusiamu Aku Bisa Melakukannya dengan Baik"

Orang tua Mengajari Anak Memasak
Libatkan diri secara langsung (Sumber: Laval Families Magazine)

Setiap anak memiliki perkembangan yang berbeda. Jangan membandingkan perkembangan anak dengan siapapun, sekalipun orang tuanya sendiri. Perbandingan anak dengan orang lain hanya akan menjatuhkan harga dirinya. Ia merasa bahwa sekeras apapun usahanya takkan mampu mengalahkan orang lain. Akibatnya, ia akan patah semangat dan enggan untuk kembali mencoba. "Biarkan saya mengajarimu cara melakukannya," itu adalah kalimat yang tepat karena ia tahu orang tuanya akan berada di sisinya untuk membimbingnya.

BACA JUGA: Baby Walker Sebabkan Kelainan Pada Anatomi Kaki Si Kecil

Kredit : iftinavia


Iftinavia Pradinantia

LAINNYA DARI MERAH PUTIH