Kalau Bisa ITF Selesai 2020 kenapa Harus Tunggu 2022 ilustrasi sampah (MP/Rizki Fitrianto)

MerahPutih.com - DPRD DKI Jakarta mendukung Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI membangun pengelolahan sampah energi listrik atau Intermediate Treatment Facility (ITF) di Sunter, Jakarta Utara.

Sekretaris Komisi D DPRD DKI Jakarta, Pandapotan Sinaga meminta kepada Pemprov DKI untuk mempercepat pembangunan ITF sunter. Adapun perancang sistem pembangunan ITF dikerjakan oleh Jakarta Propertindo bersama dengan perusahaan Finlandia, Fortum.

Sebab dalam targetnya pembangunan ITF sunter yang dapat mengurai sampah 2000 ton perhari ini ditargerkan selesai tahun 2022.

"Kita dorong ini untuk dipercepat pembangunannya. Kenapa mesti tahun 2022 baru selesai? Kenapa ini tidak dipercepat aja kenapa tidak 2020," kata Pandapotan saat dikonfirmasi, Jumat (26/10).

Pandapotan pun ingin pengelolahan sampah energi listrik ini dibangun di lima wilayah Provinsi DKI Jakarta. Menurut dia, agar permasalahan sampah yang perharinya mencapai 8000 ton di Ibukota dapat terselesaikan.

"Kalau kita menginginkann setiap kota madya mempunya ITF," cetusnya.

Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di Jakarta. Foto:Antara

Bahkan, Pandapotan Sinaga mendorong Pemprov DKI Jakarta menggunakan APBD DKI dalam membangun proyek ITF ini. Sebab APBD DKI melimpah ruah, bahkan saking banyaknya ABPD DKI hingga sebagian anggaran tidak bisa dibelanjakan. Buktinya Silva ABDD DKI tahun ini mencapai Rp 13 Triliun karena tak terserap dengan baik.

"Makanya kemarin pas rapat pembahasan kita dorong seperti itu kenapa kita harus cari investor kalau memang kita sanggup APBDnya kita dorong kemarin waktu dipembahasan tapi belum ada keputusan," bebernya.

Padahal menurut Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Isnawa Adji, pembangunan ITF normalnya adalah memakan waktu 2 tahun. Sementara, ITF di danau sunter akan dilakukan ground breaking pada bulan Desember 2018.

Isnawa menjelaskan bahwa progres pembangunan ITF ini akan dikejar di tahun 2020. Namun Isnawa tak menjanjikan target pembangunan, karena waktu pembangunan ditentukan dari kapasitas atau ukurannya.

"Rata-rata, paling cepat dua tahun. Di mana-mana pembangunan ITF itu bisa 12 bulan atau 24 bulan, ya tergantung kapasitas dan memang yang tahu lebih teknisnya ada di Jakpro karena ini terkait dengan penugasan DKI Jakarta pada Jakpro," ungkapnya. (asp)

Kredit : asropih

Tags Artikel Ini

Angga Yudha Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH