Kala Jenderal Soedirman dan Tan Malaka Bersatu Jenderal Soedirman. (Foto/wikipedia)

17 Agustus 1945, Indonesia merdeka. Namun tak semua penjajah telah minggat dari 'Tanah Air' ini. Belanda yang saat itu masih kukuh ingin menguasai Indonesia, terus menekan negara yang baru lahir ini. Beberapa serangan mereka lancarkan yang dikenal dengan sebutan agresi Belanda I dan II.

Indonesia yang dipimpin Sukarno-Hatta kala itu kewalahan. Mereka bisa dikatakan terpaksa untuk berdiplomasi dengan kolonial Belanda. Berbagai kesepakatan lahir, misalkan Linggarjati dan Renville. Kejadian ini berdampak pada perpecahan di-elite politik Indonesia.

Tan Malaka yang kukuh dengan pandangan 'Merdeka 100 Persen' menentang pemerintah Sukarno-Hatta. Hal itu semakin meruncing ketika Sjahrir menjadi perdana menteri dan mengubah sistem politik dari presidensial menjadi parlementer. Jenderal Soedirman yang juga jengkel dengan keputusan itu mulai merapat ke Tan.

Jenderal Sudirman terpaksa ditandu saat melakuka perang gerilya karena tengah sakit (Foto: IST)
Jenderal Sudirman terpaksa ditandu saat melakuka perang gerilya karena tengah sakit (Foto: IST)

”Jika ulah Sjahrir itu makin mengancam persatuan kita, saya tak segan mengambil kebijaksaan sendiri,” kata Soedirman dalam buku Mengabdi Republik Jilid II: Angkatan 45.

Kedekatan mereka semakin dekat dengan saling berkunjung dan berdiskusi. Soedirman pernah hadir dalam kongres Persatuan Perjuangan yang dipimpin Tan Malaka di Purwokerto. Tan Malaka mencatat ucapan Soedirman kala itu. "Lebih baik kita dibom atom daripada merdeka kurang dari 100 persen," kata Tan.

Tak hanya sampai di situ, kedua Pahlawan Nasional ini mengumpulkan seluruh elemen politik di Purwokerto, Jawa Tengah. Pertemuan ini menghasilkan faksi Persatuan Perjuangan yang kongresnya dihadiri 141 wakil berbagai kubu. Kekuatan yang mereka bangun tergolong sukses.

Terbukti, Belanda melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan melakukan Agresi Militer Belanda I (13 Juli 1947) dan II (18 Desember 1948). Akibat agresi militer tersebut, sang jenderal bersama pasukan terpaksa harus berpindah-pindah tempat. Dari pelarian ke pelarian, Jenderal Soedirman bahkan memimpin gerilya selama berbulan-bulan dengan ditandu karena tuberkulosis yang dideritanya.

Namun, tak serta merta Tan meninggalkan sang Jederal begitu saja. Menurut ajudan Soedirman, Brigadir Jenderal Abimanyu pernah menyatakan bahwa Tan Malaka yang membuat Soedirman memindahkan markasnya ke Solo ketika karibnya itu ditahan di Tawangmangu pada 1946. (*)


Tags Artikel Ini

Zaimul Haq Elfan Habib