Kajoetangan, Sisi Lain Sejarah di Malang Kampoeng Kajoetangan menyajikan sejarah kota Malang. (Foto: arahdestinasi)

KOTA Malang menyimpan banyak destinasi wisata sejarah. Kota berhawa dingin ini selalu menarik untuk dikunjungi.

Alam memang menjadi salah satu destinasi wisata penting di kota Malang. Namun tak sebatas itu, Malang menyimpan banyak tujuan wisata sejarah, salah satunya adalah di di kawasan Kayu Tangan yang tak seberapa jauh dari alun-alun Kota Malang.


Baca Juga:

27 Juli 2020 Gedung Sate Genap Berusia 100 Tahun

kajoetangan
Rumah-rumah di kampung ini dijaga kelestariannya. (Foto: arahdestinasi)


Kampoeng Heritage Kajoetangan adalah salah satu destinasi wisata sejarah yang wajib kamu datangi bila ke Malang. Keberadaannya meliputi tiga rukun warga dengan sekitar 37 rumah kuno yang terjaga kelestariannya.

Kampung warisan sejarah ini diresmikan pada tahun 2018 hasil dari kerja keras para warganya. Masyarakat di kampung itu menyadari betul arti dari warisan yang ada di tangan mereka. Bahkan rumah yang paling tua, dibangun tahun 1870 milik keluarga Nur Wasil masih terjaga dengan baik.

Mengutip laman arahdestinasi, seluruh rumah kuno itu hasil identifikasi warga sendiri. Melacak mulai dari pemilik pertama hingga ahli waris. Seperti yang dikatakan oleh Mita, salah satu anggota Kelompok Sadar Wisata (pokdarwis) Kajoetangan mengatakan, mereka sadar bahwa kampung mereka memiliki sejarah dan bisa dijadikan kampung wisata sejarah.

Kampung sejarah ini sangat mudah dilihat, di depan gang masuknya terdapat gerbang 'Selamat Datang di Destinasi Kampoeng, Kampoeng Wisata Kajoetangan'. Untuk memberikan gambaran isi kampung sejarah itu, terdapat peta yang memperlihatkan kampung itu.


Baca Juga:

Menangkap Golden Sunrise dari 'Negeri di Atas Awan'

kajoetangan
Kampoeng Kajoetangan di Malang tetap menjaga kenangan masa silam. (Foto: arahdestinasi)


Kampung ini layaknya museum besar yang menyajikan berbagai kenangan di masa silam. Dari setiap rumah yang terbuka untuk dimasuki terdapat berbagai benda-benda yang sudah dari dahulu ada di dalam rumah. Seperti furnitur, pajangan atau lukisan dan foto. Untuk menambah informasi, pada setiap rumah terdapat plakat-plakat yang menjabarkan detil dari rumah itu. Mulai dari tahun pembuatan sampai kepemilikan rumahnya.

Pemilik-pemilik rumah di kampung ini sangat menerima kedatangan pelancong yang mengunjungi destinasi wisata ini. Jika ada pemilik rumah, pelancong bisa masuk ke dalam rumah namun sebatas ruang tamu saja. Bila pemiliknya tidak ada, teras rumah bisa dinikmati, berselfie pun tidak dilarang oleh pemilik rumahnya. Yang dilarang adalah membuang sampah sembarangan. Sampah-sampah kamu sebaiknya dimasukan ke kantong yang dibawa sendiri.

Di kawasan ini terdapat pula makam Eyang Honggo Kusumo atau Mbah Honggo yang konon adalah orang yang pertama kali bermukim di kawasan ini. Di samping makam Mbah Honggo terdapat satu makam lagi, kuburan Tandak yang menurut kisah seorang prajurit yang merupakan teman Mbah Honggo. Sebutan Tandak yang berarti penari ini berawal karena di tempat itu sering dijadikan lokasi untuk merias diri para tandak (penari).

Nama wilayah ini karena ada pohon yang bentuknya mirip tangan. Kemudian dari Kitab Pararaton, yang memuat rekam raja-raja Singasari dan Majapahit, tempat ini pernah menjadi lokasi persembunyian Ken Arok yang diburu oleh Tunggul Ametung. (psr)


Baca Juga:

Menelusuri The Great Asia Africa Bersama Travel Trip, Sensasi 7 Negara di Lembang

Kredit : paksi


Paksi Suryo Raharjo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH