Kabar Duka Selagi Chrisye Manggung di Amerika Chrisye berpose dengan latar belakang Patung Liberty. (Koleksi Keluarga)

RUMAH keluarga Rahadi nampak lebih ramai. Tamu berdatangan hilir-mudik. Empunya rumah menggelar syukuran kecil untuk menyambut kepulangan anak kedua pasangan Laurens-Hanna Rahadi dari Amerika pada pengujung tahun 1973.

Syukuran kecil itu membawa perubahan besar bagi Chriyse. Paling tidak, papinya sudah sangat bisa menerima pilihannya untuk berkarir di dunia musik. “Papi sudah bersikap jauh lebih empuk,” ungkap Chrisye dikutip Alberthiene Endah pada Chrisye Sebuah Memoar Musikal. Suasana rumah pun jadi lebih bersahaja.

Sebulan lebih Chrisye menikmati hari-hari bersama keluarga, dengan mami-papi, Joris kakaknya dan Vicky adiknya. Mereka terkadang tenggelam dalam obrolan santai bersulur tawa.

Di luar rumah, anggota Gipsy lainnya, terutama Keenan dan Gauri Nasution sedang kasak-kusuk membuat proyek musik baru. Mereka tak ingin lagi menjadi duplikat band-band luar negeri. “Kami ingin bikin sesuatu. Yang beda. Yang orang lain belum pernah bikin,” ujar Keenan kepada merahputih.com

Mereka kemudian bertemu Guruh Soekarno Putra, putra presiden pertama RI. Keenan semula telah mengenal Guruh dan sering terlibat percakapan seru tentang musik. Guruh sangat gemar musik dan kesenian tradisional. Dari pertemuan itu muncul ide menggabungkan dua karakter musik berbeda. “Filosofinya, Barat ketemu Timur tapi lewat musik,” imbuh Keenan.

Setelah hampir matang mengonsep, menurut Keenan, mereka kemudian mengajak seniman musik tradisional Bali, Kompyang Raka, untuk berkolaborasi. Paduan musik Barat dengan skala nada pentatonik bertemu dan berjalin dengan musik tradisi berskala diatonik. Mereka menamai proyek besar ini Guruh Gipsy, kerjasana apik Gipsy Band dan Guruh Soekarno Putra, plus Kompyang Raka.

“Saat kolaborasi di Guruh Gipsy, kami akhirnya punya identitas sebagai pemusik. Lagu juga bikinan sendiri, enggak jadi band cover lagi,” ungkap Keenan.

Di tengah kesibukan Guruh Gipsy, Chrisye tak ambil porsi banyak karena tak lama lagi akan kembali berangkat ke Amerika. Tampil di tempat sama, Restoran Ramayana, New York, bukan dengan Gipsy, melainkan The Pro`s.

Chrisye berangkat bersama para personel The Pro`s: Abadi Soesman, Dimas Wahab, Ronny Makasutji, dan Broery Marantika pada pembuka tahun 1974.

Bersama The Pro`s, Chrisye kembali mengulang aktiftas serupa bersama Gipsy pada tahun lalu, bangun tidur, makan, latihan, lalu manggung. Begitu terus selama setahun. Kebosanan pun melanda. “Tapi, sekaligus permainan saya berjalan tanpa jiwa sama sekali,” ungkap Chrisye.

Di sisa masa akhir kontrak manggung, sebuah kabar mengejutkan datang dari Jakarta. Suara telpon berdering keras memanggil Chrisye. Di ujung telepon suara Joris sang kakak agak serak dan patah-patah mengabarkan kabar duka.

“Chris.... Jangan sedih... Vicky meninggal,” ucap Joris dengan nada berat.

Chrisye tak percaya. Dia meminta Joris mengulang kata-katanya.

“Bagaimana bisa?”

“Sakit di perutnya makin parah,” jawab Joris.

“Saya pulang sekarang, Jo!”

“Enggak usah... Karena siang ini juga akan dimakamkan. Kamu selesaikan saja dulu pekerjaanmu,” pinta Joris seraya menenangkan sang adik. Vicky meninggal akibat luka parah di dalam perut setelah kecelakaan sepeda motor setahun sebelumnya.

Masa kerja bersama The Pro`s menyisakan beberapa minggu lagi. Tapi Chrisye kesulitan fokus. Dia masih mengingat kenangan manis bersama adiknya, Vicky. Masa-masa nakal bersama menonton balap liar di Jalan Diponegoro, menimpuki kereta api dengan batu. Kenangan itu sulit terhapus.

Dimas, Abadi, dan rekan The Pro`s lainnya coba menyemangati. Mereka sadar keadaan Chrisye sedang dirundung duka. “Chris, bertahanlah. Kita segera pulang...” kata mereka.

Berusaha tetap tampil apik di atas panggung tapi masih membayang kepergiaan Vicky merupakan masa paling berat baginya. “Saya mencabik bas, bernyanyi, pura-pura gembira. Sementara hati saya benar-benar terkoyak emosi. Pikiran saya bercabang dua. Antara memikirkan performa dan terus membayangkan Vicky”. (*)



Yudi Anugrah Nugroho