Jutaan Millenials Tidak Bisa Gunakan Peta Kemampuan membaca peta tradisional tidak dimiliki oleh kaum millenials. (Foto: Pexels/rawpixel.com)

ERA digital memungkinkan orang membawa apapun hanya dalam genggaman, termasuk peta. Berbagai aplikasi peta memudahkan seseorang pergi dari poin A ke poin B dan seterusnya. Fokus hanya tanda yang diberikan oleh aplikasi.

Kemudahan ini ternyata memberikan efek samping lainnya. Orang mulai tidak menggunakan peta berbasis kertas. Apalagi kaum millenials yang tidak terbiasa dengan peta kertas dibandingkan peta digital. Padahal peta digital membutuhkan koneksi internet untuk dapat terbaca.

peta
Teknologi memudahkan untuk mencari arah pada peta digital. (Foto: Pexels/Pixabay)

Menurut laman Mirror, studi yang dilakukan pada seribu millenial dan seribu orang dewasa sampai usia 39 tahun, menemukan bahwa kelompok umur 23-38 tahun dipastikan tidak pernah melihat peta kertas. Juga diperoleh data kaum millenials menggunakan peta digital dalam ponsel pintarnya sebanyak lima kali dalam sebulan, atau dalam kata lain seminggu sekali. Bahkan jadi sering melihat peta digital bila bepergian ke tempat baru.

Sementara kelompok umur 39 tahun ke atas hanya menggunakan peta digital rata-rata dua kali dalam sebulan.

Generasi muda memang tidak diajari membaca peta yang sesungguhnya. Semua bergantung pada teknologi yang ada pada saat ini. Sebab teknologi peta digital saat ini sangat mudah untuk diakses. Celakanya 53% dari responden millenials mengakui bahwa mereka kesulitan untuk menemukan jalan tanpa ponsel pintar mereka itu.

peta
Diperlukan kemampuan untuk membaca peta tradisional dan peta digital. (Foto: Pexels/rawpixel.com)

Studi yang dibuat oleh Ordnance Survey dan National Map reading Week, merekam bahwa hanya 18% kaum millenials yang merasa yakin menggunakan peta kertas. Sementara sisanya tidak mampu melihat arah di peta kertas itu.

Laman mirror menuliskan, peta digital memungkinkan dan memudahkan orang untuk keluar rumah, jelas Nick Giles dari Ordnance Survey Leisure. Namun teknologi yang ada bergantung pada daya batere dan sinyal di ponsel pintar. Ketika semua tidak tersedia, maka peta kertas memainkan perannya. Jadi sudah seharusnya orang juga pandai membaca peta kertas di samping peta digital.


Studi tersebut juga menampung saran generasi muda yang ingin melihat ada coffee shop, bar dan lainnya dari kehidupan mereka pada peta tradisional. Sementara itu orang berusia 38 tahun prihatin bahwa generasi di bawah mereka tidak memiliki kemampuan membaca peta tradisional. (psr)

Kredit : paksi


Paksi Suryo Raharjo