Jumlah Penderita AIDS di Indonesia Tinggi, Pendidikan Seks Rendah

SEBUAH survei pada 2019 yang diungkapkan Reckitt Beckinser Indonesia bersama dengan Kementerian Kesehatan, dan Kelompok Studi Infeksi Menular Seksual (KSIMSI) mendapati bahwa kepedulian masyarakat seputar pendidikan seksual, terutama HIV/AIDS, masih amat minim. Hal itu turut andil dalam menjadikan Indonesia sebagai negara urutan ketiga jumlah penderita HIV/AIDS terbanyak di Asia Pasifik.

Seperti dilansir Hellosehat, survei yang juga dilaksanakan Durex RB Indonesia dengan JAKPAT itu meliputi tiga kalangan, yaitu pasangan menikah, orangtua, serta anak muda yang menetap di lima kota besar Indonesia. Tujuan utama survei itu ialah menghapus stigma mengenai penyakit menular seksual (PMS), khususnya HIV/AIDS, dengan cara mendukung edukasi seksual di berbagai lingkup sosial.

BACA JUGA: Kesamber Desember!

Saat memaparkan hasil survei tersebut, Ketua Umum Kelompok Studi Infeksi Menular Seksual (KSIMSI) dr Hanny Nilasari, SpKK, menekankan pentingnya edukasi seksual sebagai bentuk pencegahan HIV. “Infeksi menular seksual menjadi salah satu pintu masuk penularan HIV. Selama ini, usaha pencegahan telah dilakukan melalui kampanye dan edukasi pada populasi sehat, terutama pada remaja. Menahan diri untuk tidak berisiko IMS (infeksi menular seksual) menjadi hal wajib yang perlu digaungkan, agar bangsa Indonesia sehat dan menghasilkan generasi yang kuat,” ujar Hanny.

Meskipun pengetahuan seputar HIV/AIDS amat penting, sayangnya masih banyak isu seputar kesehatan reproduksi yang belum didiskusikan secara terbuka oleh para remaja, orangtua, dan pasangan menikah.

Hanya 20,19% responden orangtua dan remaja yang membahas risiko kesehatan apabila menikah dan hamil di bawah 20 tahun. Selain itu, hanya 19,23% orangtua dan remaja yang pernah membahas adanya potensi HIV/AIDS dengan bergonta-ganti pasangan seksual. Hal itu diperparah belum banyak orangtua dan remaja yang mendiskusikan pentingnya menggunakan alat kontrasepsi untuk menghindari HIV/AIDS. Hanya 10% responden yang mendiskusikan isu tersebut.

father
Pendidikan seksual dari orangtua amat penting. (foto: pixabay/olichel)

Akibat rendahnya pengetahuan seputar HIV/AIDS, miskonsepsi atau kesalahpahaman tentang penyakit ini masih beredar secara luas di masyarakat. Dari hasil survei tersebut, 3 dari 10 remaja percaya bahwa interaksi sehari-hari dengan penderita HIV/AIDS dapat menularkan penyakit tersebut. Bahkan, 55% dari responden remaja meyakini bahwa berciuman dapat menyebabkan penularan HIV/AIDS.

Meskipun demikian, baik orangtua, remaja, maupun pasangan suami istri sebenarnya menyadari bahwa pendidikan mengenai kesehatan seksual penting untuk diberikan secara lebih mendalam.

Namun, mayoritas, sekitar 61% remaja, mengakui mereka merasa takut membicarakan topik tersebut dengan orangtua mereka karena takut dihakimi. Bahkan, sekitar 57% responden merasa lebih nyaman mendiskusikannya dengan teman-teman sebaya.

Padahal nih, sebagian besar orangtua sebenarnya mendukung pentingnya edukasi seksual dan kesehatan reproduksi. Akan tetapi, 63% responden orangtua takut apabila mereka memberikan edukasi seksual kepada anak berarti mereka membuka peluang bagi anak untuk melakukan hubungan seks sebelum menikah.

adult
Pasangan menikah juga perlu membahas topik kesehatan seksual. (foto: pixabay/sasint)

Selain takut, 64% orangtua juga masih merasa tabu untuk mengangkat topik berbau kesehatan seksual ketika berdiskusi bersama anak. Hal ini menunjukkan bahwa isu kesehatan seksual dan reproduksi masih memiliki stigma yang kuat di kalangan masyarakat Indonesia.

Senada, responden pasangan menikah juga enggan membahas isu yang sama. Salah satu alasan mereka enggan membicarakan kesehatan reproduksi ialah menghindari penghakiman dari keluarga.

Oleh karena itu, lewat survei tersebut, ditekankan betapa pentingnya pengetahuan seksual untuk mencegah dan menghindari HIV/IDS sekaligus menghilangkan stiga seputar penyakit tersebut.(*)


Tags Artikel Ini

Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH