Jokowi Diingatkan Benahi Ekonomi Dikuasai Asing, Bukan Sibuk Urus Isu Radikal Presiden Joko Widodo. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari.

Merahputi.com - Tokoh Persaudaraan Alumni 212, Eggi Sudjana menilai persoalan bangsa Indonesia saat ini bukanlah radikalisme, melainkan persoalan ekonomi. Apalagi, pertumbuhan ekonomi hanya berkisar 5 persen.

“Ekonomi yang membuat kita impor melulu,” ujar Eggi kepada wartawan di Jakarta Selatan, Rabu (6/11).

Baca Juga:

Secara Moral, Harusnya Presiden Jokowi Terbitkan Perppu KPK

Ia menilai ketika Presiden Joko Widodo menempatkan radikalisme menjadi narasi utama dalam menyikapi persoalan bangsa ini, maka Presiden sedang salah dalam mengambil langkah. “Jokowi sudah nggak benar menurut saya, saya tegas,” ujarnya.

Eggi juga memberikan kritik kepada Presiden Joko Widodo yang tetap mempertahankan posisi menteri di bidang ekonomi yang tidak memiliki kualitas kerja maksimal. “Kemudian mentri ekonominya hanya itu-itu aja, padahal kita lihat tidak ada kerjanya yang begitu menonjol,” papar politikus PAN ini.

Eggi menilai bahwa Indonesia tidak akan sejahtera ketika sumber daya alam yang dimiliki negara justru dikelola dan dikuasai oleh asing. “Bagaimana masyarakat mendapatkan ekonomi lebih baik kalau hasil kekayaannya kita seperti Freeport, minyak, rempah-rempah dikasih ke Amerika dan negara-negara lainya, lalu apa kesejahteraan bangsa ini,” tandasnya.

Presiden Jokowi dalam acara diskusi mingguan dengan wartawan kepresidenan di Istana Merdeka Jakarta, Jumat (1/11). ANTARA FOTO/Desca Lidya Natalia.
Presiden Jokowi dalam acara diskusi mingguan dengan wartawan kepresidenan di Istana Merdeka Jakarta, Jumat (1/11). ANTARA FOTO/Desca Lidya Natalia.

Namun Eggi menyatakan jika dirinya tidak ingin menyerang personal menterinya, melainkan hanya ingin menyoroti kebijakannya saja. “Saya tidak menjudge orangnya ya tetapi kebijakannya. Bagaimana kita lihat di periode pertamanya menjadi mentri ekonomi, bensin harga naik 10 kali dalam 1 periode ini,” jelas Eggi.

Lebih lanjut, Eggi juga menyatakan bahwa apapun kritikan yang disampaikan kepada pemimpin harus dilakukan dengan hati-hati.

Yakni berhati-hati agar bangsa Indonesia tidak terpecah-belah dan kritikan bukan untuk kepentingan pribadi melainkan murni kepentingan yang lebih besar lagi. “Saya kira jelas kritis tetap saya jaga, mari menjaga bangsa kita ini agar tidak terpecah belah, demi kepentingan negara,” tuturnya.

Baca Juga:

Jokowi Ogah Teken Perppu KPK karena Alasan Sopan Santun

Ia menyatakan akan terus memberikan kritikan kepada pemerintahan Joko Widodo dan KH Maruf. Dan ia meminta agar setiap orang yang melakukan countering terhadap dirinya agar mengedepankan nilai-nilai intelektualitas dan fakta yang ada.

“Mungkin pendukungnya Jokowi tidak terima ini, tetapi ‘bantai’ saya dengan intelektual dan fakta-fakta,” pungkasnya. (Knu)



Angga Yudha Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH