Jokowi dan Filosofi Sepeda Presiden Joko Widodo bersama lima peserta perayaan Imlek Nasional 2019 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, (7/2) (MP/Rizki Fitrianto)

MerahPutih.com - Sering kali dalam berbagai kunjungan ke daerah-daerah kita menyaksikan Presiden Jokowi membagikan sebuah sepeda kepada para undangan yang hadir, biasanya pak Jokowi akan memberikan hadiah sebuah sepeda setelah ada semacam kuis atau pertanyaan yang harus dijawab oleh tamu yang terpilih.

Tidak hanya itu jika kita sempat berkunjung ke daerah-daerah kita bisa melihat foto-foto beliau di bandara-bandara yang tersebar di Indonesia yang sedang mengayuh sepeda. Pertanyaan yang muncul dalam pikiran kita, kenapa harus Sepeda?

Baca Juga: Sayembara Hadiah Sepeda Kasus Novel Telak Sindir Jokowi

Ketua Umum DPN Perempuan Tani HKTI, Dian Novita Susanto.
Ketua Umum DPN Perempuan Tani HKTI, Dian Novita Susanto

Sepeda atau kereta angin adalah kendaraan roda dua yang diyakini ditemukan di Perancis pada abad ke 18 dan terjadi penyempurnaan dari masa kemasa sampai akhirnya pada tahun 1888 John Dunlop menemukan teknologi ban angin. Penemuan lainnya, seperti rem, perbandingan gigi yang bisa diganti-ganti, rantai, setang yang bisa digerakkan, dan masih banyak lagi makin menambah daya tarik sepeda.

Sejak itu, berjuta-juta orang mulai menjadikan sepeda sebagai alat transportasi, dengan Amerika dan Eropa sebagai pionirnya. Meski lambat laun, perannya mulai disingkirkan mobil dan sepeda motor, sepeda tetap punya pemerhati. Bahkan penggemarnya dikenal sangat fanatik.

Saking fanatiknya sekarang kita bisa melihat perkumpulan atau klub-klub sepeda mulai tumbuh dimana-mana dari yang kelas bawah sampai yang klub elit paling atas, bahkan harga sepeda pun tergolong fantastis untuk jenis tertentu. Sepeda balap termahal di bandrol bahkan sampai mencapai ratusan juta rupiah.

Baca Juga: Tak Lagi Beri Sepeda, Presiden Jokowi: Hadiah Ini Lebih Mahal

Sekilas kita melihat sepeda hanya kendaraan roda dua yang digunakan sebagai transportasi, tetapi jika kita meresapi lebih dalam, maka kita akan menemukan makna dan filosofi yang tergandung didalamnya.
Untuk dapat menjalankan sepeda kita harus mengayuh sepeda untuk melaju dan terus bergerak ke depan dengan tetap menjaga keseimbangan, menjaga keseimbangan ketika mengayuh sepeda diperlukan untuk dapat menjalankannya dengan baik. Seperti itulah kira-kira dalam menjalankan sepeda.

Begitupun dalam kehidupan, keseimbangan harus dapat diaplikasian dalam hal belajar, berfikir, tindakan, dan mental. Jika ke empat esensi ini tidak bisa kita kuasai maka kita akan gagal menaklukkan dunia.

Jangan takut menerima kegagalan, kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda dan dari kegagalan kita dapat menjadikan pelajaran dalam melangkah ke depan. Always learn and never give up, hal ini sama ketika kita masih kecil saat belajar bersepeda, tentu sering mengalami jatuh, tetapi kita tidak pantang menyerah dan tetap semangat mengayuh sepeda.

Hidup bagaikan sepeda yang terus maju ke depan, tataplah masa depan dengan semangat dengan tidak mudah menyerah dalam belajar. Jika terjatuh bangkitlah dan jangan menghawatirkan masa lalu. Jadikan masa lalu sebagai guru untuk membantu kita menjadi lebih baik. Kira-kira itulah yang ingin disampaikan dari filosofi sepeda.

Para WNI yang berebut ingin mendapatkan sepeda dari Presiden Jokowi. (Setpres/Bey Machmudin)
Para WNI yang berebut ingin mendapatkan sepeda dari Presiden Jokowi. (Setpres/Bey Machmudin)

Jadi, terjawab sudah mengapa sepeda yang dibagi-bagikan oleh bapak presiden kita dan ada foto-foto beliau yang sedang mengayuh sepeda di bandara-bandara. Mari menatap masa depan dengan semangat dan optimis seperti filosofi sepeda. Selamat hari kemerdekaan ke 74th. SDM Unggul Indonesia Maju.

Baca Juga: Jokowi Takut Disemprit Gara-Gara Bagikan Hadiah Sepeda

Tulisan ini merupakan opini dari Ketua Umum DPN Perempuan Tani HKTI, Dian Novita Susanto.


Tags Artikel Ini

Andika Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH