Pilpres 2019
JK: Kalau Survei Jelek, Jangan Menangis Wakil Presiden Jusuf Kalla tiba di pendapa Balaikota Solo membuka acara Rakornas Baznas di Solo, Jawa Tengah, Senin (4/3) malam.(MP/Ismail)

Merahputih.com - Ketua Dewan Pengarah TKN Jokowi-Ma'ruf, Jusuf Kalla mengaku jarang membaca hasil survei terkait elektabilitas pasangan capres-cawapres menjelang pilpres.

yang terpenting dalam kampanye, bagi peserta pilpres, adalah kerja keras dari pasangan tersebut untuk membangun Indonesia, sehingga dapat menaikkan keterpilihan di kalangan pemilih.

"Saya jarang baca survei, yang penting kerja keras. Jangan karena survei baik, lalu orang berhenti kerja. Kalau survei jelek, lalu menangis. Jangan. Pokoknya anggap saja semua itu 50-50 supaya ada kerja keras," kata JK di Jakarta, Selasa (12/3).

Wakil Presiden Jusuf Kalla (ANTARA FOTO/Widodo S Jusuf)

Meski jarang membaca hasil survei, namun JK menyatakan bahwa elektabilitas Jokowi-Ma'ruf Amin terus menanjak.

"Saya jarang membaca hasil-hasil survei, karena terlalu banyak surveinya. Tapi yang jelas, dari hari ke hari, angka elektabilitas Pak Jokowi dan Pak Ma'ruf Amin itu naik," jelas JK seperti dikutip Antara.

Terkait beragamnya survei yang dilakukan oleh masing-masing pasangan calon peserta pilpres, JK menilai hal itu wajar dilakukan oleh tim sukses karena ada upaya untuk mengkampanyekan capres-cawapres.

"Ya itu masing-masinglah. Namanya juga (survei) internal, mau 100 persen kek, kenapa tidak sekalian saja?" tambahnya. (*)

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Jokowi: Ekonomi Mulai Bangkit
Indonesia
Jokowi: Ekonomi Mulai Bangkit

Presiden mengatakan, 2021 adalah tahun yang penuh harapan. Pemerintah berupaya keras untuk menuntaskan masalah kesehatan karena pandemi COVID-19.

Update Corona DKI Jumat (19/6): 9.525 Positif, 4.682 Sembuh
Indonesia
Update Corona DKI Jumat (19/6): 9.525 Positif, 4.682 Sembuh

Sedangkan, untuk Orang Dalam Pemantauan (ODP) berjumlah 22.798 orang dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) sebanyak 14.491 orang.

Kegiatan Kepolisian Dianggap Berbahaya karena Picu Penyebaran Corona
Indonesia
Kegiatan Kepolisian Dianggap Berbahaya karena Picu Penyebaran Corona

Tindakan yang dilakukan jajaran kepolisian terkesan bertolak belakangan dengan perintah Presiden Jokowi.

Vonis Dua Tahun tanpa Terungkap Aktor Intelektual, Sidang Penyerangan Novel Berakhir Antiklimaks
Indonesia
Vonis Dua Tahun tanpa Terungkap Aktor Intelektual, Sidang Penyerangan Novel Berakhir Antiklimaks

Suparji meminta pihak kepolisian untuk tetap mencari dalang dari aksi penyiraman tersebut.

Wabah Corona Jadi Bencana Nasional, Pemerintah: Semua Daerah Harus Satu Kendali
Indonesia
Wabah Corona Jadi Bencana Nasional, Pemerintah: Semua Daerah Harus Satu Kendali

Yuri menegaskan, data ini dapat dilihat oleh siapa pun. data ini terbuka sehingga masyarakat dapat melihat secara transparan.

Ronny Bugis Divonis 1,6 Tahun Penjara
Indonesia
Ronny Bugis Divonis 1,6 Tahun Penjara

Ronny Bugis dan Rahmat Kadir mengaku menerima hukuman yang dijatuhkan keduanya.

Pesan Khusus 'Tahanan KPK' di TPS 037 untuk Gibran Jokowi dan Bagyo
Indonesia
Pesan Khusus 'Tahanan KPK' di TPS 037 untuk Gibran Jokowi dan Bagyo

Hari pencoblosan Pilkada Serentak 2020 bertepatan dengan Hari Antikorupsi se-Dunia 9 Desember.

5.800 Mobil/Motor Coba Terobos Larangan Mudik, Total Pelanggar PSBB 23 Ribu
Indonesia
5.800 Mobil/Motor Coba Terobos Larangan Mudik, Total Pelanggar PSBB 23 Ribu

Dari 5.809 kendaraan pemudik yang diputar balik, 466 di antaranya pemudik sepeda motor.

Polisi Segera Panggil Andre Taulany dan Rina Nose
Indonesia
Polisi Segera Panggil Andre Taulany dan Rina Nose

Keduanya dituding menyinggung dengan memplesetkan nama keluarga besar dari Prilly Latuconsina

Satpol PP DKI Minta FPI Turunkan Baliho Rizieq Shihab
Indonesia
Satpol PP DKI Minta FPI Turunkan Baliho Rizieq Shihab

Apabila tak secepatnya dicopot, ancam Arifin, pihaknya bersama aparat TNI bakal menurunkan baliho yang masih terpasang di ibu kota.