Jika Konversi Sukses, Indonesia Krisis Gas 2019 Petugas PT. Pertagas Niaga melakukan pengecekan instalasi Meter Regulating Station (MRS) di Jambi, Kamis (9/4). (Foto Antara/Vitalis Yogi Trisna)

MerahPutih Bisnis - Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) terus berupaya mengurangi pemakaian minyak tanah dengan melakukan konversi Bahan Bakar Minyak (BBM) ke Bahan Bakar Gas (BBG). Namun, jika program tersebut sukses malah dapat menambah beban impor gas pemerintah.

"Kalau semua orang menggunakan gas atau katakanlah program konversi BBM ke BBG ini berhasil, justru akan timbul masalah. Kalau ditahun 2019 nanti kita semua sudah menggunakan gas, kita harus siap-siap impor gas lebih banyak," ujar anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Rinaldi Dalimi dalam acara diskusi Energi Kita bertema "Prospek Energi Baru di Tengah Pelemahan Ekonomi" di Gedung Dewan Pers, jalan Kebon Sirih No 32-34, Jakarta Pusat, Minggu (29/11). 

Lebih jauh, Rinaldi menjelaskan 50 persen produksi gas Indonesia untuk pasar ekspor sementara kebutuhan di dalam negeri saat ini melebihi 50 persen. 

Di satu sisi kita menjalin kerjasama kontrak gas dengan asing untuk jangka panjang. Jadi bukan kita tidak punya gas, tapi gas yang punya kita itu sudah dikontrak dan dipakai sama asing. Kalau semua gas di dalam negeri tidak dipakai oleh asing nah itu kita cukup. Karena cadangan gas kita cukup besar," jawabnya.

Saat ini pemerintah membatasi kontrak untuk jangka panjang guna memenuhi kebutuhan gas dalam negeri. "Jadi saat ini kontrak jangka panjangnya harus tidak ada lagi," pungkasnya. (rfd)

BACA JUGA:

  1. EBT Sulit Berkembang karena Antarinstansi Tidak Kompak
  2. DEN Yakin BBN dan Gas Perkotaan Tidak Berbenturan
  3. DEN: Pengembangan Energi Alternatif Tergantung Komitmen Pertamina
  4. Pertamina Merugi Rp1,56 Triliun Akhir 2015
  5. Pungutan CPO Berdampak Terhadap Kenaikan Harga Sawit


Luhung Sapto

LAINNYA DARI MERAH PUTIH