Jeruk Dekopon, Jurus enggak Cengeng Andalan Warga Magetan Jeruk dekopon jadi andalan warga Magetan di tengah pandemi. (foto: Instagram @sakura_oshiro_yakimura)

SELALU ada jalan keluar di tengah kesulitan. Itulah optimisme yang dianut sebagian warga Magetan. Saat pandemi COVID-19 meruntuhkan perekonomian, mereka mengubah hal itu menjadi tantangan. Alih-alih melihatnya sebagai kendala yang membuat cengeng.

Dengan semangat enggak cengeng di tengah pandemi, para petani jeruk dekopon asal Magetan kini malah menikmati masa panen. Giman, salah seorang petani jeruk asal Jepang itu, mengungkapkan panen perdananya kali ini merupakan buah hasil kerja sama dengan kelompok tani hasil budi daya sejak tiga tahun lalu.

BACA JUGA:

Frozen Food, Bisnis Enggak Cengeng di Tengah Pandemi

Jeruk dekopon merupakan varietas atau ragam dari jeruk Mandarin. Jeruk berkualitas tinggi ini jenis hibrida dari jeruk kiyomi dan ponkan yang sudah dikembangkan Jepang pada 1972.

Jeruk asal 'Negeri Sakura' ini unik. Ada benjolan di bawah tangkai buah. Itulah yang membuat buah ini disebut jeruk bermahkota. Jeruk ini juga tanpa biji, berwarna oranye bila sudah tua, dan memiliki rasa sangat segar yang cenderung manis.

jeruk dekopon
Jeruk dekopon dari Magetan diminati pasar. (foto: Instagram @magnoliaflowresherbs)

Giman mengaku bersyukur kerja kerasnya selama tiga tahun ini membuahkan hasil. "Bahkan, jeruk keprok dekopon ini banyak diminati pasar di luar Magetan,” tutur Giman yang merupakan petani mitra CV Usaha Pangan Sejahtera saat ditemui Jumat (26/6).

Sementara itu, Ahmad Baiquni, pemilik CV Usaha Pangan Sejahtera, mengatakan jenis jeruk dekopon di Indonesia masih tergolong baru dan langka. “Di Jawa Timur, ya baru dan satu-satunya di Magetan ini ditanam dan dikembangkan. Kami mulai menanam jeruk dekopon ini sejak tiga tahun lalu dengan menanam sekitar 5.000 pohon,” terangnya.

dekopon
Budi daya jeruk dekopon angkat kesejahteraan petani di Magetan. (foto: istimewa)

Menurutnya, budi daya jeruk dekopon ini membuat kesejahteraan petani Magetan naik kelas. Hasilnya menjanjikan. Jika jeruk lain dijual dengan kisaran harga Rp15 ribu-Rp30 ribu per kg, jeruk dekopon bisa laku terjual hingga Rp80 ribu/kg.

Harga jual yang cukup menjanjikan itulah yang membuat Baiquni yakin jeruk jenis ini bisa mendatangkan kesejahteraan bagi para petani di Magetan. "Prospek bisnisnya pun sangat bagus. Tentunya berbudi daya jeruk Dekopon ini mampu menaikkan taraf hidup petani lokal Magetan,” kata Baiquni.(*)


Tags Artikel Ini

Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH