Jenis-Jenis Kain Paling Berkelanjutan

Hendaru Tri HanggoroHendaru Tri Hanggoro - Jumat, 30 Juni 2023
Jenis-Jenis Kain Paling Berkelanjutan
(Foto: Pexels/Isra NilgunOzkan

BELI ini, beli itu saban awal bulan saat gajian datang. Rasanya sudah jadi ritual yang wajib dilakukan. Terlebih lagi untuk pakaian yang sedang hype dan ada promo di selingkarnya.

Kita terbiasa berbelanja pakaian sampai kalap ketika ada promo, lalu mengabaikannya setelah ada promo lain atau trennya habis. Tanpa menyadari alam telah dikorbankan untuk membuat satu pakaian musiman demi bergaya.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengungkapkan bahwa Indonesia menghasilkan sekira 2,7 juta ton limbah tekstil per tahun. Limbah tekstil termasuk baju-baju musiman yang tidak akan dipakai dua kali.

Untuk mengurangi perusakan alam yang dihasilkan dari pembuatan pakaian, sekarang ini mulai bermunculan bahan kain yang ramah lingkungan menurut Good on You.

Baca juga:

Where Next Club Menginspirasi Generasi Perubahan Lewat Fashion Berkelanjutan

kain berkelanjutan
Serat nabati kapas umum digunakan sebagai bahan kain. (Foto: Pexels/Tahir Osman)

1. Serat Nabati


Serat nabati kapas umum digunakan sebagai bahan kain. Namun, kapas konvensional membutuhkan penggunaan pestisida dan bahan kimia yang intensif serta berbahaya sehingga menjadi ancaman bagi planet ataupun petani yang menanamnya.

Alternatif yang lebih berkelanjutan adalah kapas organik yang memiliki sertifikasi GOTS. Kapas daur ulang juga bisa jadi alternatif terbaik yang ramah lingkungan karena dibuat dari limbah kapas bekas pakai.

Rami organik bisa juga dijadikan pilihan karena seratnya berasal dari tanaman yang membutuhkan sedikit air, tidak memerlukan penggunaan pestisida, dan dapat digunakan sebagai makanan, bahan bangunan, kosmetik, serta kain. Bahan ini sangat fleksibel, hangat pada musim dingin, dan sejuk pada musim panas.

Linen organik, serupa dengan rami, adalah serat yang berasal dari tanaman yang memerlukan sedikit air dan pestisida, serta dapat digunakan untuk pakaian yang tahan rayap. Selain itu, semua bagian tanaman dapat digunakan sehingga tidak ada yang terbuang percuma.

Baca juga:

Eyelike, Gantungan Kacamata yang Berkelanjutan

kain berkelanjutan
EKONYL merupakan benang daur ulang yang berasal dari limbah sintetis seperti plastik industri, kain limbah, dan jaring ikan dari laut. (Foto: Pexels/Cottonbro Studio)


2. Serat Hewani

Serat hewani seperti wol daur ulang bisa juga menjadi alternatif yang ramah lingkungan. Penggunaan wol daur ulang yang sudah ada dapat mengurangi permintaan untuk wol murni dengan harga yang lebih tinggi. Wol daur ulang juga mudah dicampur dengan bahan lain seperti bulu domba.


3. Kain Inovatif

EKONYL merupakan benang daur ulang yang berasal dari limbah sintetis seperti plastik industri, kain limbah, dan jaring ikan dari laut. Meskipun berasal dari bahan daur ulang, benang ECONYL memiliki kualitas yang sama dengan benang nilon murni.

Pembuatan ECONYL juga menggunakan lebih sedikit air dan menghasilkan lebih sedikit limbah dibandingkan dengan pembuatan benang nilon konvensional.

Terakhir, ada Bananatex atau kain tahan lama pertama di dunia yang dibuat murni dari tanaman pisang. Tanaman pisang itu dibudidayakan di Filipina melalui campuran pertanian dan kehutanan sehingga tidak memerlukan pestisida, pupuk, atau air tambahan.

Kain Bananatex telah disertifikasi Cradle to Cradle Gold dan memiliki potensi untuk menjadi alternatif yang benar-benar melingkar untuk kain sintetis yang sudah ada di pasaran, berkontribusi terhadap reboisasi, dan meningkatkan keanekaragaman hayati serta kemakmuran ekonomi para petaninya. (kmp)

Baca juga:

Jualain Fesyen Berkelanjutan dalam koleksi 'Bloom in September'

#Sustainability #Pakaian
Bagikan
Bagikan