Jelang Kelahiran si Kecil, Jangan Lupa Asuransi Persalinan! Jelang kedatangan si kecil banyak yang harus dilakukan. (Foto: Pixabay/alessandraamendess)

PERSIAPAN kehadiran jabang bayi umumnya lebih pada persiapan kebutuhan si bayi. Seperti ruangan yang nyaman, tempat tidurnya, baju-bajunya, peralatan mandi sampai urusan makanannya.

Padahal bukan hanya itu mempersiapkan kehadiran anggota keluarga baru. Banyak hal lainnya harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya, seperi yang dimuat dalam alodokter.

Baca Juga:

Jangan Panik! Ini Alasan Kenapa Kepala Bayi Sering Berkeringat

Asuransikan persalinan

asuransi
Perlu untuk mengasuransikan persalinan untuk berjaga-jaga saja. (Foto: Pixabay/rawpixel.com)


Salah satu persiapan yang harus dilakukan adalah mengansuransikan persalinanmu. Asuransi ini dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan buruk yang akan terjadi. Melalui asuransi, proses persalinan dijamin secara finansial. Tak hanya ibu, asuransi calon anak juga diberikan. Persiapan jika bayi yang baru lahir memerlukan penanganan intensif. Penanganan intensif di NICU membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Meski merasa berkecukupan, tak ada salahnya memasukan si kecil pada asuransi. Selain mengurangi beban pikiran, pihak asuransi akan menanggung seluruh biayanya.


Vaksinasi

vaksin
Vaksin yang aman untuk ibu hamil dan janin. (Foto: Pixabay/qimono)

Diperlukan vaksin untuk pembentukan antibodi bagi ibu hamil. Guna melindungi tubuh dari serangan bakteri atau virus. Namun tidak semua vaksin baik untuk janin. Penting untuk mengetahui vaksin mana saja yang harus dilakukan, mana yang diabaikan.

Vaksin influenza, vaksin hepatitis B dan vaksin DPT yang perlu dilakukan saat kehamilan. Vaksin influenza mampu cegah komplikasi flu yang lumrah terjadi saat musim pancaroba. Vaksin ini juga mengurangi risiko persalinan prematur. Berbeda dengan vaksin hepatitis B dan DPT. Pemberian vaksin hepatitis B hanya untuk ibu hamil yang berganti pasangan seksual selama enam bulan terakhir. Untuk menghindari penyakit difteri, pertusis atau batuk rejan dan tetanus melalui vaksin DPT.


Baca Juga:

Bunda, Jangan Pernah Bawa Bayi ke dalam Bioskop! Ini Alasannya


Kesehatan gigi dan gusi

gigi
Perubahan hormon mempengaruhi gigi dan gusi. (Foto: Pixabay/geralt)


Sepertinya tidak ada hubungan antara kesehatan gigi-gusi dengan kehamilan. Tapi pembengkakan akibat perubahan hormon ini mempelancar aliran darah sehingga gusi lebih rentan terinfeksi. Perhatikan cara menggosok gigi sehari-harinya. Jangan terlalu cepat dan kasar. Gunakan benang gigi atau dental floss. Bisa juga berkumur dengan air garam atau campuran baking soda. Hindari merokok, mengonsumsi makanan atau minuman terlalu manis dan beralkohol. Penumpukkan karang gigi bisa terjadi karena pola hidup ibu hamil yang tidak sehat. Lagipula baik juga menjaga gigi tetap sehat, malu kalau nanti melahirkan gigi si ibu kuning.

Rutin berolahraga

hamil
Olahraga mendorong tubuh menghasilkan hormon kortisol. (Foto: Pexels/freestocks.org)


Ada baiknya berolahraga menjadi aktivitas rutin ibu hamil, apalagi menjelang persalainan. Biasanya dilakukan 20-30 menit setiap hari. Beberapa penelitian membuktikan tubuh yang aktif menghasilkan hormon kortisol. Hormon ini sebagai pendukung tumbuh kembang otak janin.

Selain menyehatkan, juga mengurangi penambahan berat badan berlebih. Bobot yang bertambah dan tidak terkontrol dapat memicu kelahiran prematur. Untuk itu, pastikan penambahan berat badan bunda masih dalam batas normal. Ukuran tubuh yang di bawah normal, direkomendasikan menambah 13 sampai 18 kg. Tubuh dengan bobot normal, diharapkan tidak melebihi 15 kg. Namun bagi ibu hamil yang memang sudah gemuk maka disarankan hanya menambah bobot 11 kg saja.(dys)


Baca Juga:

5 Solusi Saat Bayi Pilek



Paksi Suryo Raharjo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH