Kuliner Indonesia
Jelajahi Kuliner Khas Papua di Festival Indonesia Hidden Heritage Week 2021 Kuliner Papua amat banyak. (Foto: Instagram/@regunancha)

KULINER khas Papua bukan cuma papeda. Masih banyak kuliner Papua lainnya yang menarik. Kamis (22/10) di Bandara Soekarno Hatta, Rahab Ganendra dari Komunitas Penggila Kuliner Kompasiana mengajak seluruh peserta Festival Indonesia Hidden Heritage Week 2021 mengikuti virtual tour 'Jelajah Kuliner Papua'.

"Kami ingin mengenalkan keragaman kuliner dari Provinsi Papua selaku rumah bagi Taman Nasional Lorentz yang ditetapkan UNESCO sebagai World Heritage Site pada 1999," kata Founder Indonesia Hidden Heritage (IHH) Wulan Suheri sebagai host virtual tour 'Jelajah Kuliner Papua'.

Baca Juga:

Kerben, Berry Asli Indonesia yang Tumbuh di Alam Liar

Rahab mengajak seluruh peserta untuk melakukan makan malam virtual selama 45 menit. Dari Bandara Soekarno Hatta, peserta diajak terbang ke Papua untuk menjelajahi kuliner khas Papua. Perburuan makanan dimulai dengan mencicipi papeda secara virtual. Papeda terbuat dari sagu dengan tekstur lengket seperti lem, mengandung banyak serat, bergizi, rendah kolesterol serta mengenyangkan. Di berbagai wilayah pesisir dan dataran rendah di Papua, sagu merupakan bahan dasar dalam berbagai makanan. Sagu bakar, sagu lempeng, dan sagu bola menjadi sajian yang paling banyak dikenal di berbagai pelosok Papua, khususnya dalam tradisi kuliner masyarakat adat di Kabupaten Mappi, Asmat hingga Mimika.

Papeda merupakan salah satu sajian khas berbahan dasar sagu yang jarang ditemukan. Antropolog sekaligus Ketua Riset Papua, Johszua Robert Mansoben menyebutkan papeda lebih dikenal luas dalam tradisi masyarakat adat Sentani dan Abrab di Danau Sentani dan Arso, serta Manokwari.

Cara menyantap papeda adalah menggunakan gata-gata, yaitu alat penggulung dari bambu. Rasanya hambar. Biasanya disajikan dengan kuah bening, peda bakar atau ikan kembung, sehingga cita rasa hambarnya tersamarkan.

Peneliti Balai Arkeologi Papua mengatakan papeda adalah kuliner tertua dan telah ada sejak masa prasejarah. Dasarnya adalah temuan gerabah dan alat batu tokok sagu di situs arkeologi di kawasan Danau Sentani.

Penggunaan wadah dan tradisi gerabah di Papua telah dikenal sejak masa prasejarah, sekitar 3 ribu tahun lalu. "Pengetahuan menggunakan gerabah dan teknologi pembuatan gerabah diperkenalkan oleh orang berbahasa Austronesia," terang Rahab.

Ulat sagu jadi makanan bergizi. (Foto: Instagram/@simcom86)

Setelah papeda, peserta virtual tour diajak mencicipi kuliner ekstrem Papua yang berbahan baku ulat dan cacing. Kuliner ekstrem yang pertama adalah satai ulat sagu yang merupakan makanan asli Papua dengan bahan baku ulat sagu. Ulat sagu diambil dari pohon sagu yang dipotong dan dibiarkan membusuk. Peneliti dari Badan Arkeologi, Hari Suroto menyebutkan temuan arkeologi berupa pecahan gerabah di situs-situs di Kawasan Danau Sentani membuktikan bahwa manusia pada masa prasejarah sudah mengolah kuliner berbahan sagu.

Pohon sagu menghasilkan tepung sagu, jamur sagu, dan ulat sagu. Manusia prasejarah pada waktu itu menjadikan sagu sebagai makanan pokok. Hingga kini ulat sagu masih menjadi santapan orang Papua seperti di wilayah Timika dan dimasak dengan cara digoreng, tumis, satai, atau disayur.

Kuliner ekstrem berikutnya adalah Cacing Laut Insonem. Tidak banyak masyarakat yang tahu bahwa di Raja Ampat ada kuliner yang menarik dicoba, yaitu Cacing Laut Insonem. Cacing Laut Insonem merupakan makanan khas Papua yang berbentuk seperti cacing tanah, tetapi ukurannnya lebih panjang. "Panjangnya kira-kira bisa mencapai 30 sentimeter," ungkap Idfi.

Baca Juga:

Kopi Sontoloyo di Batu, Nasi Lodehnya Juara

Untuk olahan makanan, lazimnya cacing-cacing ini digoreng seperti layaknya ikan. Kemudian diberi bumbu bercita rasa gurih atau pedas ala rica-rica. Teksturnya kenyal dan sedikit alot ketika dikunyah, mirip daging gurita. Sebelum diolah menjadi makanan, bagian kepala dan ekor cacing dipotong terlebih dahulu. Memasaknya dapat dengan digoreng, lalu disajikan bersama sayuran, atau diasap menjadi keripik. Satu porsi cacing laut biasanya dipasarkan dengan harga Rp 10-25 ribu.

Cacing Laut Insonem dapat ditemui setiap hari saat meti, yaitu istilah penduduk Ayau untuk laut ketika surut. Cara mengambilnya ialah dengan menusukkan batang kayu ke dalam pasir, cacing akan melilit melingkari batang kayu dan tertarik ke luar. Kuliner satu ini sudah menjadi komoditas yang mendatangkan nilai ekonomis bagi penduduk Kepulauan Ayau di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, Distrik Ayau, dan Distrik Kepulauan Ayau.

Satu lagi kuliner ekstrem dari Papua adalah Cacing Tambelo. Berbeda dengan cacing laut, cacing tambelo berwarna putih, bertaring, berlendir, lembek dan berbentuk tebal serta memanjang. Cacing Tambelo merupakan camilan lezat bagi masyarakat Suku Kamoro yang tinggal di Timika dan Suku Agat di bagian selatan Papua. Penduduk dari kedua suku tersebut sering menyajikan hidangan yang biasa disantap dalam kondisi mentah ini kepada wisatawan.

Warga Kamoro menjadikannya sebagai sajian utama di pesta adat seperti Pesta Budaya Karapao Suku Kamoro. Cara mengonsumsinya dapat dengan direndam dalam jeruk nipis terlebih dahulu untuk mengurangi aroma dan rasa amis. Bentuknya seperti tentakel cumi-cumi yang biasa dilihat di pasar ikan. Di dunia internasional Tambelo dikenal sebagai cacing pengerek kayu.

Udang selingkuh perpaduan udang dan capit seperti kepiting. (Foto: Instagram/@danielronda)

Seafood dan Kuliner Air Tawar Makanan khas Papua lain yang tidak kalah menarik adalah kuliner air tawar berupa Udang Selingkuh dari Wamena. Dinamakan udang selingkuh karena tubuhnya seperti udang, tetapi capitnya besar seperti kepiting. Spesiesnya berbeda dengan udang biasa karena memiliki daging berserat, lembut dan bercita rasa sedikit manis mirip lobster.

Udang selingkuh biasanya disajikan bersama bunga pepaya atau tumis kangkung. Di sejumlah pasar tradisional di Wamena, udang selingkuh dipasarkan dengan harga mulai dari Rp 100 ribu. Apabila sudah dimasak di restoran, harganya bisa mencapai Rp 300 ribu.

Setelah Udang Selingkuh, Rahab mengajak peserta mengenal Ikan Bakar Manokwari, Ikan Bakar Colo, Aunuve Habre atau ikan cakalang kukus yang dibungkus daun talas, Aunuve Senebre yang mirip botok ikan teri. Untuk dessert, Papua memiliki Martabak Sagu Fak Fak yang dibuat dari sagu dan gula aren, lalu ada pula Es Matoa. (tel)

Baca Juga:

Kenangan Manis Gulali Jadul yang Dinikmati Sebelum Pandemi

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Merasakan Bali di Bekasi
Travel
Merasakan Bali di Bekasi

Suasananya kental sekali dengan provinsi yang ada di sebelah timur Pulau Jawa itu.

Tradisi Balimau, Mandi Jeruk Nipis Menyambut Ramadan
Tradisi
Tradisi Balimau, Mandi Jeruk Nipis Menyambut Ramadan

Tradisi menyambut Ramadan di Sumatera Barat.

Perpaduan Cita Rasa Jawa Barat dan Yogyakarta dalam Celetot
Kuliner
Perpaduan Cita Rasa Jawa Barat dan Yogyakarta dalam Celetot

Mengenalkan kembali potensi olahan makanan fermentasi.

Pandemi bukan Halangan Sambut Tahun Baru di Hotel
Indonesiaku
Pandemi bukan Halangan Sambut Tahun Baru di Hotel

Tetap jaga diri dan terapkan protokol kesehatan.

Kain Tenun Kumohu Jadi Warisan Budaya Tak Benda
Tradisi
Kain Tenun Kumohu Jadi Warisan Budaya Tak Benda

Sejak tahun 2019 Pemprov Sultra telah mengusulkan delapan WBTB ke Kemendikbud RI.

Perjuangan Jatuh-Bangun Dolanan Keren Mengkreasikan Action Figure Lokal
Indonesiaku
Perjuangan Jatuh-Bangun Dolanan Keren Mengkreasikan Action Figure Lokal

Dolanan Keren juga membuat action figure Presiden RI Joko Widodo.

Usaha Kolektor Menghidupkan Kembali Kenangan Si Buta Dari Gua Hantu
Indonesiaku
Usaha Kolektor Menghidupkan Kembali Kenangan Si Buta Dari Gua Hantu

Bagi Alex dan Andy koleksinya kelak ingin jadi barang utama di dalam museum komik khusus komik-komik Indonesia

Sajian Hangat Mi Celor Khas Palembang
Kuliner
Sajian Hangat Mi Celor Khas Palembang

Kaya aroma udang dan telur.

Proses Kreatif Dolanan Keren Membuat Collectible Action Figure Gundala
Indonesiaku
Proses Kreatif Dolanan Keren Membuat Collectible Action Figure Gundala

Melalui tahapan yang harus dijalankan dengan saksama