Teka-Teki Muara Beres, Kerajaan Islam Sunda Mitra Satata Pajajaran Ilustrasi masjid pada zaman Kerajaan Muara Beres. (gurupendidikan.co.id)

MENCARI kesahihan sejarah ibarat merangkai kepingan puzzle. Tak semua periode sejarah tercatat dengan apik. Bila berbicara sejarah kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara, bahkan, beberapa peneliti sering berkerut dahi lantaran sulitnya menemukan sumber sejarah sezaman dan autoritatif. Sumber tersebut sangat mungkin hilang, belum terlacak, atau sengaja dihilangkan.

Jika beruntung beroleh sumber pun, terkadang seorang peneliti tak bisa cepat-cepat lega. Bisa jadi sumber tersebut merupakan variasi, tak memberi informasi, bahkan anakronis. Salah satu babak sejarah Islam di Nusantara penuh teka-teki berada di sisi barat pulau Jawa.

Kerajaan-kerajaan Islam di tatar Sunda sering menjadi bagian tradisi oral masyarakat, tapi begitu susah melacak jejaknya di literatur sejarah. Salah satunya, Kerajaan Muara Beres.

Muara Beres, menurut Raden Haji Dadang (50) seturut tradisi lisan, dipimpin oleh anak dari raja tersohor di Sunda Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi dengan Kentrik Manik Mayang Sunda, bernama Pangeran Surawisesa atau Pangeran Sanghyang.

Luas kerajaan tersebut, lanjut keturunan Pangeran Surawisesa itu, terbentang mulai dari Cibinong, Bogor, hingga perbatasan antara Depok dan Jakarta. "Kalau daerah ini pada zaman dulu masuk dalam wilayah Karadenan," kata Raden Haji Dadang di Jalan Kaum, Kelurahan Karadenan, Cibinong, Bogor, Kamis (17/5).

Peta kekuasaan Kerajaan Pajajaran. (Dokumentasi Yayasan Pitra Yadnya)

Meski wilayah kekuasaannya sangat luas, sambung RH Dadang, Muara Beres tetap berada di bawah naungan (Mitra Satata) Kerajaan Pajajaran dengan menempatkan Kaumpandak (nama lain daerah tersebut) sebagai pusat pemerintahan kerajaan. "Kota Depok dan Bogor, memiliki hubungan yang sangat kuat dengan Bojong Gede dan daerah ini (Karadenan, Cibinong)," katanya.

Benteng kerajaan terentang mulai dari Depok hingga Bojong Gede. Berfungsi sebagai basis pertahanan. "Masih banyak yang belum tahu. Bagi kami, selaku keturunan akan selalu menjaga kisah Muara Beres agar tidak hilang termakan zaman," ujarnya.

Harta Karun

Siapa sangka Desa Karadenan di Cibinong, Bogor, menyimpan segudang harta karun sebuah kerajaan besar di masa lampau. Barang kuno peninggalan Kerajaan Muara Beres itu di antaranya kujang, badik, golok, gobang (golok panjang), tombak, dan keris. "Iya. Semua ini adalah barang pusaka merupakan warisan dari nenek moyang," kata RH Dadang.

Pusaka Kerajaan Muara Beres. (Merahputih.com/Noer Ardiansjah)

Mengenai silsilah, tambah RH Dadang, salah satu dari istri Prabu Siliwangi bernama Kentrik Manik Mayang Sunda melahirkan anak yakni Pangeran Sanghyang yang kemudian menikah dengan Kinawati, putri dari Mental Buana, cucu dari Munding Kawati, penguasa Kerajaan Tanjung Barat.

Dari pernikahan Pangeran Sanghyang dengan Kinawati mempunyai putri (Ratu Ropi’ah) yang kemudian menikah dengan Pangeran Raden Sagiri. "Nah, kami semua di sini sebagian besar keturunan beliau," katanya.

Selain itu, masih menurutnya, di arah barat Karadenan terdapat situs makam kuno yang merupakan salah satu bukti eksistensi Kerajaan Muara Beres. Bahkan katanya, bebatuan makam tersebut sering pula didatangi tim arkeolog dari beberapa universitas di Bogor. "Makam yang di belakang adalah makam Abah Raden Syafe’i, pendiri masjid tua ini yang sekaligus cucu dari Pangeran Sanghyang dari anak lelakinya, Raden Nasib," katanya.

Masjid Tertua di Bogor

Masjid Jami Al Atiqiyah yang beralamat di Jalan Kaum I No. 41 Karadenan, diyakini oleh warga setempat merupakan masjid tertua di Kota Bogor. Kepercayaan tersebut dipegang erat warga karena pada saat renovasi pertama masjid, salah seorang warga yang ketika itu masih berusia dini pernah diceritakan oleh orang tua tentang tahun pembuatan Masjid Jami Al Atiqiyah.

Sejarah demikian, kata lelaki itu, merupakan kisah lisan yang harus tetap terjaga meski sudah hilang bukti daripada tulisan tersebut. "Ada tulisan angka pada salah satu pilar utama sebelum masjid direnovasi total. Angka yang tertera adalah tulisan Sunda yang jika diartikan merujuk pada tahun 1667," kata salah seorang pengurus masjid Raden Ahmad (53) di Masjid Jami Al Atiqiyah Jalan Kaum I No. 41, Karadenan, Bogor.

Ihwal tersebut, terang saja berbenturan dengan Masjid Al Mustofa yang merupakan masjid tertua di Kota Bogor yang dibangun sekitar tahun 1728 oleh Tubagus Al Mustofa Bakrie dari Banten. "Dari tahun pembangunan sudah jelas kalau masjid ini lebih tua."

Museum Keris di Masjid Jami Al Atiqiyah. (Merahputih.com/Noer Ardiansjah)

Adapun pembangunan masjid, tambah dia, mulai dilakukan pada masa Abah Raden Syafe'i, cucu dari Pangeran Sanghyang. Ide pembangunan tersebut, masih dari penuturan R Ahmad, berdasarkan bangunan masjid pertama yang dilakukan Pangeran Sanghyang selaku raja dari Kerajaan Muara Beres.

Meski dari informasi yang marak di luar mengatakan bahwa Pangeran Sanghyang memegang ajaran leluhur, namun bagi masyarakat Karadenan yakin sang raja sudah memeluk agama Islam. "Semua ini balik lagi kepada diri masing-masing dalam menyikapinya," tandas R Ahmad. (*) Noer Ardiansjah



Noer Ardiansjah

LAINNYA DARI MERAH PUTIH