Jauh Sebelum Jadi Cagar Biosfer, Masyarakat Lembah Bada Jaga Hutan dengan Hukum Adat Patung megalitikum di Lembah Bada. (Foto: instagram.com/pict.by.me)

LEMBAH Bada merupakan salah satu wilayah indah di Pulau Sulawesi. Lembah Bada juga terkenal dengan patung-patung manusia megalitikumnya yang membuat dunia luar kagum.

Jauh sebelum Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) ditetapkan UNESCO sebagai salah satu cagar biosfer di Indonesia pada tahun 1997, Lembah Bada sudah dihuni masyakarat, meski penduduknya saat itu belum sebanyak sekarang.

Lembah Bada tepatnya masuk dalam wilayah Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah. Secara turun-temurun, masyarakat di sepanjang Lembah Bada di Kecamatan Lore Barat dan Lore Selatan tetap mengedepankan kearifan lokal. Salah satu dari kearifan lokal masyarakat Lembah Bada adalah tetap menjaga kelestarian hutan yang ada di sekitarnya.

1. Tokoh adat menghukum para penebang pohon dengan denda kerbau

Lokasi patung megalitikum di Lembah Bada. (Foto: instagram.com/muhlisinusman)
Lokasi patung megalitikum di Lembah Bada. (Foto: instagram.com/muhlisinusman)

Masyarakat setempat dilarang keras untuk menebang pohon sembarangan atau membuka lahan untuk areal kebun. Mereka sangat menghargai hutan dan alam yang ada karena menjadi sumber kehidupan manusia, tumbuh-tumbuhan dan berbagai jenis satwa, termasuk satwa endemik seperti babi rusa dan anoa.

Para tokoh adat Lembah Bada membuat sanksi bagi mereka yang terbukti melanggar hukum adat, seperti menebang hutan untuk mengambil kayu ataupun membuka kebun dalam kawasan konservasi TNLL yang luas areanya mencapai 217.000 hektare itu. Para tetua akan mengenakan para pelanggar dengan denda adat.

Denda adat tersebut yaitu menyerahkan satu ekor kerbau kepada lembaga adat sebagai sanksi atas perbuatannya. Sanksi adat tersebut hingga kini masih dipertahankan. Selain itu kalau terjadi ada warga yang menebang pohon, maka dia wajib untuk menanam pohon kembali dan denda kerbau.

Denda itu wajib dipenuhi oleh yang bersangkutan. Kearifan lokal yang telah dilestarikan secara turun-temurun dari nenek moyang mereka sampai pada generasi sekarang ini ternyata terus dipertahankan masyarakat yang mendiami Lembah Bada.

2. Keberhadaan hutan di sekeliling Lembah Bada masih terjaga hingga kini

Patu megalitikum di Lembah Bada. (Foto: Pixabay/instagram.com/ironingthesky)
Patu megalitikum di Lembah Bada. (Foto: Pixabay/instagram.com/ironingthesky)

Lembah Bada sama seperti sebuah loyang/kuali karena terletak di tengah-tengah dan dikelilingi hutan yang masih terbilang lebat dan bagus. Hutan terlihat hampir tidak ada cela yang membuktikan adanya perambahan hutan untuk kepentingan apapun, termasuk areal kebun. Kebun-kebun masyarakat ada, tetapi semuanya jauh diluar dari kawasan konservasi.

Camat Lore Barat Nuli Labalu di sela-sela acara penandatangan perjanjian kerja sama (PKS) antara masyarakat di lima desa di wilayah itu dengan Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu membenarkan masyarakat selama ini sangat ramah dengan lingkungan hutan dan alam yang ada.

Bukan saja ketika sudah menjadi kawasan konservasi dan cagar biosfer, tetapi sejak dari dahulu kala para leluhur/nenek moyang kelestarian hutan dan alam di wilayah ini benar-benar dijaga dan dipertahankan.

Karena bagi masyarakat di Lembah Bada, hutan dan alam yang ada telah memberikan banyak manfaat bagi kelangsungan hidup manusia dari tahun ke tahun dan zaman ke zaman.
Sebagai salah satu bukti, air yang mengalir baik untuk kebutuhan air bersih maupun irigasi persawahan, itu semua berasal dari dalam kawasan konservasi.

"Saya menjamin, masyarakat yang ada di Lembah Bada tidak akan merambah hutan, karena merupakan sumber air bagi kelangsungan hidup masyarakat setempat," katanya seperti dikutip Antara.


3. Masyarakat ikut mengelolah hutan bersama pemerintah

Lembah Bada. (Foto: instagram.com/palu_travelling)
Lembah Bada. (Foto: instagram.com/palu_travelling)

Masyarakat di Lembah Bada hanya minta kepada pemerintah pusat dan juga Balai Besar TNLL sebagai pengelolah kawasan konservasi dan cagar biosfer untuk memberikan akses agar bisa ikut bersama-sama mengelola kawasan dengan tidak merugikan kedua pihak yakni masyarakat dan balai TNLL.

Akses dimaksud antara lain, masyarakat dibolehkan untuk mengambil hasil hutan non kayu/rotan seperti damar dan madu lebah dalam kawasan, tanpa merusak atau mengganggu hutan dan satwa yang ada di dalamnya. Akses lain adalah ikut dilibatkan dalam mengelola obyek-obyek wisata yang ada di sekitar maupun dalam kawasan konservasi untuk meningkatkan ekonomi dan taraf hidup masyarakat yang ada di sekitar kawasan.

Apa yang menjadi harapan masyarakat tersebut, sudah mulai direalisasi oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta balai Besar Taman Nasional Lore Lindu dengan meluncurkan berbagai program pemberdayaan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan konservasi. (*)

Baca juga berita lainnya dalam artikel: Indah dan Menantang, ini Rekomendasi 6 Gunung yang Wajib Didaki di Indonesia



Zulfikar Sy

LAINNYA DARI MERAH PUTIH