Jatuh-Bangun Kenakalan Pemuda Menculik Sukarno-Hatta Bung Karno berdoa setelah membacakan proklamasi kemerdekaan. (Foto: Ipphos)

ACHMAD Soebardjo kedatangan tamu membawa kabar genting. Di hadapannya, Soediro bertampang kecut lagi panik. Dengan terbata-bata, ia menyampaikan berita para pemuda telah menculik 'keduanya'.

"Keduanya siapa?" tanya Soebardjo setengah membentak dalam buku Kesadaran Nasional. "Sukarno dan Hatta," jawab Soediro.

Soebardjo panik bukan kepalang. Bersama Sukarno-Hatta, di hari itu, ia hendak mengadakan pertemuan bersama Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). "Ke mana mereka telah pergi?" tanyanya lagi. Soediro hanya menggeleng.

Sejurus kemudian, Soediro menambahkan informasi tentang keberadaan para pemuda di Jalan Prapatan. "Wikana ada di antara mereka itu," kata Soediro.

Malam sebelumnya, 15 Agustus 1945, Soebardjo dan Soediro sama-sama menyaksikan adu keras Sukarno-Hatta dengan para pemuda diwakili Chaerul Saleh dan Wikana berdebat hingga dini hari tentang pelaksanaan proklamasi.

Para pemuda merasa kecewa dengan Bung Karno dan Bung Hatta. Pun sebaliknya. Bung Karno merasa kesal atas ketidaksabaran para pemuda ingin lekas memproklamsikan kemerdekaan.

Dalam perdebatan itu, Sukarno bahkan menjamin lehernya kepada para pemuda. Bung Karno, menurut Cindy Adams pada Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, mengungkapkan kemarahan itu secara tegas di hadapan pemuda.

"Jangan dikira saya pengecut. Jika kamu para pemuda tidak usah menunggu sampai esok. Jika kamu ingin leher saya, seretlah saya ke pekarangan depan rumah dan bunuhlah saya!" kata Bung Karno keras.

Chaerul Saleh dan Wikana semula keras kepala perlahan menciut. Nyali keduanya langsung surut. Mereka bergeming melihat kemarahan Bung Karno.

Galang Dukungan

soebardjo
Achmad Soebarjo (dua dari kanan) saat proses penjemputan Bung Karno dan Bung Hatta di Rengasdengklok. (Foto: wikipedia.org)

Sebelum melakukan pencarian Sukarno dan Hatta, Soebardjo terlebih dahulu meminta dukungan pembesar-pembesar Angkatan Laut Jepang.

Ia berdalih, jika seandainya kedua tokoh itu jatuh di tangan Angkatan Darat Jepang, satu-satunya jalan untuk membebaskan Sukarno-Hatta hanya dengan campur tangan Angkatan Laut Jepang.

"Satu-satunya yang sanggup menolong cuma Kaigun. Itu sudah berkali-kali dibuktikan Laksamana Muda Maeda di masa lalu," katanya. Karena itu, Soebardjo meminta Soediro untuk menghubungi Markas Besar Angkatan Laut dan meminta hubungan dengan Shigetada Nishizima melalui sambungan telepon.

"Saya harus memberitahukan pada Tuan bahwa Tuan Sukarno dan Hatta telah hilang. Mereka mungkin ditahan oleh pihak Angkatan Darat. Apakah kiranya Tuan dapat menggerakkan penguasa-penguasa Angkatan Laut untuk campur tangan dalam masalah ini?" tanya Soebardjo.

Ia juga merasa perlu memberi tahu secara pribadi kepada Maeda. Hanya dalam waktu lima menit, ia sudah ada di rumah sang Laksamana. Meski kaget, Maeda langsung senang dengan kunjungan itu. Namun, sebelum Soebardjo angkat bicara tuan rumah sudah mendahului.

"Mengapa Tuan datang sendiri saja dan tidak dengan Tuan Sukarno dan Hatta? Saya telah berjanji kepada tuan-tuan sekalian kemarin untuk menyampaikan berita resmi tentang penyerahan kami," kata Maeda.

"Kami justru datang untuk memberitahukan kepada Tuan tentang hilangnya mereka dari kota. Saya benar-benar tidak mengetahui ke mana mereka telah pergi, dan saya sedang menyelidiki tentang soal ini," jawab Soebardjo.

Mendengar jawaban Soebardjo, Maeda terperanjat. Maeda pun bergeming untuk beberapa saat. Namun, ia juga berjanji bakal mengumpulkan kekuatan dan mencari Sukarno dan Hatta dengan segala daya upaya. Soebardjo langsung pamit.

Baca Juga: Lika-Liku Sejarah Mikrofon Proklamasi

Membujuk Golongan Muda

sukarno
Bung Karno dan beberapa tokoh sedang berbincang. (Foto: Wikimedia)

Usai dari rumah Maeda, Soebardjo langsung mengarah ke Jalan Prapatan Gambir 59 menemui Wikana dan para pemuda. Kepada Soediro, ia meminta Wikana dipanggil. Begitu yang dicari muncul, Wikana langsung mendapat tegur Soebardjo. "Apa yang telah kamu perbuat terhadap Sukarno dan Hatta?" tanyanya.

"Ini sudah menjadi keputusan kami dalam pertemuan semalam. Demi keselamatan, kami bawa ke suatu tempat di luar Jakarta," kata Wikana.

"Apakah akibat dari tindakan tersebut telah kamu pikirkan?" tanya Soebardjo lagi. Putusan itu, kata Wikana, bukan keputusan pribadinya, melainkan merupakan keputusan dari semua golongan pemuda. "Tugas saya adalah membujuk Sukarno untuk memproklamasikan kemerdekaan pada malam kemarin dan kembali melapor," kata Wikana.

Mendengar pemaparan Wikana, Soebardjo memutar otak. Ia pun memilih membujuk Wikana guna mendapatkan informasi terkait keberadaan Sukarno dan Hatta. "Kita telah bekerja sama sejak lama dan saya kira tak ada alasan bagimu untuk merahasiakan kepadaku tempat mereka disembunyikan," bujuk Soebardjo.

Mendapati rayuan Soebardjo, Wikana gamam. Seketika ia bergeming. Kemudian ia memutuskan untuk meminta izin dengan para pemuda lainnya. Wikana pun meninggalkan Soebardjo.

Tak lama kemudian, Wikana datang lagi. Kali ini, ia bersama Pandu Kertawiguna, rekan Adam Malik di kantor berita Jepang, Domei. Kepada Soebardjo, Pandu mengaku tak bisa mengatakan di mana Sukarno dan Hatta.

Ia sendiri juga tidak tahu, pihak Pembela Tanah Air (Peta) merahasiakan tempatnya dan tak mau ambil risiko memberitahu para pemuda. "Kita sekarang sedang menunggu seseorang yang akan membawa berita tentang itu," kata Pandu.

Jawaban Pandu benar-benar mengecewakan Soebardjo. Penjelasan kepada para pemuda jelas hanya akan mengulang tarik urat seperti yang terjadi di rumah Sukarno. Juga tawaran diplomasi dan dukungan Kaigun atau potensi ancaman Rikugun tak digubris.

"Kami tidak takut sedikitpun untuk melakukan apa yang kami kehendaki," kata Pandu. Suaranya bernada keras dan mengejek sekaligus. "Biarkan mereka datang, kami telah siap menghadapi segala sesuatu."

Wikana dan Pandu segera meninggalkan Soebardjo sendiri di ruangan itu. Mereka bergabung dengan pemuda-pemuda yang lain, yang datang silih berganti. Kediaman Soediro siang itu benar-benar sibuk.

Menjelang sore, Nizhizima datang dan mengaku telah berbicara panjang-lebar dengan Wikana. Ia berhasil meyakinkan Wikana akan dukungan Kaigun. Ketika akhirnya si pembawa berita datang, sikap para pemuda berubah dan mengizinkan Sukarno dan Hatta kembali atas jaminan Kaigun.

Pandu, Wikana, dan Jusuf Kunto si pembawa berita kepada Soebardjo menjelaskan, tindakan menyembunyikan kedua pemimpin itu tidak lain dipicu kekhawatiran atas Sukarno dan Hatta akan dibunuh Rikugun atau paling menjadi sandera jika kerusuhan pecah. Itu juga untuk mempercepat proses proklamasi kemerdekaan.

Kepada para pemuda, Soebardjo meminta mereka menunjukkan persembunyian Sukarno dan Hatta. "Pak Bardjo tidak bisa pergi sendiri karena terlalu berbahaya, dan saya yakin mereka akan melarang Pak Bardjo menemui Sukarno dan Hatta tanpa ditemani orang yang mereka kenal dari pihak mereka. Jusuf Kunto akan menemani Pak Barjdo," ujar Pandu.

Menuju Rengasdengklok

Sukarno
Sukarno dan Sjahrir. (Foto: Wikimedia)

Soebardjo segera diliputi kelegaan dan mengajak Soediro ikut menemui Sukarno dan Hatta. Tepat pukul 4 sore, Skoda tua dengan ban-bannya yang sudah halus meluncur, dengan Jusuf Kunto duduk di sebelah pengemudi.

Sementara Soebardjo dan Soediro di jok belakang. Meski tak tahu akan akan ke mana, Soebardjo memilih bungkam tak bertanya.

Skoda melaju cepat menuju arah Karawang. Mobil berhenti ketika Kunto memerintahkan dan terlihat dua atau tiga kali ia berbicara dengan orang berseragam Peta untuk mengonfirmasi sandi.

Namun, ketika sudah berada dekat Rengasdengklok ban mobil pecah dan baru menjelang gelap mobil masuk Karawang, lalu berbelok ke pendapa kawedanan yang menjadi markas Peta.

"Eh, Sukarni kok di sini?" tanya Soebarjdo kepada pemuda berseragam yang menemui dirinya. "Kamu telah menyulitkan kerja kita dengan menculik Sukarno dan Hatta ke tempat ini. Kami telah berada di puncak untuk memproklamasikan kemerdekaan kita!"

"Maaf," jawab Sukarni dengan nada getir. "Tindakan ini bukan prakarsa pribadi. Saya adalah abdi revolusi kita. Saya hanya memenuhi tugas yang dibebankan pada diri saya."

Soebardjo dibawa menemui Mayor Subeno yang segera menginterogasi sang diplomat sejati, sekaligus meminta jaminan secepatnya proklamasi kemerdekaan diumumkan. Ia meminta proklamasi kemerdekaan dilaksanakan saat itu juga.

Sayangnya, permintaan tersebut ditolak Soebardjo karena tak masuk akal. "Bagaimana kalau pukul 06.00 pagi besok?" tanya Subeno.

"Saya akan berusaha sedapat-dapatnya. Kami mungkin selesai pukul 06.00. Tetapi menjelang tengah hari besok kami pasti telah siap," jawab Soebardjo. "Jika tidak, bagaimana?" tanya Subeno.

"Mayor, jika segala sesuatunya gagal, sayalah yang memikul tanggung jawabnya dan Mayor boleh tembak mati saya," kata Soebardjo dengan nada tegas.

Tak disangka jaminan tersebut membuat Subeno puas. Soebardjo pun akhirnya dipertemukan dengan Sukarno dan Hatta. Beberapa waktu kemudian, rombongan berkumpul di depan pendapa termasuk tiga buah mobil yang menunggu, termasuk Skoda tua milik Soebardjo.

Tepat jam 9 malam, rombongan mulai bergerak menuju Jakarta. Di mobil, Sukarni duduk antara Soebardjo dan pengemudi. Sedangkan di jok belakang Sukarno, Fatmawati, dan Guntur bayi.

Ketika melewati Klender, kobaran api terlihat dari kejahuan. Sukarni yang gelisah mulai gemetar. Pistolnya digerak-gerakkan dengan tangan siap menembak.

"Nah, sekarang mulailah revolusi kita dan rakyat sedang bergerak menuju Jakarta untuk membakar kota. Marilah kita kembali ke Rengasdengklok dan memproklamirkan kemerdekaan di sana saja," kata Sukarni.

Akhirnya tepat jam 8 malam, mereka tiba di Jakarta. Rombongan menuju rumah Bung Hatta. Setelah sampai, Fatmawati menelepon orang rumah untuk dijemput. Sementara, Bung Karno dan Bung Hatta pergi ke rumah Laksamana Maeda untuk mengadakan rapat.

Di tempat itulah kemudian naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia disusun dalam debat sengit dan sepengetahuan Jepang. Ketika akhirnya teks itu siap dan dibacakan, Sukarni dan golongan pemuda langsung menolak dan minta diubah karena dianggap tak revolusioner.

Permintaan itu ditolak PPKI. Selain soal teks, perdebatan melebar ke siapa penanda tangan naskah dan tempat pengumuman proklamasi kemerdekaan.

Rapat baru benar-benar berakhir pukul 6 pagi, tanggal 17 Agustus 1945. Sebelum bubar, Sukarno di ujung kalimatnya meminta mereka kembali hadir di Jalan Pegangsaan Timur 56 pukul 10.00 pagi untuk menyaksikan Proklamasi Kemerdekaan. (*)

Baca Juga: Hatta Belum Juga Tiba, Sukarno Enggan Membacakan Proklamasi



Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH