Prabowo-Sandi Perlu Bangun Industri Mobil Nasional yang Bukan Abal-Abal Seperti Esemka Said Didu (kiri) dalam diskusi publik di Media Center Prabowo-Sandi, Jakarta (MP/Ponco Sulaksono)

MerahPutih.com - Pengamat industri nasional, Said Didu mendorong capres dan cawapres Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno mewujudkan industri mobil nasional bila mendapatkan mandat dari rakyat pada pemilihan presiden bulan April.

Berkaca pada pengalaman pilpres 2014, Said berpesan agar industri mobil nasional yang dibangun Prabowo-Sandi tidak abal-abal dan bukan demi kepentingan pencitraan semata.

"Bila Prabowo-Sandi menang, mobil nasional perlu difikirkan. Karena permintaan kita besar, pasar kita besar, sumber daya alam, sumber daya manusianya kita ada," kata Said dalam diskusi Indonesia Pasca Jokowi 'Mewujudkan Mobil Nasional, Bukan Pencitraan Seperti Esemka' di Media Center, Prabowo-Sandi, Jalan Sriwijaya I, Jakarta Selatan, Rabu (23/1).

Mantan Sekjen Kementerian BUMN ini menuturkan, ada perbedaan mendasar dalam anatomi bisnis mobil di masa lalu dan masa kini. Di masa lalu, pengembangan mobil nasional terkendala pada penguasaan komponen rancang bangun dari hulu hingga hilir.

esemka
Jejeran mobil pickup yang diproduksi Pabrik Mobil Esemka. (MP/WIN)

Kini, anatomi industri mobil sudah mengarah pada industri pesawat terbang di mana seluruh komponennya bisa diproduksi di seluruh dunia. "Tinggal kebijakannya adalah kita bikin desain sedemikian rupa sehingga bisa produksi di Indonesia. Kriterianya kita memiliki desain, nama merek dan sebagian komponennya diproduksi di Indonesia. Tidak seperti mobil Esemka yang komponennya dari luar semua," ucap Said.

Dalam kesempatan yang sama, Said bercerita bahwa dirinya pernah diajak seorang kolega untuk mempromosikan mobil Esemka. Kejadian itu terjadi pada medio 2012 lalu. Namun demikian, Said menolak lantaran dirinya mencium aroma tidak sedap dari proyek ambisius mobil Esemka.

"Pada 2012 saya dibujuk beberapa orang untuk mengendorse. Karena yang pencitraan bukan hanya Pak Jokowi, tapi banyak orang. Dan saya katakan itu bohong. Sebagai pengusaha mebel, mungkin saat itu Pak Jokowi beranggapan bahwa membuat mobil sama saja dengan merakit mobil. Saya katakan berbeda," kata Said.

Sementara itu, pakar otomotif dan praktisi industri mobil Mochtar Niode mengatakan, industri mobil nasional harus diarahkan kepada produksi mobil listrik. "Kita memiliki seluruh bahan baku untuk produksi mobil listrik. Kita bisa open desain untuk menentukan jenis mobil apa yang cocok untuk Indonesia," kata Mochtar. (Pon)

Kredit : ponco


Angga Yudha Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH