Jangan Tertipu! Ini Bedanya Barista Sejati dan Barista Abal-Abal Barista abal-abal cenderung menguliahi pembeli (Foto: Pexels/Quark Studio)

'ADA gula pasti ada semut'. Pepatah tersebut tampaknya merepresentasikan budaya ngopi di Indonesia. Berkembangnya gaya hidup ngopi di dalam masyarakat urban turut membuat jumlah coffee shop dan barista di kota-kota besar menjamur. Setiap sudut kota bisa ditemukan kedai. Mulai dari kedai rumahan, hingga yang berbentuk kafe.

Kendati demikian, tidak semua orang-orang yang hadir di industri kopi membawa niat yang sama. Sebagian dari mereka datang dengan passion murni, beberapa hanya melihat peluang bisnis yang menggiurkan. Sisanya mampu mengkolaborasikan antara passion dan peluang bisnis.

Baca juga:

Apa Kerennya Profesi Seorang Barista? 5 Alasan Ini Bisa Menjawab

Barista nomor satu di Indonesia, Mikael Jassin, mengungkapkan industri kopi di Indonesia sulit bertahan. "Saingannya banyak. Walaupun marketnya luas, itu belum spesifik," tuturnya.Kurang spesifiknya budaya ngopi yang berkembang di Indonesia terjadi lantaran para pecinta kopi di Indonesia lebih moderat dan menyukai penyajian yang lebih kasual. "Di Indonesia, orang-orangnya lebih memilih es kopi susu," jelasnya."Kita harus punya point of difference supaya bisa bertahan dan berkontribusi untuk industri kopi," sarannya.

Mikael Jassin
Mikael menyarankan agar para barista engage dengan customer (FOTO: MP/IFTINAVIA PRADINANTIA)

Dalam mempertajam point of difference, pria yang akrab disapa Miki tersebut menambahkan bahwa para barista harus bertindak lebih fleksibel dan bisa menjalin relasi baik dengan pembelinya. Itulah ciri utama seorang barista sejati."Kami, para barista agak sombong. merasa banyak tahu, lalu kita menceramahi pembeli. Padahal sebenarnya yang perlu dilakukan adalah engage sama customer.

Bagaimana caranya kita bisa menyampaikan passion ke mereka tetapi juga harus mengerti bahwa mereka yang beli kopi kita," urainya panjang lebar.Para barista 'abal-abal' cenderung menguliahi para pembeli. Tak jarang ada pula barista yang memaksakan penyajian otentik minuman kopi. Hal tersebut tentu membuat pembeli tidak nyaman dan akhirnya enggan kembali.

Baca juga:

Tak Sekadar Kopi, 5 Hal Ini Wajib Diketahui Barista Pemula

Pada akhirnya, jika tidak ada customer, tidak ada revenue dan profitable. Coffee shop pun tak bisa mampu lagi membeli kopi ke petani. Itu tentu merusak rantai perekonomian industri kopi yang dikendalikan oleh customer. Banyak barista lupa bahwa mereka harus jual kopinya. "Mereka terlalu sibuk mengasah teknik dan memperdalam ilmu tetapi tidak bisa menyampaikan ke customer," ucap Miki.

Barista Sejati
Barista sejati tidak menguliahi pembeli (Foto: Pexels/Di Bella Coffee)

Menjaga relasi dengan customer menurut Mikael mudah. Turuti saja kemauan mereka, namun tetap menyajikan kopi dengan cara terbaik. "Fleksibel saja. Kalau mereka mau gula ya sudah kasih gula, kalau mereka mau yang lebih otentik, ya beri yang tanpa campuran apapun. Harus berani ketemu di tengah-tengah dengan customer, baru pelan-pelan dibagikan ilmu kita," ujarnya.

Sebagai barista terbaik di Indonesia yang menempati urutan keempat dunia, Miki memiliki harapan besar pada mereka yang tertarik berkecimpung di industri kopi. Ia berharap supaya orang-orang yang ingin masuk di indusri kopi bukan hanya menginginkan keuntungan."Semoga bukan hanya karena lihat banyak yang buka dan melihat ini profitable banget, tetapi masuk karena passionated dan ingin berkontribusi untuk industri kopinya," tukasnya. (avia)

Baca juga:

Bukan Cuma Kopinya, Ini 4 Tipe Barista yang Perlu Kamu Ketahui

Kredit : iftinavia

Tags Artikel Ini

Iftinavia Pradinantia

LAINNYA DARI MERAH PUTIH