Jangan Keliru, ini Perbedaan Kejang Demam dan Epilepsi Terdapat beberapa perbedaan antara kejang demam dan epilepsi. (Foto Verywell Health)

KEJANG bisa amat mengkhawatirkan. Terlebih sulit membedakan apakah kejang disebabkan demam atau epilepsi. Kejang demam paling sering terjadi pada anak-anak. Kejang itu berbeda dengan kejang epilepsi dan umumnya tidak berbahaya. Namun, karena epilepsi juga sering terjadi pada anak-anak, orangtua perlu memahami perbedaan kedua simptom itu.

Secara singkat, kejang demam atau penyakit step merupakan kejang yang dipicu demam dan tidak disebabkan gangguan pada otak. Pada epilepsi atau ayan, kejang disebabkan gangguan arus listrik di otak dan dapat terjadi secara berulang. Melansir laman Alodokter, berikut perbedaan kejang demam dan epilepsi.

BACA JUGA: UNDP, WHO dan IOM Sediakan ventilator untuk Pasien COVID-19 di Indonesia

1. Usia

kejang
Kejang demam umumnya terjadi pada anak berusia enam bulan sampai lima tahun. (Foto Pixabay/klimkin)


Kejang demam umumnya terjadi pada anak berusia enam bulan hingga lima tahun. Di beberapa kondisi, kejang demam juga bisa dialami anak sebelum usia tiga bulan atau setelah usia enam tahun.

Berbeda dengan kejang demam, epilepsi dapat dialami siapa saja tanpa memandang usia, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga lansia. Anak yang mengalami epilepsi mungkin akan terus mengalaminya hingga usia remaja atau dewasa.

2. Penyebab

kejang
Kejang demam dipicu karena suhu yang meningkat. (Foto: Pixabay/Geralt)

Kejang demam tidak disebabkan oleh gangguan otak, melainkan dipicu oleh suhu tubuh yang meningkat lebih dari 38 derajat Celcius. Peningkatan suhu tubuh disebabkan reaksi setelah imunisasi, infeksi bakteri, atau infeksi virus.

Di lain hal, epilepsi, terdapat gangguan di otak. Sel-sel saraf di otak dan di seluruh tubuh berkomunikasi satu sama lain menggunakan impuls listrik. Ketika proses komunikasi terganggu, dapat terjadi gerakan yang tidak terkontrol berupa kejang.


3. Gejala

kejang
Salah satu aura yang dirasakan adalah merasa takut. (Foto: Pixabay/rubberduck1951)

Ada dua jenis kejang demam, yakni kejang demam sederhana dan kejang demam kompleks. Pada kejang demam sederhana, gerakan menyentak terjadi pada seluruh bagian tubuh, tetapi tidak berlangsung lebih dari 15 menit. Pada kejang demam kompleks, gerakan menyentak biasanya berawal dari satu bagian tubuh dan berlangsung lebih dari 15 menit atau terjadi berulang dalam jangka waktu 24 jam.

Sementara itu, pada epilepsi, gejala yang muncul dapat bervariasi antara satu penderita dengan penderita yang lain. Kejang pada epilepsi dapat berupa gerakan menyentak di seluruh tubuh atau hanya pada bagian tertentu saja. Beberapa contoh aura pada epilepsi adalah mencium bau yang aneh, melamun atau jatuh tiba-tiba, merasa takut, atau merasa anggota tubuh menjadi lebih besar atau lebih kecil.

4. Pengobatan

kejang
Caption


Ketika seorang anak dengan riwayat kejang demam mengalami demam, orang tua dapat memberikannya obat penurun panas. Jika sudah muncul kejang, tidak ada penanganan khusus yang perlu dilakukan selain melindungi anak dari cedera, karena kejang demam umumnya akan berhenti sendiri dalam waktu singkat.

Untuk penyakit epilepsi, penderita perlu mengonsumsi obat antiepilepsi secara rutin setiap hari agar kadar obat di dalam tubuhnya tetap stabil untuk menurunkan frekuensi kambuhnya kejang. Jika rutin mengonsumsi obat namun tetap kejang, dokter mungkin akan mengganti obat atau menyarankan operasi untuk memperbaiki bagian otak yang mengalami gangguan. (and)

BACA JUGA:



Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH