Jangan Didramatisir, Impor Garam Sudah Berlangsung Sejak 1990 Petani memanen garam. (ANTARA FOTO/Saiful Bahri)

MerahPutih.Com - Persoalan garam sebetulnya bukan hal yang baru. Apalagi terkait dengan kebijakan garam impor. Indonesia sudah lama impor garam. Sejak tahun 1990, tercatat 349.042 ton garam impor masuk Indonesia.

Menurut LSM Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) impor garam terpaksa dilakukan demi memenuhi kebutuhan industri karena dampak anomali cuaca.

"Sejak 1990, impor garam telah dilakukan sebanyak 349.092 ton lebih dengan total nilai 16,97 juta dolar AS. Impor terus dilakukan sampai hari ini dengan alasan kelangkaan stok garam sebagai dampak anomali cuaca," kata Sekretaris Jenderal KIARA Susan Herawati di Jakarta, Sabtu (12/8).

Susan menjelaskan pada Kabinet Pembangunan IV atau Pelita IV, di tengah standardisasi garam iodium, produksi garam rakyat justru melimpah hingga 800 ribu ton, sedangkan kebutuhan konsumsi hanya 600 ribu ton.

Menurut dia, impor garam selalu menjadi solusi ketika garam langka saat kemarau basah. Pemerintah pun mempermudah impor dengan menerbitkan setidaknya sembilan regulasi dalam bentuk Peraturan Menteri atau Keputusan Menteri sejak 2004.

Yang terbaru, yakni Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 125 Tahun 2015 justru bertujuan menyederhanakan perizinan impor garam.

SusanHerawati menambahkan sudah waktunya pemerintah menunjukkan keseriusannya untuk menghentikan impor garam yang dapat dimulai dengan pembenahan dan pengelolaan garam rakyat.

Selain itu, petani garam perlu mendapat pemberian asistensi teknologi, perlindungan dan pemberdayaan petambak garam melalui penguatan asosiasi serta implementasi mandat Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2016 tentang Perlindungan, Pemberdayaan Nelayan, Pembudidaya Ikan dan Petambak Garam.

Petani garam sudah seharusnya mendapat pemberian modal atau asistensi teknologi karena garam berkualitas baik perlu adanya mesin iodisasi dan teknologi produksi yang tidak mengandalkan cuaca.

"Impor itu dampak dari kita yang tidak pernah serius mengembangkan teknologi. Harus ada political will dari bangsa untuk menghentikan impor dan memperkuat pergaraman nasional," pungkas Susan Herawati.(*)

Sumber: ANTARA



Eddy Flo

YOU MAY ALSO LIKE