Jali-Jali Betawi, Lagu Ceria Penghibur Lara Bang Bens, Seniman Betawi saat menyanyikan lagu Jali-Jali (foto: youtube)

Merahputih Budaya- Sebagian besar masyarakat indonesia mungkin sudah akrab betul dengan lirik lagu Jali-Jali. Sebab, lagu ini sering diperdengarkan di berbagai kirab budaya betawi atau sering di nyanyikan para seniman betawi saat melakukan syuting di sejumlah stasiun TV.

Namun, tak banyak orang yang tahu makna dan arti dari lirik lagu ini. Lagu Jali-Jali adalah salah satu lagu khas daerah asli Betawi, asal usulnya diyakini lahir dan dikembangkan oleh peranakan Tionghoa Jakarta melalui musik tradisional gambang kromong. Disebabkan, lagu tersebut sangat kental dengan kebudayaan dan khazanah alam betawi kemudian lagu tersebut ditetapkan sebagai lagu daerah Betawi.

Menurut catatan sejarah yang berkembang di masyarakat lagu ini dipopulerkan oleh M. Sagi yang merupakan pimpinan orkes keroncong pada tahun 1942 dan pada tahun 1987, lagu ini sempat diarransemen dengan menggunakan beberapa unsur musik betawi, seperti gambang kromong, tanjidor, sambrah, dan dinyanyikan dengan teknik paduan suara.

Seperti halnya lagu-lagu daerah lain yang memiliki makna tersembunyi, begitu juga dengan lirik lagu Jali-Jali. Secara umum lagu jali-jali merupakan lagu yang padat dengan seni menjahit pantun yang dipadukan dengan musik betawi yang bernuansa ceria. Fungsinya untuk menghibur hati yang sedang lara.

                                                                                              Pohon Jali

Berdasarkan informasi yang dihimpun Merahputih.com dari sejumlah data, diperoleh sekilas makna terkait bait-bait lagu jali-jali.

Jali-Jali adalah sejenis tanaman bijian yang hidup di Asia Timur dan Malaya namun sekarang telah tersebar ke berbagai penjuru dunia. Orang Betawi biasanya menanam tumbuhan jali-jali ini di perkarangan rumah mereka. Sejak masa kanak-kanak, orang Betawi sudah akrab dengan buah jali-jali. Anak-anak menjadikan buah itu sebagai pelor senapan mainan yang mereka buat dari bilah bambu dan karet gelang.

Biji jali juga ada yang dapat diolah menjadi makanan berkarbohidrat juga obat. Ibu-ibu Betawi biasa mengolahnya menjadi bubur yang populer disebut ‘bubur jali’. Sementara para gadis remajanya meronce jali-jali sebagai tirai pintu kamar mereka. Sedangkan para alim ulama Betawi menjadikannya sebagai biji-biji tasbih untuk berzikir.

Kemudian pada bait selanjutnya tersurat lirik Palinglah enak si mangga udang
hei sayang disayang pohonnya tinggi pohonnya tinggi buahnya jarang.

Mangga udang merupakan salah satu jenis varietas tanaman mangga yang tumbuh dan berkembang diberbagi daerah. Nah, di betawi mangga udang dapat ditemui di pinggiran Jakarta dan Tangerang. Mangga ini disebut mangga udang lantaran bentuknya melingkar persis badan udang.

Dipenghujung bait lirik lagu diabadikan kata 'cikini'.
jalilah jali dari cikini sayang.

Cikini merupakan salah satu kota tua bersejarah di Pusat kota Jakarta, Cikini tempo dulu merupakan kawasan basis budaya dan wisata betawi.

Berikut bait-bait lirik lagu Jali-Jali:

ini dia si jali-jali
lagunya enak lagunya enak merdu sekali
capek sedikit tidak perduli sayang
asalkan tuan asalkan tuan senang di hati

palinglah enak si mangga udang
hei sayang disayang pohonnya tinggi pohonnya tinggi buahnya jarang
palinglah enak si orang bujang sayang
kemana pergi kemana pergi tiada yang m’larang

disana gunung disini gunung
hei sayang disayang ditengah tengah ditengah tengah kembang melati
disana bingung disini bingung sayang
samalah sama samalah sama menaruh hati

jalilah jali dari cikini sayang
jali-jali dari cikini jalilah jali sampai disini. (fdi)

BACA JUGA:

  1. Kenali Betawi di Perkampungan Setu Babakan
  2. Tari Topeng Betawi Dipercaya Menjauhkan Dari Marabahaya
  3. Gambang Rancag Kesenian Betawi Yang Punah
  4. Berburu Kuliner Betawi di Festival Lebak Bulus
  5. Dodol Legit Asli Betawi di Festival Lebak Bulus

 



Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH