Jalan Terjal dalam Kisah Hijrah Para Mahasiswi Bercadar HN (hijab hitam)& EA (hijab merah) di Kampus UAD Yogyakarta (Foto: MP/Teresa Ika)

MerahPutih.Com - Pelarangan pemakaian cadar dil ingkungan kampus yang dilakukan oleh Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta menimbulkan polemik di masyarakat. Tujuan serta dasar ajaran pemakaian bercadar mendadak dipertanyakan kembali. Pro kontra wajib atau tidaknya pemakaian cadar mencuat.

Reporter merahputih.com mencoba menggali dari sisi yang berbeda pengalaman hidup para mahasiswi bercadar di Yogyakarta.

HN (21) dan EA (21) baru saja memutuskan memakai cadar. Keduanya adalah mahasiswi semester akhir Universitas Ahmad Dahlan(UAD) Yogyakarta. Perjalanan memutuskan memakai cadar tidaklah mudah dan penuh lika-liku.

HN yang berasal dari Padang bercerita ia memutuskan memakai cadar sekitar Oktober 2017. Keputusan ini tidak spontan dan mendadak. Ia telah melakukan serangkaian pemikiran panjang dan usaha pencarian ilmu agama dari beberapa pihak serta permenungan yang mendalam.

HN sudah memakai hijab sejak duduk di sekolah dasar. Namun pada saat itu ia belum rutin menggunakannya. " Kadang dipakai, kadang dilepas bergantung mood dan suasana. Pas Kuliah disini (UAD) saya baru mantap untuk memakai hijab secara rutin dan benar," kata HN pada merahputih.com di Kampus UAD Yogyakarta beberapa waktu lalu.

Ia merasa beruntung lingkungan tempat ia kuliah sangat mendukung dan memberi ilmu agama yang jelas mengenai cara berpakaian yang syar'i. Tak lama usai mantap berhijab, HN mendapat panggilan lain. Ia merasa terpanggil untuk menutup seluruh bagian tubuhnya hingga menyisakan mata saja.

Perlahan, HN mulai berdoa meminta petunjuk pada Yang Maha Kuasa. Ia kerap mengikuti beberapa pertemuan dakwah Islam yang diselenggarakan di Yogyakarta. Demi memantabkan niatnya seratus persen berhijab cadar, ia juga banyak bertanya dan berdiskusi dengan tokoh-tokoh yang mengerti ajaran islam dan meminta restu keluarga.

"Awal saat doa saya dapat hidayah untuk memakai cadar. Sempat ragu juga. Takut terkekang atau jadi terbatas karena pakai cadar. Lalu saya banyakin berdoa untuk meyakinkan hidayah itu. Tanya-tanya ke kyai, pak ustad dan Ortu. Untungnya orangtua, orang-orang sekitar mendukung. Jadi saya yakin dan mantab pakai cadar,"beber wanita berkacamata ini.

Memakai cadar juga dilakukan secara bertahap. Ditahap awal, ia mengubah pakaian hijab "gaul"menjadi lebih longgar dan menggunakan masker penutup bibir. Akhir tahun 2017, ia baru yakin dan memutuskan memakai burka.

Kisah HN memakai cadar tak berbeda jauh dengan EA. Butuh waktu dan proses panjang bagi wanita asal Cilacap ini untuk mantab menggunakan cadar. Beberapa tahun lalu, EA yang sudah mengenakan hijab mengaku mendapat hidayah untuk menggunakan cadar. Ia kemudian merubah pemakaian hijab seadanya (hijab gaul) menjadi hijab panjang dan longgar yang sesuai nilai-nilai syar"i.

"Saya waktu itu lagi ngaji dan dapat hidayah untuk berhijrah. Lalu saya perbanyak berdoa, baca Alquran dan diskusi sama tokoh agama. Hijab saya mulai pakai longgar, doubel. Akhir tahun 2017 saya mantab bercadar," jelasnya.

Surat pembatalan larangan bercadar

Surat pencabutan larangan bercadar dari Rektor UIN Sunan Kaljaga (Foto: Instagram UIN Yogyakarta)

Usai bercadar, kehidupan keduanya tak selalu berjalan mulus. HN mengatakan ia masih kerap digoda dan di"suit-suitin" para pria nakal di tengah jalan. Hal ini tentu membuatnya tidak nyaman dan kadang berfikir ulang penggunaan cadar.

"Tentu saja ga nyaman (digodain). Itu seperti merendahkan wanita. Saya pakai cadar salah satu tujuannya untuk mengurangi tatapan zina atau perlakuan yang menimbulkan dosa. Saya kira setelah pakai cadar bisa bebas digoda. Tenyata masih ada juga yang menggoda," tutur wanita yang kini sibuk menggarap skripsinya.

Namun ia memilih untuk diam dan mengevaluasi diri. Ia sadar dengan segala risiko atas pilihan yang ia ambil tak selalu bisa merubah kelakuan orang disekitarnya.

Sementara EA kerap mendapat penghinaan dari wanita-wanita disekitarnya. Ia mengaku sering mendapatkan tatapan sinis dan aneh dari para wanita saat berjalan di ruang publik. Bahkan ada yang pernah menghinanya dengan sebutan hantu, atau ninja.

"Ada juga yang nyangka saya ikut salah satu kelompok teroris atau organisasi islam radikal. Untungnya di kampus ga ada stigma seperti itu,"bebernya.

Image wanita bercadar adalah bagian dari kelompok teroris masih melekat kental bagi sebagian masyarakat Indonesia. EA hanya diam dan memilih tak ambil pusing pada penilaian itu. Malah menjadikan hinaan itu sebagai pegangan untuk mengubah diri dan kelakukan menjadi lebih baik.

Keduanya kompak dan sepakat tak akan melepas cadar selamanya jika ada pihak-pihak yang memintanya. Buat EA cadar adalah keputusan pilihan pribadi yang tidak bisa dicampuri oleh pihak lain. Cadar juga bukan simbol dari teroris dan kelompok islam radikal.

"Pakai cadar itu buat saya pilihan pribadi. Ada ulama ada yg mewajibkan ada yg ga. Lagian pakai cadar selama inikan tidak menyalahi normal agama, norma kesopanan dan kesusilaan. Kami juga tidak mengacau dan mengganggu. Jadi mengapa harus dilarang?"tegas EA.

Berbeda dengan EA, HN lebih flexibel dan memilih melihat situasi dalam memakai cadar. Ia tak masalah mengganti cadar dengan masker penutup bibir jika situasi tak memungkinkan. EA juga tak segan melepas cadar sementara untuk beberapa kepentingan tertentu asalkan dilakukan di dalam ruangan tertutup.

"Misalnya diminta foto KTP atau Kartu mahasiswi tanpa cadar saya ga masalah ngelepas sementara. Atau saat saya praktik mengajar di depan kelas yang gada prianya ga masalah,"pungkas HN.

Keduanya merasa beruntung bisa mendapatkan universitas yang mendukung keputusan bercadar. Baik HN dan EA mengaku tak pernah mendapat penolakan atau diskriminasi dari penghuni kampus karena pemakaian cadar. Keduanya juga selalu membaur dan tak kesulitan bergaul dengan mahasiswi atau civitas akademika kampus lainnya.(*)

Artikel ini ditulis berdasarkan laporan Teresa Ika, reporter dan kontributor merahputih.com untuk wilayah Yogyakarta dan sekitarnya.



Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH