Jaksa Penuntut Penyerang Novel Dinilai Terlalu Lembek Penyidik Senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan. ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/aa.

MerahPutih.com - Praktisi hukum pidana Suparji Ahmad menilai kedua pelaku penyerangan Novel Baswedan, Ronny Bugis dan Rahmat Kadir melakukan aksinya dengan sengaja.

Menurut Suparji, dengan kesengajaan itu, maka seharusnya kedua terdakwa dijerat dengan pasal yang lebih berat, yaitu pasal 355 KUHP tentang penganiayaan berat yang direncanakan.

Baca Juga:

Kubu Novel Sebut Pledoi Tim Hukum Polri Giring Opini Penganiayaan Ringan

"Ya terdakwa sengaja menyiram dengan air keras. Meski tidak sengaja untuk merusak mata, tapi bisa diperkirakan atau dimungkinkan dapat merusak mata. Memperkirakan akibat itu bagian dari sengaja," kata Suparji kepada wartawan, Rabu (17/6).

Suparji juga membandingkan kasus Novel dengan kasus penyiraman cairan kimia lainnya yang tuntutan kepada terdakwa lebih berat. Sehingga, menjadi janggal ketika kedua terdakwa penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan hanya dituntut 1 tahun penjara.

"Kasus ini seharusnya juga tuntutannya berat," ujarnya.

Pengamat hukum pidana Universitas Al Azhar ini menilai bahwa pasal yang diterapkan jaksa penuntut umum (JPU) terhadap dua terdakwa tidak tepat.

Hal tersebut berkaitan dengan tuntutan yang merujuk pada pasal 353 KUHP ayat 2 tentang penganiayaan dengan perencanaan terlebih dahulu hingga menyebabkan luka berat.

"Berkaca pada insiden penyiraman, para terdakwa seharusnya dijerat dengan pasal yang lebih berat, yaitu pasal 355 KUHP tentang penganiayaan berat yang direncanakan," ungkapnya

Dokumen - Suasana sidang tuntutan kasus penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan dengan terdakwa Ronny Bugis dan Rahmat Kadir Mahulette yang disiarkan secara "live streaming" di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Jakarta, Kamis (11/6/2020). (ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI)
Dokumen - Suasana sidang tuntutan kasus penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan dengan terdakwa Ronny Bugis dan Rahmat Kadir Mahulette yang disiarkan secara "live streaming" di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Jakarta, Kamis (11/6/2020). (ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI)

Tetapi, dalam persidangan jaksa menyatakan, pasal penganiayaan berat tidak bisa digunakan. Alasannya, unsur kesengajaan tidak bisa dibuktikan di perkara penyiraman tersebut karena terdakwa tak berniat untuk merusak mata korban.

Padahal, merujuk pada tingkatan kesengajaan dalam hukum pidana, ada tiga kategori kesengajaan, yaitu, kesengajaan dengan maksud, kesengajaan dengan kepastian, dan kesengajaan dengan kemungkinan. Sehingga, tindakan para terdakwa masuk pada kategori kesengajaan dengan kemungkinan.

Dalam perencanaan menyiramkan cairan kimia ke Novel Baswedan, para pelaku sudah bisa memprediksi apa yang akan terjadi atau diakibatkan oleh "senjata" tersebut.

"Bahwa bisa diperkirakan jika air keras itu melukai bagian tubuh bisa membahayakan," ujar Suparji.

Selain tuntutan dianggap terlalu ringan, Suparji menegaskan bahwa tuntutan yang pantas dalam kasus ini adalah hukuman maksimal tujuh tahun penjara. Sebab, para terdakwa merupakan orang yang bekerja di institusi Polri dan mengerti hukum pidana.

Baca Juga:

Saking Kesalnya, Novel Baswedan Minta Penerornya Sekalian Saja Divonis Bebas

Kemudian, lantaran korban merupakan penyidik KPK dan berasal dari Polri, seharusnya penyerangan itu tak terjadi. Meskipun kedua terdakwa beralasan untuk memberikan pelajaran karena Novel Baswedan dianggap sebagai pengkhianat.

"Mengingat terdakwa orang yang tahu hukum karena aparat penegak hukum, seharusnya tidak melawan hukum," kata Suparji.

Suparji menjelaskan bahwa tim investigasi yang dibentuk pemerintah waktu itu juga salah satu kesimpulannya adalah Novel disiram dengan air keras dan ada campur tangan elit politik.

"Karena menangani kasus high profile yang tentunya tidak sepi dari peran elite politik," ujarnya.

Bahkan, Suparji berpendapat dramatisasi dalam kasus Novel Baswedan tidak akan berhenti sampai di sini saja dan bakal terus berlanjut.

"Ceritanya panjang, 3 tahunan dan pelakunya (aktor intelektualnya) belum terungkap sehingga masih menyisakan drama lagi," jelasnya. (Knu)

Baca Juga:

Peradilan Novel Cuma Sandiwara, Pengamat Minta Dua Terdakwa Dibebaskan

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Sandiaga Uno Antara Bangun Kementerian dan Cari Panggung Politik
Indonesia
Sandiaga Uno Antara Bangun Kementerian dan Cari Panggung Politik

Masuknya Sandiaga Uno di kursi kabinet menuai reaksi dari berbagai kalangan.

Petinggi KAMI Kumpulkan Uang Rp500 Ribu untuk Danai Pendemo UU Ciptaker
Indonesia
Petinggi KAMI Kumpulkan Uang Rp500 Ribu untuk Danai Pendemo UU Ciptaker

“Jadi tadi dari WAG grup tadi, tadi dia mengumpulkan uang untuk menyuplai logistik. Itu sudah, baru terkumpul Rp 500 ribu,” kata Argo

Puncak Musim Kemarau Diperkirakan Masih akan Terjadi pada Agustus-September
Indonesia
Puncak Musim Kemarau Diperkirakan Masih akan Terjadi pada Agustus-September

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan puncak kemarau masih akan terjadi antara Agustus hingga September 2020.

Ahok Klaim Saran dan Kritiknya Diterima Erick Thohir
Indonesia
Ahok Klaim Saran dan Kritiknya Diterima Erick Thohir

“Tadi habis bertemu Menteri BUMN. Kritik dan saran yang saya sampaikan, diterima dengan baik oleh Pak Erick,” ujar Ahok

Respons Kubu Moeldoko Terkait Gugatan Kubu AHY
Indonesia
Respons Kubu Moeldoko Terkait Gugatan Kubu AHY

Kubu Moeldoko merespons santai gugatan yang dilayangkan DPP Partai Demokrat pimpinan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) terkait Kongres Luar Biasa (KLB) di Seli Serdang.

Istana Desak DPR Muluskan Jalan Komjen Listyo Jadi Kapolri
Indonesia
Istana Desak DPR Muluskan Jalan Komjen Listyo Jadi Kapolri

Istana berharap proses calon Kapolri di DPR bisa lebih cepat dari 20 hari.

Kondisi Terkini Gunung Semeru Usai Erupsi
Indonesia
Kondisi Terkini Gunung Semeru Usai Erupsi

"Kawasan lereng Gunung Semeru sudah nampak melandai," ucap Kepala Seksi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur (Jatim), Satriyo Nur Seno.

Kubu AHY Pertanyakan Klaim Moeldoko Soal Pergeseran Ideologi Demokrat
Indonesia
Kubu AHY Pertanyakan Klaim Moeldoko Soal Pergeseran Ideologi Demokrat

Selama 10 tahun menjadi Presiden, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) telah berhasil menempatkan Partai Demokrat sebagai the ruling party

Penjemputan Rizieq Shihab Rusak Fasiltas Bandara, Panitia Diminta Tanggung Jawab
Indonesia
Penjemputan Rizieq Shihab Rusak Fasiltas Bandara, Panitia Diminta Tanggung Jawab

Panitia penjemput harus bertanggung jawab memperbaiki segala kerusakan fasilitas umum di Bandara.

Proses Hukum Jalan Terus, Ahok Tolak Maafkan Dua Pelaku Penghina Keluarganya
Indonesia
Proses Hukum Jalan Terus, Ahok Tolak Maafkan Dua Pelaku Penghina Keluarganya

Polisi malah telah masuk ke tahap menyusun berkas kasus ini agar segera bisa dikirim ke pihak kejaksaan.