Jaga NKRI, Elite Politik Jangan Mobilisasi Isu Etnik dan Agama Guru Besar Fakultas Psikologi UI Prof Hamdi Muluk. (Foto Ist)

Kondisi sosial masyarakat di Indonesia selama bulan Ramadan aman dan damai. Kondisi ini harus dipertahankan setelah Ramadan ini, bahkan kalau bisa ditingkatkan, terutama dalam menghadapi ancaman radikalisme dan terorisme yang mengatasnamakan agama.

"Hanya itu yang bisa menjaga keberagaman suku dan agama di Indonesia. Masyarakat kita tergolong masyarakat yang patrimonial itu yang tergantung pada patrolnya. Semakin banyak tokoh masyarakat yang mengirim pesan perdamaian akan berdampak pada masyarakat di bawah," ungkap Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia (UI) Prof. Dr. Hamdi Muluk, MSi di Jakarta, Kamis (15/6).

Ia memaparkan, saat ini di Timur Tengah, sudah terjadi perang saudara yang dipicu karena etnis dan agama, penyesatan dari paham-paham transnasional yang tidak mendasar, seperti ingin membuat negara khilafah islamiyah. Itu jelas menjadi ancaman bagi Indonesia yang selama ini sangat menjunjung tinggi perbedaan dan toleransi antar umat beragama.

"Kita hidup rukun selama 70 tahunan lebih. Kekuatan kita Pancasila dan persatuan dan kesatuan. Ini harus menjadi kesadaran bersama. Apabila ada yang mengganggu, kita harus saling mengingatkan, dan orang yang mengganggu itu harus kita bawa ke jalur hukum karena mereka telah merusak ketentraman hidup bersama," terang Hamdi.

Menurutnya, potensi konflik berbasis etnis dan agama di Indonesia akan selalu ada. Memang Indonesia punya sejarah tentang kerukunan umat beragama di yang meluas, tetapi Indonesia juga punya sejarah tentang konflik di beberapa tempat, seperti Poso, Ambon dan Kalimantan.

"Pendewasaan berpolitik sangat perlu. Elite politik jangan memobilisasi isu-isu etnik dan agama untuk kepentingan mereka. Kita punya pancasila sebagai perekat umat beragama dan etnik di Indonesia. Itu saja kita pegang dan perkuat. Insya Allah NKRI tetap kuat," tegasnya.


Tags Artikel Ini

Luhung Sapto

LAINNYA DARI MERAH PUTIH