Jadi Negara Maju, Ekspor Tekstil AS-Indonesia Diprediksi Tak Terpengaruh Representative Indonesia Cotton Council International (CCI) Anh Dung atau Andy, Selasa (25/2). (MP/Ismail)

MerahPutih.Com - Representative Indonesia Cotton Council International (CCI) Anh Dung, panggilan akrabnya Andy menegaskan perubahan status Indonesia dari negara berkembang ke negara maju oleh Amerika Serikat (AS) tidak mempengaruhi bidang tekstil kedua negara.

Negosiasi Jakarta dan Washington memegang penting dalam memperlancar ekapor dan impor produk tekstil kedua negara.

Baca Juga:

Dicoret AS dari Daftar Negara Berkembang, Kadin Minta Pemerintah Negosiasi Bea Masuk

"Selama ini antara Indonesia dan Amerika tidak ada problem. Amerika mau terima banyak barang dari Indonesia. Dan Indonesia mau beli banyak US Cotton dari Amerika no problem (tidak masalah)," ujar Andy usai seminar Indonesia Cotton Council International (CCI) di Alila Hotel di Solo, Jawa Tengah, Selasa (25/2).

Indonesia dicoret AS dari negara berkembang eskpor tekstil diprediksi aman
Seminar Indonesia Cotton Council International (CCI) di Alila Hotel di Solo, Jawa Tengah, Selasa (25/2). (MP/Ismail

Andy mengatakan hubungan bilateral antara Indonesia dan Amerika Serikat sejauh ini berjalan lancar terutama di bidang cotton dan tekstil industri. Indonesia tetap bisa menikmati berbagai fasilitas ekspor seperti yang disediakan ketika masih berstatus negara berkembang.

"Saya tegaskan semua bisnis bisa dilakulan negosiasi antara Jakarta dan Washington. Saya bantu anda, sebaliknya anda juga bantu saya. Kerja bisnis seperti itu," kata dia.

Presiden Jokowi, kata dia, terus mendorong ekspor garmen dari Indonesia ke Amerika. Saat ini, Amerika kondisi ekonominya sangat baik sekali dan banyak orang kaya dan mampu membeli barang produk Indonesia.

"Suport yang luar biasa oleh Presiden Jokowi diyakini akan membuat pertumbuhan tektil di Indonesia terus berkembang," ujarnya.

Baca Juga:

Ketua Kadin Sambut Baik Paket Kebijakan Ekonomi Jilid VIII

Menurut Andy, saat ini sudah semakin banyak industri tekstil tanah air yang menggunakan kapas produk AS, utamanya yang berskala besar dan berorientasi ekspor. Ini dikarenakan mereka paham akan kualitasnya yang lebih tinggi bila dibandingkan kapas dari Brasil, Afrika, India, Cina, dan Pakistan.

"Ada sekitar 50 perusahaan garmen yang sudah menggunakan kapas produk AS.Setiap tahun nilai impor kapas AS ke Indonesia mencapai 400-500 juta US Dolar," pungkasnya.(*)

Berita ini ditulis berdasarkan laporan Ismail, reporter dan kontributor merahputih.com untuk wilayah Jawa Tengah.

Baca Juga:

BKPM: Pemerintah Perkuat Sektor Tekstil



Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH