ITS Kantongi Hak Paten Atas Temuan Alat Pemurni Biogas Alat pemurni biogas otomatis mengusung Teori Kelarutan Gas (Humas ITS)

MerahPutih.com - Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) memperoleh hak paten dari pengembangan Sistem Pemurnian Biogas Otomatis dengan Teori Kelarutan Gas oleh Air, Arief Abdurrakhman ST MT bersama kelima mahasiswa Teknik Instrumentasi.

Hak paten tersebut diperoleh dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DTKI) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkum HAM) RI.

Baca Juga

Novel Singgung Nama Tito Karnavian di Sidang Teror Air Keras

Arief mengatakan, diciptakannya produk ini berdasarkan keprihatinan bersama melihat pemanfaatan potensi sumber daya alam, utamanya untuk energi terbarukan.

Dari data yang dilansir pada situs resmi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), pemerintah berkomitmen dalam merealisasikan penyediaan listrik sebesar 35 ribu Megawatt (MW). Sejumlah 25 persen dari target tersebut diupayakan berasal dari energi terbarukan.

“Potensi sumber daya alam Indonesia sungguh luar biasa, namun baru 15 persen saja yang terpenuhi menjadi energi terbarukan,” tandas Arief di Surabaya, Jumat (26/6).

Dengan demikian, Kepala Subdirektorat Pengembangan Kewirausahaan dan Karir ITS berupaya mengoptimalkan pemanfaatan biogas menjadi sumber energi terbarukan. Dari analisa timnya menunjukkan bahwa wilayah Jawa Timur meliputi Malang, Pasuruan, dan kota lain yang berfokus pada sektor peternakan masih belum memanfaatkan limbah kotoran sapi sebagai bahan baku primer biogas secara maksimal.

“Padahal dari sekitar 20.000 reaktor biogas yang ada di Indonesia, sekitar 7.000 - 8.000 di antaranya ada di wilayah Jawa Timur,” imbuhnya.

Alat pemurni biogas otomatis mengusung Teori Kelarutan Gas (Humas ITS)

Menurut Arief, biogas langsung dikeluarkan dari reaktor ke alam bebas bisa menimbulkan bahaya. Hal ini diakibatkan tidak dari metana saja yang ada dalam kandungan biogas, namun ada kandungan pengotornya.

“Halnya hidrogen sulfida dan karbondioksida yang berpengaruh pada efek rumah kaca dan menjadi sebab timbulnya pemanasan global,” ungkapnya.

Reaktor biogas yang belum dibekali alat pemurnian, kandungan pengotornya mampu mencapai 40 - 50 persen. Akibatnya, surplus biogas yang dihasilkan industri rumah tangga ini tidak bisa langsung dimanfaatkan masyarakat.

"Hal ini karena biogas mengandung pengotor tinggi yang langsung dialirkan ke genset dan menimbulkan kerusakan pada mesin generator,” terangnya.

Untuk itu, pihaknya menggunakan sistem pemurnian biogas yang mengandalkan bahan-bahan yang mudah didapat. Sebab sistem pemurnian biogas banyak dijumpai di luar negeri berskala industri.

“Kali ini kita ciptakan oemurnian biogas untuk membantu para peternak sapi agar mengkonversi biogas dari kotoran sapi menjadi energi listrik,” paparnya.

Baca Juga

Novel Baswedan: Tidak Perlu Merekayasa Fakta, Lebih Baik Terdakwa Dibebaskan

Komposisi biogas yang dihasilkan bisa mengandung 80 - 90 persen metana. Semakin banyak kandungan metana dalam biogas, maka semakin layak dialirkan ke genset sebab tidak banyak polutan di dalamnya.

“Sebab itu, di ruang pembakaran pada genset akan lebih banyak memanfaatkan suplai metana,” jelasnya.

Tantangan dalam riset kali ini terletak pada pengujian di pabrik reaktor biogas yang perlu sistem perkabelan yang bagus agar mobilitasnya maksimal. (Andika)


Tags Artikel Ini

Angga Yudha Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH