Istana Tutup Pintu Dialog, FPI: Mau Kembali ke Era Otoriter? Massa Front Pembela Islam (FPI) dalam sebuah aksi di Jakarta (Foto: screenshot NETTV)

MerahPutih.com - Juru bicara Front Pembela Islam (FPI) Slamet Ma'arif berharap pemerintah mau membuka pintu dialog. Slamet mendoakan hati Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko terketuk, sehingga mau menggelar dialog terbuka dengan FPI.

"Mari doakan saja, semoga terbuka hatinya dan dapat hidayah," kata Slamet saat dihubungi wartawam, Rabu (7/8).

Baca Juga: SKT Dipersulit, FPI Tuding Presiden Jokowi Sengaja Pelan-Pelan Hancurkan Organisasinya

Ketua PA 212 Slamet Ma'arif bersama kuasa hukumnya saat mendatangi Mapolresta Solo (MP/Ismail)
Juru bicara Front Pembela Islam (FPI) Slamet Ma'arif bersama kuasa hukumnya saat mendatangi Mapolresta Solo (MP/Ismail)

FPI diketahui ingin berdialog dengan pemerintah membahas ideologi Pancasila lantaran hingga saat ini pemerintah belum menerbitkan Surat Keterangan Terdaftar (SKT) organisasi massa FPI.

Di sisi lain, pemerintah menimbang-nimbang memberikan SKT karena muncul konsep Khilafah Nubuwwah dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) FPI.

Baca Juga: Ini Penyebab Kemendagri Tidak Keluarkan SKT Ormas FPI

Keinginan dialog FPI tersebut telah direspons pemerintah melalui Moeldoko. Mantan Panglima TNI itu menegaskan pemerintah menutup pintu dialog dengan ormas besutan Rizieq Shihab itu.

Slamet mengaku heran dengan sikap pemerintah yang menolak dialog. Menurut dia, di era demokrasi jalur dialog ialah suatu hal yang diharuskan.

"Hari gini, di zaman keterbukaan, kok tutup pintu dialog, mau kembali ke orde otoriter? Makanya dialog, dong," tegas Slamet.

Baca Juga: Ada Aroma Politik di Perpanjangan Izin Ormas FPI

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko. (ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi)
Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko. (ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi)

Menurut Slamet dialog akan membuka pandangan pemerintah terhadap konsep Khilafah Nubuwwah. FPI akan menjelaskan bahwa konsep tersebut tidak bertentangan dengan ideologi negara Pancasila.

"Biar paham itu, bertentangan dengan Pancasila atau tidak. Jangan baca judulnya saja, tetapi baca isi bukunya baru ambil kesimpulan, itu namanya cerdas," tandasnya. (Pon)

Kredit : ponco


Andika Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH